Gradasi Warna Senja
Oleh: Nabila ika Hikmatul Farochah
Sore hari, di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur Viyola, Naura, dan Friesa sedang menikmati langit senja di balkon kamarnya. Mereka duduk melingkar dengan camilan keripik dan ditemani semilir angin sepoi yang memanjakan wajah. Seperti biasa, Naura selalu menyunggingkan senyum indahnya kala menatap langit senja di ujung barat. Viyola yang berada disamping naura pun berkata, “hemm, mulaii mulaii de senyum-senyum gajelas.”. Naura menjawab, “hehehe, apaan si vi.”. Fiersa pun menimpali, “emang kenapa si ra?”. Viyola menambahkan perkataan fiersa, “iyaa, kenapa harus sunset sii?”.Naura pun menjawab, “Aku punya alasan untuk itu.”. Fiersa bertanya tentang alasan naura, “nah, alasanmu apa?”. Viyola pun turut mendesak naura, “huh tinggal bilang apa aja lo, ayodong! ppake muter-muter segala.”. Naura pun menjawab, “hehe,jadiii…”. Viyola pun kesal karena naura tidak to the point, “nah kan, jadi apa?”. Naura pun mulai menceritakan alasannya, “tau ngga si gaiss, langit senja tu cantik banget.”. Dan dipotong oleh fiersa, “iyaa, cantik nya kenapa?”. Naura pun melanjutkan ceritanya, “ish bentar lah ni, jadi cantiknya tu dari warna nya kayak semburan-semburannya, pernah kebayang ngga si kalian kalo ngelukis warna langit tu kan pasti bikin semburannya tu kayak susah banget biar nyatu atau biar nge pas gitu. Nah semburan warna senja tu bener-bener perfect banget menurutku. menurutku senja itu sebuah gradasi indah milik sang pencipta.” Viyola pun terharu dengan alasan naura dan memujinya, “wih keren banget.”. Naura pun menjawab dengan nada bangganya, “Iyaa dong, liat langit senja tu kayak sebuah kebahagiaan sendiri buat aku.”
Mereka cerita bagaimana senja membuat mereka bahagia, bahkan tak jarang diantara mereka tertawa keras mendengar alasan menyukai senja yang tidak masuk akal dari mulut temannya. Sampai akhirnya mereka menyadari bahwa senja yang mereka ceritakan itu perlahan pergi. Langit yang semula terang dan indah perlahan menghitam dan putih. Semilir angin sepoi pun berganti menjadi angin ribut yang tak terkendali.
Friesa yang penasaran dengan tanggapan naura mengenai senja pun mempertanyakan hal itu kepada naura, “terus kamu pernah mikir ngga nau, kalo ada suatu masa yang mana saat itu kamu gaakan bisa liat senja?”. Naura pun menjawab, “eumm, iya si kadang aku kayak mikir gimana kalo aku gabisa liat senja lagi.”
Percakapan ini pun tiiba-tiba muncul cahaya silau merah mengkilau, suara guntur yang keras pun menyusul bersama rintikan hujan yang keras dan derasnya. Santri-santri pun berlarian kesana kemari merasa panik atas kejadian apa yang baru saja terjadi. Suasana sore yang renyah pun menghilang tergantikan dengan suara suara berisik yang mengisi. “ehh jemuranku tolong”, “aaa takut banget liat nya” “misi misi awasss” keadaan menjadi riuh dengan santri yang berlalu lalang di sepanjang balkon, tak terkecuali Naura, Viyola, dan Friesa yang ikut berdiri dan bersiap masuk kedalam kamar mereka. Friesa pun memandu teman-temannya untuk masuk ke kamar, “ayo ayo pindah ke dalam kamar yuk.”, Naura pun mengikuti friesa sambil menggumam kesal, “duh kesel banget, enak-enak lagi libur ngaji bisa liat indahnya sunset, eh harus ada hujan lagi.” Viyola pun segera melerai naura agar tidak kesal “udalah ra, terima aja.” friesa pun ikut berjalan pindah sambil meneriakkan “Yok yok pindah pindah.”
Naura, Viyola, dan Friesa pun masuk kamar mereka yang kemudian disambut dengan pertanyaan bitha, “loh kak kok uda masuk aja.” friesa menjawab “ujan noh” lanjut bitha dengan nada sedih “yah gabisa liat senja dong” viyola yang mendengar bitha berkata demikian pun bertanya sambil keheranan “lah kamu suka senja juga bit?, bitha pun menjawab dengan nada cengurnya “engga si kak, cuma godain kak naura aja.” jawab bita dengan senyum nyengirnya. Naura pun menjawab dengan kesal pasalnya bitha … nya “halah halah awas kamu bit” sambil menunjukkan raut kesalnya. Friesa pun berusaha melerai mereka dan berkata “eh ra, gimana tadi kalo gabisa liat senja?” Bitha pun mengikuti friesa “iya kak, kayak sekarang ni kakak sedih ngga?”. Naura menjawab “eumm, emang aku sering berpikir gitu si kayak aku kan suka senja nih karena suka gradasi warna warna nya. sedangkan senja bukan tentang yang cerah-cerah aja. kadang gradasi nya cerah, terang, perpaduan warna warni cerah yang indah, tapi kadang juga hitam, gelap dan mencekam. Aku kayak bertanya tanya kenapa ada warna gelap di senja, kenapa kadang ada guntur di langit yang indah itu. Seringkali aku sedih melihat langit abu-abu senja yang tak seindah biasanya, ngga sekali dua kali juga aku kecewa melihat langit senja yang tidak memunculkan keindahan warna cerah nya.”
Naura bercerita dengan nada sedih, dia bahkan menunduk demi menyembunyikan raut wajah sedihnya dari teman-temannya. Viyola yang memahami kesedihan naura pun berusaha menenangkan nya “Gapapa ra, jangan sedih gitu dong. Tau ngga si dari ceritamu tu ada hubungannya dengan kehidupan kita tau. Selayaknya senja yang kadang cerah kadang gelap, kehidupan pun kayak gitu, kadang banyak senang nya, bahagia nya, tapi kadang juga sedih terus, susah terus, tapi mau itu bahagia, senang, susah, sedih, itu semua bagian dari kehidupan. Warna warni dari langit ada cerah nya, ada gelap nya, ada guntur nya, apapun itu yang kamu suka atau ngga, mereka semua bagian dari senja yang kamu sukai, bagian dari langit dengan sejuta hal yang tidak pernah kamu bayangkan.” Naura membalas viyola “tapi vii, kenapa harus gitu? kenapa harus ada gelapnya? kenapa ga cerah terus?” Naura melanjutkan ucapannya “kalo emang senja cerah itu indah, kenapa ga cerah aja terus? kenapa ada yang gelap?” Bitha pun ikut menyahuti “iya kak, kenapa hidup mesti ada sedih nya, ada susah nya, kenapa ga senang terus? bahagia terus?”. Sebagai teman yang bijak, Viyola pun menjawab peetanyaan-pertanyaan temannya, “ada cerah dan gelap itu warna warni tuhan, cara tuhan untuk memberi kita sebuah ruang untuk merenung, memikirkan, menghayati apa yang sedang terjadi pada langit senja yang kamu sukai itu. tuhan mengajarkan ke kita bagaimana caranya menghargai perbedaan, menerima keadaan, mensyukuri apa yang harus disyukuri. Pernah ngga si ra kamu mikir seandainya senja tu isinya warna cerah-cerah doang, isinya warna biru, ungu, merah muda, oren, seandainya isinya warna warna kayak gitu terus hujannya ditaro dimana?”. Naura menyela dengan pertanyaan polosnya, “kan hujannya bisa pas malam atau pagi gitu, ngga pas sore.”. Viyola pun menanggapinya dengan bijak, “ terus kalo mau hujan nya sore gimana?”. Naura pun menjawabnya dengan nada pasrah, “eumm gatau de”. Viyola pun tertawa, lalu melanjutkan perkataannya, “nah gatau kan, namanya hujan ya sejatinya berhubungan dengan hal yang gelap. Kan hujan tu dari kumpulan awan, awan yang warna putih cerah berkumpul membentuk awan yang gelap.”
“Jadi kesimpulannya warna-warna gelap nya langit muncul dari gabungan dari warna-warna yang cerah, kalo disambungin dengan kehidupan nih berarti setiap ada kebahagiaan di hidup kita, pasti akan selalu ada ketidak bahagiaan atau kesusahan sebagai bumbu-bumbunya. Dari warna warni langit ini harusnya bisa menjadikan kamu lebih menerima kehidupanmu.”, lanjut viyola. Naura, Bitha, dan Friesa mendengarkan Viyola yang bercerita dengan antusias mengenai hubungan warna warni langit dengan kehidupan mereka. Lalu Friesa pun menambahkan cerita menarik tentang hidupnya.
Mendengar nasihat viyola, friesa pun turut berbicara, “mau tau cerita hidupku ngga ra?”. Lalu naura menjawab, “boleh sa, yuk yuk crita.” Friesa pun memulai ceritanya dengan beberapa pertanyaan, “tau ngga ra, waktu aku masih kelas 8 smp aku pernah mengalami hal yang menurutku menyedihkan banget, eh lebih tepat nya mengecewakan sii.” Naura pun penasaran dan bertanya, “gimana sa?” Friesa pun melanjutkan sambil menyakan …., “jadi dulu waktu kelas 8 smp aku kan pernah ikut lomba si, yang lomba maarif tuh, tau ngga?” .Naura pun mengangguk sambil menjawab, “oo iya iya tau.” Friesa pun meneruskan ceritanya, “Nah, pas lomba maarif kelas 8 smp tu aku kayak mengusahakan banget, kayak belajar terus, dan lain-lain. Bahkan aku merasa uda nguasain banyak soal saat itu. Nah karena setiap lombanya maarif tu aku menang terus hampir gapernah ngga menang atau bahkan ngga masuk final aja gapernah, jadinya otomatis aku kayak uda positif thinking banget kan kalo aku bakal menang, apalagi kan aku merasa kayak uda belajar keras uda nguasain semua materi. eh kok pas hari itu materi yang kupelajarin tu gada yang muncul samsek, otak ku auto ngelag gabisa mikir bahkan sekedar 1+1 aja lupa. Dari habis ngerjain otomatis aku uda negative thinking kan, kayak gimana ya gimana. Sampe akhirnya demi nunggu pengumuman sore hari aku gabalik ke pondok gais, aku nunggu di musolla yayasan sampe sore itu juga. Tepat jam 15.00 pas langit tu mendung bangett dan lansung gradak-gradak hujan deress banget. Dari ujan itu perasaanku uda gaena banget, grub tim lomba pun kayak uda rame banget nunggu pengumuman. Tiba-tiba, duarr guru ku ngechat pribadi ke aku kalo aku ga lolos final. Mendengar itu aku kyk auto nangis kejer sumpah, ga pandang tempat meski disana banyak orang, tapi kayak sakit banget gituu, kayak abis dari ketinggian terus dijatuhkan sejatuh-jatuhnya. Sampe akhirnya malam harinya aku pulang gara-gara sakit. Aku sakit demam berhari-hari, aku selalu merasa kalo takdir ngga adil buat aku. Aku ngerasa kayak ‘kenapa harus ada kekalahan si, kenapa gabisa masuk final’. Tidak lama dari itu aku dinyatakan lolos pembinaan osk, aku pun bisa lomba mqk mewakili pondok. Rasanya kayak tidak mungkin aku bisa mewakilin pondok, saat itu kayak aku yang bukan dari madrasah. Dari kekecewaan yang sebelumnya aku alamin, aku jadi kayak ‘oh mungkin ini chapter selanjutnya, mungkin kalo kemarin aku masuk final, aku gabisa ikut lomba ini, mungkin kalo kemarin masuk final, aku ga dapet euforia se hebat ini.” Naura menghela nafas, sambil melanjutkan ceritanya, “Jadi warna warni langit yang telah tuhan ciptakan untuk kita tu semuanya berarti, semua bagian dari warna warni itu berperan masing-masing dalam menyusun cerita hidup kita, menyusun novel terindah dengan sutradara sang pencipta. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menyesali semua yang terjadi pada hidup kita. ”
Naura mendengar cerita friesa sambil menangis terharu, dia merasa sedih karena belum menerima kehidupannya sendiri, “Aku terharu banget denger ceritamu sa, tapi kenapa aku gabisa menerima hidup aku sendiri kayak kamu? kenapa aku ngerasa hidupku kayak semenyedihkan itu buat diterima?”. Friesa pun mencoba menenangkan naura sambil berkata, “Gapapa ra, ngga semua harus cepat, yang penting kamu bisa memaknai bagaimana kehidupanmu. Aku tahu kalo kehidupanmu ngga mudah, mungkin beberapa bagian dari hidupmu kamu tidak menyukainya. Tapi kamu harus selalu percaya kalo ngga selamanya kamu merasa tidak bahagia kan? ada banyak chapter bahagia yang mungkin belum waktunya, belum saatnya. Semangat raa, kami bersama mu!”
Friesa pun memeluk naura dan diikuti teman-teman nya, bahkan anak-anak kamar yang tadinya sibuk dengan urusan mereka pun ikut gabung memeluk naura. Suasana sore hari itu berakhir haru. Suara hujan pun mengalun merdu mengiringi suasana haru itu. Disela-sela waktu itu naura pun mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya, “Makasih teman-teman, aku sayang kalian. Bertemu kalian adalah bagian terindah dalam cerita hidupku.”
Sejak sore itu, naura selalu mengagumi bagian-bagian dari cerita hidupnya, bahkan dia menjadi seorang yang dapat memotivasi teman-teman kamarnya.”







