AM I WORTH IT?

 


By Nafisah rahbini

Sering ga sih kita ngaca sendirian dikamar setelah hari yang panjang dan menyadari banyak hal? Am i
worth it? Pertanyaan yang bukan datang dari orang lain melainkan pertanyaan sunyi yang bertarung
dengan diri sendiri, antara siapa kita dan berhakkah kita untuk merasakan hal hal yang seperti orang lain
rasakan? Kita hidup di era yang semua harus sempurna, media sosial adalah etalase kesuksesan, keindahan tanpa
cela dan hubungan yang selalu terlihat effort dan on point. Melihat itu semua ga jarang kita merasa
hidup kita diversi setengah dari itu semua, diversi yang belum final dan ragu apakah ini semua akan
berkembang dan merasa tak ada yang layak untuk di publikasikan, apalagi untuk di cintai dan di kasih
effort dari seseorang, disitu kita pasti bakal mulai memperhitungkan kekurangan dan kegagalan diri kita,
merasa kurang di penampilan dan mengingat kegagalan masa lalu yang selalu menghantui kita sampe
sekarang, semua kesalahan bakal kita list dan jadi ajang kualifikasi resmi antara pikiran dan diri kita
sendiri yang ga bakal ada akhirnya sampe sekarang.

Namun disinilah kita bakal menentukan, karna ga semua tentang worth (kelayakan) harus di kaitkan
dengan performance (kinerja).
Kita berpikir, “Aku bakal di cintai kalo aku begini…” atau “aku bakal berharga kalo aku jadi ini “ dll.
Ketika kita gagal, maka rasa layak itu juga ikutan runtuh. Padahal worth itu adalah hakikat dan bukan
hasil yang kita dapat karna suatu pencapaian atau apapun itu. kita selalu layak dicintai dan kita selalu
berhak untuk dihargai, karna itu adalah hak kita sejak lahir, kita akan terlihat istimewa dan menarik
dimata orang yang benar benar tepat, dan gada orang yang berhak untuk mengomentari atau ikut
campur dalam kehidupan kita kan. Jadi, lakukan apa yang kamu suka, jadilah versi terbaik dari dirimu.
Dan sekarang adalah waktunya untuk berhenti menjadi hakim terkejam untuk diri kita sendiri. Hidup ini
adalah cerita yang sedang ditulis dan diri kita adalah penulisnya, setiap apa yang kita lewatkan bahkan
fase terburuk pun adalah bagian bab terpenting dan warna yang cerah di tulisan kita, hal hal yang tak
kita inginkan dan tak sesuai dengan yang kita rencanakan juga bagian dari plotwist cerita yang selalu
ditunggu endingnya. Menerima bahwa kita worth it bukan berarti kita sempurna; itu berarti kita berani
menerima ketidaksempurnaan itu sebagai bagian dari paket lengkap.

Kita layak mendapatkan kedamaian, bukan karena kita berhasil meyakinkan dunia, melainkan karena kita berhasil meyakinkan diri sendiri bahwa, terlepas dari segala damage dan flaws, kita adalah pribadi yang utuh, yang berjuang, dan yang totally layak untuk dicintai. “Yes, I Am Absolutely Worth It.” Sebab penerimaan diri adalah pintu pertama menuju kebebasan batin; ketika kita berhenti mengukur diri dengan standar orang lain, kita mulai menemukan arti sejati dari keberanian dan kebahagiaan. Kita tidak lagi sekadar bertahan, tetapi juga bertumbuh membentuk hidup yang lebih bermakna, lebih hangat, dan lebih manusiawi. Dan di titik itulah, cinta bukan lagi sekadar pengakuan orang lain, melainkan sumber energi yang lahir dari dalam diri sendiri.

Mungkin dunia tidak selalu memberi kita pelukan yang lembut, tapi bukan berarti kita kehilangan kemampuan untuk memeluk diri sendiri. Kita belajar bahwa kekuatan tidak selalu berarti keras, dan kelembutan tidak selalu berarti lemah. Justru dalam kejujuran menerima luka, kita menemukan keberanian untuk sembuh. Dalam setiap langkah kecil menuju penerimaan, kita sedang menulis ulang kisah tentang arti menjadi manusia bahwa mencintai diri bukanlah bentuk kesombongan, melainkan penghargaan atas perjuangan yang telah kita jalani.

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp