DUIT BIBIT
Oleh: Zid-li Auliyana Luthfillah
Covid-19 melanda, hampir seluruh karyawan di PHK, termasuk Galang dan Arya yang termasuk dari bagian PHK karyawan. Kebutuhan sehari-hari meningkat tak sebanding dengan pemasukan. Bingung tak tahu arah kemana, lock down diterapkan, aktivitas terbatas. Stress melanda, kegiatan terbatas pada petak kecil, kini hanya rumah mungil ini yang menemani. Hanya segenggam layar persegi panjang yang menemani kemanapun pergi, ya! Handphone.
“Eh, Arya, kau tengok ini!”, ucap Galang serius tampak senang sembari menampakkan layar handphone-nya kepada Arya.
“Ya sudah gas aja yuk! sampai kapan kita gini bang?”, jawab Arya langsung menyetujui.
Galang dan Arya meminta izin kepada orang tua untuk bekerja di sebuah tempat penjual bubur ayam. Sederhana saja, hanya penjual keliling dengan gerobak dorong. Menjanjikan gaji yang lumayan membuat Galang dan Arya tergiur harta. Orang tua mereka sempat ragu dengan permohonan izin tersebut, dengan berat hati setelah sekian kali bujukan, akhirnya orang tua Galang dan Arya mengizinkan juga.
Galang dan Arya bersiap-siap, mengemas barang-barang ke tas termasuk baju dan alat mandi. Setelah persetujuan dari orang tua dan pihak pemilik warung bubur ayam, mereka berangkat menggunakan sepeda motor. Penampilan sangat sederhana dan pastinya tak lupa bermasker karena keadaan pandemi. Hanya berbekal sebuah tas, uang secukupnya, dan modal nekat hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, separah itu keadaan pandemi Covid-19.
Setelah perjalanan jauh ke luar kota, Galang dan Arya berhenti di depan warung sederhana yang lumayan ramai pengunjung dengan ukuran keadaan pandemi yang terbatas aktivitas. Dengan sopan Galang dan Arya menemui pemilik warung, Pak Bontang, selayaknya bawahan kepada atasan.
Seminggu pertama, pembuatan bahan-bahan masih berada pada tangan pemilik warung bubur ayam, mereka memperhatikan dengan saksama proses pembuatan ketika diajari oleh Pak Bontang. Mulai dari pembuatan bubur, kuah, dan topping, serta pengemasan yang baik dan benar. Tugas Galang dan Arya hanya berjualan saja, berkeliling memasarkan dagangan bubur ayam.
Seminggu berlalu, mereka mulai memasak sendiri serta menjualnya. Efek pandemi membuat penjualan tidak seperti biasanya, konsumen menurun, pelanggan sebatas lalu lalang semata. namun setiap pindah lokasi pasti ada saja rezeki, pasti ada saja yang membeli.
“Enak ya bang gini doang dapet bisa dapet uang banyak”, syukur Arya kepada Galang tersenyum memandang sekitar.
“Iya, dek, Alhamdulillah”, ucap Galang.
Dua minggu berlalu, perjalanan bisnis masih sama. Sampai suatu ketika ada pembeli dan tidak ada kembalian uang kecil. Galang sibuk mencari, termasuk pada laci kecil gerobak yang tak pernah dijamah. Betapa kagetnya Galang ketika membuka laci tersebut, tumpukan uang merah dan biru berserakan di dalamnya. Galang menutup kembali dan memberikan uang kembalian kepada pembeli dengan uang pribadinya sementara.
Setelah pelanggan tersebut pergi, Galang membahas kembali perihal uang tersebut dengan Arya. Lantaran merasa janggal dengan hal tersebut. Memang benar penghasilan dari penjualan bubur ayam sangat menguntungkan dan tergolong banyak, namun ini hanya UMKM dengan gerobak keliling yang tidak masuk akal jika disandingkan dengan mengkalkulasikan uang yang segitu banyak. Mungkin ada sekitar dua puluh juta.
Tiga hari setelah kejadian tersebut, Arya tiba-tiba jatuh sakit sehingga hanya Galang yang berjualan berkeliling.
“Bang… tapi Arya mau ikut jualan”, rengek Arya kepada Galang.
“Jangan dek, istirahat dulu, kamu masih lemas banget itu”, ujar Galang khawatir.
Arya tetap merengek sampai ngotot dengan keadaan sakit tak berdaya tersebut. sampai akhirnya setelah perdebatan lama Arya mengucap dengan lirih, “Bang, Arya takut…”.
Mendengar suara Arya gemetaran, Galang sigap mendekati Arya, duduk disampingnya dan menatap sambil berucap, “Kenapa? kamu ada masalah?”.
“Bang… tolong Arya”, ucap Arya dilanjut meceritakan panjang lebar ketakutannya.
Selama tiga hari berturut turut, Arya selalu melihat manusia kerdil seperti tuyul berkeliaran lalu lalang di sekitar dapur. Part paling mengerikan ketika sisa bubur yang dibuang di WC kamar mandi di jilat makhluk tersebut, lidah panjangnya menjulur ke lubang WC, telinganya panjang seperti tanduk, sekitar mata hitam dan matanya melotot. Setelah melihat fenomena tersebut, Arya jatuh sakit saking shock-nya.
“Kamu istirahat aja ya disini, kamu tuh halusinasi karena masih demam tinggi”, Galang menenangkan suasana.
“Nggak, bang, beneran. Arya malah tambah sakit kalo disini lihat begituan”, rengek Arya.
Setelah sekian kali Arya memohon, Galang tetap tidak mengizinkan Arya ikut bersamanya berjualan, khawatir dengan kondisinya yang sedang tidak fit. Galang meninggalkan Arya, berpamitan baik-baik dan menyediakan sebungkus roti dan sebotol mineral untuk Arya.
Tujuh hari berjalan, sakit Arya tak kunjung sembuh dan justru bertambah parah. Demam semakin memuncak, hanya terbaring di kasur, bahkan suara pun tak terdengar, suara serak lirih yang berusaha menggapai keinginannya berbicara. Galang prihatin dengan kondisi Arya, ingin mengantarkan ke rumah sakit, untuk sementara waktu. Galang izin berjualan sehari agar bisa mendampingi Arya. Namun, Pak Bontang menolak mentah-mentah permintaan perizinan Galang. Beralasan bahwa pemasukan tidak ada jika tidak berjualan, bahkan rasa kemanusiaan Pak Bontang tak nampak sejak pertama kali mengetahui Arya sakit. Hanya menyediakan kamar untuk tempat tidur, selebihnya tak menggubris atau bahkan untuk sekedar mengecek kondisi kesehatan Arya.
Galang tetap bersikukuh untuk menemani Arya, menjaga hingga sembuh, bahkan rela dipotong gajinya karena tidak berjualan sehari. Pagi hingga siang sampai sore tiba Galang tetap setia berada di samping Arya, menjaganya jikalau Arya membutuhkan makanan atau bantuan lainnya. Seperti halnya menjaga orang sakit, Galang melakukannya dengan sepenuh hati. Malam tiba, Arya menampakkan tanda-tanda sesak napas, mulut terbuka berusaha bernapas, terengah-engah. Mata terbuka lebar, menghadap ke atas tanpa berkedip.
Galang yang panik tetap berusaha tenang, memberikan oksigen mini ke mulut Arya, berharap sesak Arya segera reda.Namun, kejadian tersebut tetap berjalan begitu saja hingga jam sembilan malam, puncaknya ketika kaki Arya mulai kaku dan wajahnya membiru. Tangannya kini mencengkram erat lehernya sendiri. Galang berusaha menahan tangannya, melepaskan cengkraman erat tersebut. Galang melapor kejadian tersebut ke Pak Bontang, berharap mendapat akses bantuan menuju rumah sakit.
Hal yang tak menyenangkan terucap dari mulut Pak Bontang, “Udah biarin aja, habis itu juga selesai”, ucap Pak Bontang tanpa rasa khawatir.
