Monolog anak bangsa

Oleh: Aas Siti Aisah

Hidup hanya sekali,
Malah terlahir di negeri yang dijajah sistem sendiri.
Satu nyawa, satu kesempatan,
Malah dipimpin makhluk-makhluk yang menjual nurani demi tahta dan jabatan.

Kekejian nyata di depan mata,
Kemiskinan merajalela,
Luka menganga di mana-mana,
Sementara kalian berpesta di meja kuasa.

Negeri macam apa yang kami tempati?
Siapa yang tersisa untuk kami percayai?
Ke mana janji-janji yang pernah kalian taburkan?
Ke mana visi-misi yang dulu kalian gembar-gemborkan?

Wahai wakil rakyat yang lupa diri,
Sebenarnya apa yang kalian takuti?
Benarkah hanya turun tahta dan hilang kuasa?
Bagaimana dengan dosa-dosa yang menumpuk setiap masa?

Kami tak meminta singgasana,
Hanya pendidikan yang merata,
Kesehatan yang setara,
Dan kehidupan yang layak bagi semua.

Kami bukan lagi generasi yang bungkam,
Bukan pula penonton yang diam di persimpangan.
Kami bersuara, menulis, dan berkarya,

Melawan kebiadaban demi Indonesia sejahtera.

Untuk Ibu Pertiwi yang terus terluka,
Kami tetap berdiri meski diterpa nestapa.
Kami tetap berharap, kami tetap berdoa,
Suatu hari engkau benar-benar merdeka.
Bukan sekadar di atas kertas semata,
Melainkan di napas setiap jiwa yang cinta tanah airnya.

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp