
Oleh Ahmad Fakhri Fauzan
Pada suatu hari ada seorang pemain golf professional yang sedang menjalani tuntutan hukuman atas tindakan ceroboh yang ia lakukan sehingga pemain professional tersebut akhirnya dipanggil ke pengadilan dan dijatuhi hukuman maksimal 8 tahun penjara.
Kemudian, masa-masa yang dijalaninya selama dipenjara tidak jauh berbeda denga napa yang dilakukan oleh narapidana yang lainnya. Rutinitas dan rutinitas yang dibarengi dengan tontonan gratis perkelahian antar napi atau terbawa guyonannya para napi tersebut. Tentu saja menikmati jatah makanan yang begitu sangat sederhana. Awal mulanya ia merasa sangat jenuh dan sangat jengkel karena berkumpul dengan para napi yang sifat kasarnya tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Selama ia dipenjara berbagai kejuaraan golf internasional yang tidak pernah bisa ia ikuti. Ia hanya bisa mengikuti dan menyaksikannya dari siaran televisi dipenjara. Dan ia sering juga menerima ejekan dari para napi yang tahu latar belang kehidupannya. Banyak pula komentator-komentator dan penyiar berita olahraga yang sering meragukan dirinya, apakah masih bisa bermain golf dengan baik jika ia sudah bebas dari penjara.
Hingga saatnya masa hukumannya sudah berakhir. Dia terlihat sedikit lebih tua daripada usia yang sesungguhnya. Kemudian tidak lama kemudian ia mengikuti kejuaraan golf pro di negaranya. Pada saat pemain ini diketahui mengikuti kejuaraan tersebut, ia banyak menerima ucapan dan kecapan yang meremehkan kemampuan dirinya. Namun ia tetap denga semangat melanjutkan rencananya.
Ketika ia berlomba di lapang atau padang golf, ternyata pukulan dan arah bolanya masih sangat menakjubkan. Tidak ubahnya sekitar 8 hingga 10 tahun yang lalu. Ia bisa lagi menunjukkan kelasnya didunia bahwa ia masih menjadi pemain golf professional. Hebatnya lagi ia menjuarai kejuaraan pro tersebut.
Kemudian pada saat ia melangkah pulang menuju mobilnya, seketika para wartawan mengerubutinya karena rasa penasaran yang tinggi, apa resep yang dipakainya sehingga ia masih bisa pandai bermain golf setelah sekian lama behenti total. Bukankah dipenjara tidak disediakan padang golf, pikir para wartawan dengan sangat bingungnya.
Lalu ia menceritakanlah sebuah kisahnya:
Setiap hari, sebelum saya tidur, saya selalu membayangkan dalam imajinasi saya bahwa saya sedang bermain golf seperti biasanya. Saya selalu juga membayangkan bagaimana saya memukul bola golf dengan baik, saya rasakan tangkai pemukul itu dalam telapak tanganku. Tidak lupa juga saya rasakan benar- benar bau rerumputan dan angin serta pohon-pohon yang biasa saya rasakan sebelumnya.
Saya juga sering membayangkan orang yang biasa menonton pada saat saya bertanding, saya benar-benar juga membayangkan bahwa saya seperti sedang bermain golf secara nyata. Ketika saya sudah merasa cukup, maka lalu itulah saya memutuskan untuk tidur. Begitu seterusnya yang saya lakukan pada setiap harinya, setiap saat, selama 8 tahun saya berada dipenjara yang kamarnya sangat pengap. Bahkan Ketika saya berdiri menerima penghargaan pada kejuaraan ini, saya telah lupa bahwa saya tidak pernah bermain golf lagi selama 8 tahun non-stop dan berada di kamar penjara yang sangat pengap.
Para wartawan yang mendengar ucapan kalimat demi kalimatnya seolah- olah merasa tidak percaya, tetapi melihat kenyataan yang ada mereka hanya bisa terdiam dan terngiang-ngiang dalam pikiran mereka.
Maka itulah hasil dari imajinasi yang tiap saat diperkuat dan terus diperkuat lagi gambaran-gambarannya. Bisa jadi, cita-cita yang kita inginkan dapat lebih mudah tewujud atau tercapai jika kita mampu mengimajinasikan apa yang kita inginkan dikelak yang akan mendatang.