Galang paham betul maksud Pak Bontang, “selesai” disini yang dimaksud adalah matinya Arya tak lama lagi, lantas Pak Bontang berpikir “untuk apa terlalu effort kalau sebentar lagi juga meninggal?”. Galang tak menggubris Pak Bontang, sakit hatinya benar-benar kuat. Ia menggendong Arya berniat mengantar ke rumah sakit. Namun, badan Galang yang kekar itupun tak mampu menggotong Arya, padahal berat Arya lebih kecil dan tergolong kurus dibanding Galang yang kekar dan lumayan berisi. Entah mengapa badan Arya terasa sangat berat. Lima belas menit berlalu, Galang tetap tidak bisa menggotong Arya, keringat Galang bercucuran, gerah dan panas bercampur, capek sudah Galang namun ia tetap berusaha.
“Sudah dibilang apa, biarin aja, kamu juga nggak mampu kok”, ucap Pak Bontang tiba-tiba, mengagetkan dari balik pintu kamar.
Sontak Galang terdiam mendengar perkataan itu. Rasa kemanusiaan Pak Bontang hilang, tidak menganggap bahwa Arya juga manusia. Galang geram memandang sinis Pak Bontang. Tangannya mengepal keras, siap menghantam Pak Bontang. Namun, belum juga Galang memulai aksinya, sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
“AARRGHHHHH!!!”, teriakan Arya menggelar, membuat badan merinding.
Galang cepat-cepat menghampiri Arya, perlahan sekujur badan Arya mulai dingin. Arya menghembuskan napas terakhirnya. Galang hanya bisa meratapi Arya, menangis di sebelahnya, rasa kesal dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Rasa dendam kepada Pak Bontang tetap melekat di hati Galang.
Galang menelpon orang tuanya, mengabarkan duka mendalam. Orang tua Galang dan Arya merasa janggal, baru sebulan bekerja disana sudah meninggal. Terlebih Galang menceritakan respon Pak Bontang yang benar-benar tak menggubris ketika ambil cuti untuk merawat Arya. Orang tua mereka tak terima, meminta untuk mengotopsi jenazah Arya.
Hasil otopsi muncul, membuat keluarga mereka kaget luar biasa, hasilnya diluar logika. Banyak tamparan tangan mini berjari enam di punggung Arya, kakinya seperti digigit hewan buas, dan lehernya seperti diputar berkali-kali dengan tali tambang. Lapor ke polisi, namun tidak diusut sampai tuntas, polisi tidak menerima laporan jika tidak ada bukti. Tidak ada bukti nyata disini, semua berlandaskan cerita dan hal ghaib. Polisi tidak bisa melanjutkan jika tidak sesuai SOP, butuh bukti nyata tidak sekedar cerita.
Sesuai kesaksian warga sekitar, memang jika malam hari beberapa warga yang lewat rumah Pak Bontang menyaksikan makhluk yang dilihat Arya ketika di dapur dan kamar mandi dengan ciri-ciri sama persis yang disebutkan Arya. Rumornya, Pak Bontang melakukan pesugihan “DUIT BIBIT” yang mana cara kerja pesugihan tersebut akan memakan korban jika ada seseorang yang mengambil duit pemiliknya. Arya mengambil uang di laci gerobak bubur yang banyak tumpukan uang berserakan. Fungsi banyaknya uang yang diletakkan di laci tersebut memang untuk memancing agar orang tertarik dan mengambil uang tersebut. Dan benar saja, Arya terpancing dan menjadi korban pesugihan ini.
Pelaku yang mengambil uang tersebut akan ditandai makhluk kerdil tersebut untuk dijadikan tumbal. Bekas cekikan, pukulan, dan juga gigitan sesuai hasil otopsi yang keluar merupakan bagian upaya makhluk kerdil itu untuk mematikan korban dengan cara ghaib. Sekilas tampak dari luar korban sakit biasa dan tak kunjung sembuh, lambat laun semakin parah dan akhirnya meninggal. Namun, hal tersebut upaya makhluk kerdil menggerogoti tubuh korban.
Pak Bontang tahu bahwa Arya akan menjadi korban tumbal, oleh karena itu Pak Bontang tak menggubris sama sekali ocehan Galang. Semua perihal hal ghaib, sehingga tidak ada tindak lanjut dari pihak berwajib karena tidak ada bukti nyata bahwa Pak Bontang melakukan hal tersebut. Dengan terpaksa, keluarga mereka mengikhlaskan kejadian ini.







