Secangkir Kopi

Secangkir Kopi
Oleh: Nabila Ika Hikmatul Farochah

Siang itu, senin 30 september 2025. Salah satu dari kami melihat unggahan status aplikasi hijau putih oleh seseorang. Benar, itu adalah status dari salah satu guru inspirator kami. Beliau adalah guru mata pelajaran kimia sekaligus waka kurikulum di sekolah kami, SMA ASSA’ADAH.

Dari unggahan status tersebut kami mengetahui bahwa salah satu inspirator kami itu sedang berada di Malang. Tanpa menunggu waktu yang lama, kami berdiskusi di grup WhatsApp kami mengenai acara sambut beliau. Salah satu dari teman kami, Alfin pun langsung menghubungi guru kami dan bermaksud mengajak  beliau untuk bertemu kami. tanpa diduga guru kami pun menyambut ajakan kami dengan antusiasme yang tinggi. Kami pun menyepakati acara ini di salah satu perkopian di daerah yang dekat dengan hotel guru kami / daerah pisang kipas dengan jam menyesuaikan dengan jadwal kosong guru kami yaitu hari selasa di jam sembilan malam. Acara dimulai di jam sembilan malam mungkin terdengar aneh di sebagian orang, tapi tidak bagi kami. Selagi kami bisa dan tidak ada halangan yang menghambat, memulai acara di jam tersebut termasuk afdol – afdol aja.

Hari rabu pun tiba, aku berangkat di jam setengah sembilan setelah ta’lim MDI mengingat perjalanan dari tempatku tinggal ke tempat acara tidak lumayan dekat. Sebelum berangkat menuju lokasi, aku menghubungi temanku elsa melalui aplikasi hijau putih. Maksudku menghubungi dia cuma klise, yaitu dia ada temannya nggak kesana? karena yang ku tahu, elsa tidak ada motor di Malang. Sesuai dugaan ku elsa pu belum tau dia dengan siapa nantinya, aku pun segera mengajaknya dan berangkat menjemputnya. Tempat elsa dengan tempatku tidak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat jadi tidak masalah jika aku menjemputnya lebih dahulu.

Segera kupacu kuda besiku ke tempat dia, dan kami pun berangkat ke lokasi acara bersama. Sesampai di lokasi kami segera memesan menu dan duduk di tempat yang kosong untuk sementara, sebelum akhirnya kami pindah ke tempat acara kami. Tidak berselang lama guru kami pun datang dengan senyuman merekah khas nya, tidak kalah dengan beliau kami pun membalas sapaan beliau dengan lambaian tangan yang menunjukkan antusiasme kita yang tinggi.

Acara ini dimulai dengan sapaan, dimana satu persatu dari kami bersalaman dengan guru kami sebagai tanda hormat beliau. Setelah bersalaman guru kami pun segera memesan menu dengan menu yang sama seperti teman kami Wafa’ yaitu kopi tubruk. Di sela itu beliau pun menjelaskan kepada kami tentang bagaimana penyajian kopi dapat mempengaruhi cita rasa kopi itu sendiri. Beliau mengatakan bahwa kopi yang disajikan dengan cangkir dari bahan tanah liat cenderung lebih enak daripada cangkir dengan bahan besi, stainless, kertas maupun plastik. Selain karena faktor suhu, partikel dalam bahan cangkir juga merupakan alasan kenapa harus memilih cangkir yang tepat dalam menyajikan kopi. Selain itu, guru kami pun menceritakan bahwasanya dalam seminar yang dihadiri oleh beliau, beliau menangkap sebuah stereotip bahwa kafein yang terkandung dalam kopi dapat mengakibatkan penyakit osteoporosis. Namun hal itu dibantah oleh guru kami dan sebagian besar dari teman – teman kami, setelah di telusuri lebih jauh ternyata kopi memang dapat menyebabkan penyakit osteoporosis jika dikonsumsi secara berlebihan akibat dari kandungan kafein di dalamnya yang dapat mengurangi kadar kalsium didalam tubuh. Selain dari segi kimia, salah satu teman kami juga menanyakan pandangan secangkir kopi dari sudut pandang seni. Dan Arinal menjawab dengan cukup simpel, dimana secangkir kopi adalah sebuah gelas yang berisi cairan hitam yang berasap. Setelah bercerita mengenai secangkir kopi, kami melanjutkan obrolan mengenai desain pembelajaran di bangku perkuliahan. Banyak dari teman kami mengeluh mengenai desain pembelajaran yang kurang dimana salah satu dari teman kami, Bryna mengatakan bahwa pembelajaran dibangku perkuliahan umumnya berbasis presentasi kelompok yang mana presentator menggunakan perantara Artificial Intelligence sebagai sumber rujukan, dan apabila ada pertanyaan  mereka juga menggunakan Artificial Intelligence dalam menjawab pertanyaannya. Yang kemudian dibalas oleh guru kami dimana Artificial Intelligence juga merupakan sebuah alat yang dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya. Beliau juga bercerita bahwa di siang hari tadi, beliau sedang mengikuti pelatihan yang membahas tentang Artificial Intelligence tersebut. Obrolan-obrolan tersebut berjalan dengan baik, lancar dan menyenangkan, sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Akupun segera pamit ke teman-temanku untuk pulang duluan mengingat tempat tinggalku adalah yang terjauh daripada yang lain, dan segera aku pacu kuda besi ku dengan senyuman yang mengembang.

 

pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp