Oleh: Muhammad Habib An-Nizami Tanjung
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan para pemimpin di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)
Tulisan ini sengaja dimulai dengan mengutip kalam Allah tersebut. Bukan untuk
membungkam kritik atau menuntut kepatuhan buta terhadap agama, melainkan sebagai
pengingat. Ayat ini adalah jangkar spiritual di tengah gelombang informasi yang sering
mengombang-ambingkan kita. Di era digital yang serba cepat ini, ada kecenderungan
untuk menumpahkan semua kekecewaan kepada satu sosok: presiden.
Menyalahkan Presiden untuk Segala Hal?
Fenomena yang kita lihat hari ini begitu jelas. Setiap kebijakan yang terasa
memberatkan seolah menjadi justifikasi bagi jari-jemari untuk mengetik cacian dan makian
di media sosial. Ketika harga beras naik, presiden disalahkan. Jalan rusak di daerah,
presiden yang dituding. Bahkan musibah alam pun sering dikaitkan dengan lemahnya
kepemimpinan. Media sosial memperparah keadaan ini. Narasi seperti "nyesal pilih
presiden A" atau "untung saya tidak pernah pilih B" terus didaur ulang, padahal pemilu
sudah lama usai. Ini menunjukkan ada luka politik yang belum sembuh, dan sayangnya
luka itu dipelihara.
Padahal, jika kita menepi sejenak dari riuh rendah sentimen politik, ajaran agama
kita—khususnya Islam—menawarkan perspektif yang meneduhkan. Islam mengajarkan
kita untuk menghormati pemimpin, selama mereka tidak memerintahkan kepada
kemaksiatan.
Bagaiamana Perspektif Islam?
Islam tidak melarang kritik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menegur
dengan bijak ketika ada yang keliru. Namun Islam juga menekankan kesabaran dan adab
dalam menyikapi pemimpin. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma, Rasulullah bersabda:
من كَرِه من أميرِهِ شيئا فليصْبِرْ عليهِ . فإنّه ليسَ أحدٌ من الناسِ خرج من السلطانِ شِبْرا ، فماتَ
عليهِ ، إلا ماتَ ميتةً جاهليةً
“Barang siapa yang tidak suka terhadap suatu hal dari pemimpinnya, maka
hendaknya ia bersabar. Karena tidak ada yang memberontak kepada penguasa satu
jengkal saja, kemudian ia mati, kecuali ia mati jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 7054, Muslim no.
1849)
Hadis ini bukanlah dalil untuk menjadi apatis. Sabar di sini bermakna menahan diri
dari tindakan destruktif dan perpecahan, seraya tetap membuka ruang untuk perbaikan.
Sebab, kritik yang membangun tentu berbeda dengan caci maki yang membabi buta.
Batasannya pun jelas, sebagaimana dalam sabda Rasulullah lainnya:
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci
selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat,
maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (HR. Bukhari no. 7144)
Dengan kata lain, ruang kritik tetap ada, tetapi bukan kritik yang membabi buta
apalagi berubah jadi caci maki.
Doa sebagai Senjata Orang Beriman
Ustadz Adi Hidayat dalam ceramahnya pernah menyampaikan bahwa mendoakan
pemimpin adalah tradisi para ulama dan orang-orang saleh terdahulu. Doa adalah bentuk
kepedulian. Jika pemimpin mendapat hidayah, seluruh rakyat akan merasakan
manfaatnya. Sayangnya, doa kini digantikan dengan sumpah serapah di media sosial.
Padahal, yang diuntungkan dari doa itu bukan hanya presiden, tetapi seluruh bangsa.
Daripada menghabiskan energi untuk membenci, bukankah lebih bijak jika energi itu
dialihkan untuk mendoakan dan mengawal kepemimpinan dengan cara yang lebih
beradab? Seperti
Paradoks yang Tersebar di Ruang Publik
Menariknya, jika kita amati lebih jernih, banyak narasi sumbang yang beredar justru
lahir dari sebuah paradoks. Ada jurang yang menganga antara apa yang dituntut oleh
sebagian kalangan dengan realitas yang mereka komentari.
Sebagai contoh, kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Tiongkok beberapa
waktu lalu disambut dengan narasi "presiden kabur dari masalah". Padahal, lawatan
tersebut merupakan langkah diplomatik strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi
dan investasi, sebuah upaya yang justru diharapkan dapat mengatasi berbagai persoalan
domestik. Jadwal seorang kepala negara bukanlah perkara spontan yang bisa diatur
semudah membalik telapak tangan; ia dirancang jauh-jauh hari demi kepentingan nasional
yang lebih besar.
Lihat pula ironi lainnya. Sebagian pihak begitu lantang menuntut pemberantasan
korupsi hingga ke akarnya dengan cara apa pun. Namun, ketika pemerintah mengambil
langkah tegas dengan melibatkan TNI untuk mengawal aset negara atau mendampingi
jaksa dalam kasus-kasus besar, langkah tersebut justru dicap sebagai tindakan otoriter.
Mereka yang meminta obat paling pahit, justru mereka yang pertama kali
memuntahkannya.
Lebih jauh lagi,ketika sebuah capaian signifikan terungkap—misalnya, upaya
membongkar dugaan korupsi skala besar di sebuah BUMN atau keberhasilan menarik
investasi strategis yang membuka lapangan kerja—seringkali sorotan publik sengaja
digeser ke isu-isu lain yang lebih sensasional. Seolah ada sebuah orkestrasi agar setiap
kabar baik dari pemerintah tertutup kabut tebal isu remeh-temeh, sehingga yang tersisa di
benak publik hanyalah persepsi negatif. Kebencian, tampaknya, telah menjadi kacamata
permanen yang membuat sebagian orang sulit melihat warna lain selain hitam.
Kritik Boleh, Kebencian? Tidak Perlu
Tentu tidak ada pemerintahan yang sempurna. Presiden bukan malaikat. Kritik yang
membangun adalah vitamin bagi demokrasi. Namun kritik berbeda dengan kebencian.
Kritik membawa perbaikan, sedangkan kebencian hanya menambah luka. Pemilu sudah
selesai. Saatnya kita kembali sebagai satu bangsa.
Bayangkan seorang sopir baru menerima mobil tua yang mesinnya sudah sering
bermasalah. Radiator bocor, oli kering, dan suku cadang banyak yang aus. Ia mulai
memperbaiki satu per satu sambil tetap mengemudikan mobil. Namun para penumpang
terus mencaci, menyalahkan sopir atas setiap guncangan di jalan. Padahal kerusakan itu
sudah lama ada. Sopir hanya berusaha memperbaiki sambil tetap mengantarkan
penumpang ke tujuan.
Begitulah pemimpin. Ia sedang memperbaiki kerusakan lama, tetapi tetap disalahkan
oleh mereka yang tidak sabar.
Penutup: Mari Bijak dalam Menyikapi
Akhirnya, kita perlu kembali kepada pesan dasar Islam. Doa lebih mulia daripada
cacian. Kritik lebih berfaedah jika disampaikan dengan santun. Pemimpin adalah manusia,
bisa salah, bisa benar. Tetapi terus-menerus menumpahkan kebencian tidak membuat
bangsa ini maju.
Jika kita ingin negeri ini sejahtera, mari salurkan kritik dengan adab, iringi dengan
doa, dan hentikan kebiasaan mencaci. Sebab bangsa ini bukan hanya milik presiden,
tetapi milik kita semua.
Pondok Pesantren Darun Nun








