
Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah
Joko dan Burhan adalah sahabat karib sejak lama. Hubungan mereka sudah terjalin erat hingga keluarga keduanya saling mengenal. Namun, kedekatan itu tergerus oleh jarak ekonomi yang mencolok. Joko bekerja sebagai sopir pribadi Burhan, seorang pengusaha sukses yang kekayaannya jauh di atas rata-rata. Perbedaan status inilah yang membuat Burhan seringkali berlaku angkuh.
“Eh Joko, meskipun kamu sahabatku, tapi kamu itu anak buahku, kamu yang ku gaji,” ucap Burhan dengan nada merendahkan.
Kalimat itu bagai pisau yang menyayat hati Joko. Ia tak menyangka sahabat yang ia percaya selama ini bisa mengucapkan hal demikian. Strata ekonomi yang tidak setara telah menciptakan jurang di antara mereka.
Sakit hati dan dendam menguasai pikiran Joko. Ia kemudian meminta izin cuti kepada Burhan dengan alasan ingin pulang kampung. Padahal, tujuan sebenarnya adalah mencari jalan pintas menuju kekayaan, yakni pesugihan, agar ia tak lagi diremehkan.
Sebuah gunung di daerah Jawa menjadi tujuannya. Di sana, ia bertemu dengan seorang kuncen yang dikenal sebagai “Abah Putih” karena penampilannya yang serba putih dari ujung kepala hingga kaki.
“Saya tahu tujuanmu ke sini, tidak perlu menjelaskan,” ucap Abah Putih tiba-tiba, membuat Joko terdiam dan kaget. Kesaktian Abah Putih sudah terasa bahkan sebelum ritual dimulai.
“Jadi, apakah tekadmu sudah bulat? Apakah kamu sudah yakin?” Abah Putih memastikan keinginannya. “Sudah, Abah,” jawab Joko lirih namun penuh keyakinan.
Abah Putih lantas mengajak Joko menyusuri hutan yang gelap, lembab, dan sempit. Mereka berjalan jauh hingga tiba di sebuah gubuk kecil. Di dalamnya, Joko duduk menunggu. Ia disodori ubi rebus dan kopi hitam panas. Dingin menusuk kulit, Joko terus menyeruput kopi panas. Rasa bosan mulai datang, namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena tak ada sinyal ponsel. Sunyi senyap, bahkan suara jangkrik nyaris tak terdengar.
Tiba-tiba, sebuah tepukan di pundak mengagetkannya. “Ayo sini,” ajak Abah Putih dengan senyum simpul dan tatapan datar. Joko mengikuti Abah menuju suatu tempat yang luas dan sejuk, dikelilingi oleh air terjun. Malam itu terasa syahdu sekaligus mencekam.
“Tugasmu di sini berjalan kaki mengikuti jalan di penjuru ini sebanyak tujuh kali. Buktikan jika kamu benar-benar bertekad, lakukan sampai selesai atau hal yang tidak kamu inginkan akan terjadi padamu,” instruksi Abah Putih disertai ancaman terselubung.
“Siap, Abah,” jawab Joko tanpa pikir panjang. Tekadnya sudah bulat.
Joko mulai menyusuri jalan di tengah gemericik air terjun. Putaran pertama masih terasa biasa, namun tubuhnya mulai lelah. Ia tak menyangka perjalanan ini sejauh berkilo-kilometer.
Memasuki putaran kedua, suasana menjadi mencekam. Di tengah perjalanan, Joko ditampakkan sosok mengerikan: seseorang tergantung di kayu, lehernya mengalir deras darah, hampir putus. Joko bergidik ngeri, tetapi ia terus berjalan.
Pada putaran ketiga, ia mulai sering memejamkan mata untuk meredakan ketegangan. Namun, setiap kali memejamkan mata, ia selalu teringat perkataan Burhan yang menyakitkan. Rasa sakit hati itulah yang membangkitkan kembali semangatnya. Ia terabas semua rintangan.
Di putaran keempat hingga keenam, ia berjalan tanpa peduli menginjak apa saja. Kakinya berdarah-darah, tetapi rasa sakit di hati mengalahkan rasa perih di kaki.
Semua jerih payah itu terbayarkan di putaran ketujuh. Seketika, tempat itu berubah indah layaknya surga. Air terjun yang tadinya mencekam kini berwarna biru bening, semerbak bau bunga menusuk hidung, suasana cerah dan damai.
Pandangan Joko mulai gelap, kepalanya pusing, dan akhirnya, Blak! Ia jatuh pingsan.
Joko terbangun di gubuk. Abah Putih menyodorkan segelas air putih. Dengan pandangan remang-remang, Joko menerima air itu, sekaligus menanyakan keadaan kaki yang tadi terluka parah.
“Coba kamu lihat sekarang kakimu,” suruh Abah.
Ajaib! Kaki yang berdarah-darah kini sembuh total, tidak ada bekas setitik pun.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, ia harus menunggu hingga pukul dua belas malam. Abah Putih hanya menyediakan ubi rebus dan teh tawar.
Tengah malam tiba. Abah Putih mengajak Joko menuju sungai kecil. Joko disuruh duduk di atas batu besar, sementara Abah menyiramnya dengan air kembang tujuh rupa hingga air di gentong habis. Dinginnya malam menusuk kulit, membuat badannya menggigil hebat. Ia harus menunggu hingga jam empat pagi. Setelah itu, ia kembali ke gubuk.
“Silahkan kamu sekarang boleh pulang, tunggu kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau,” ucap Abah Putih, lalu membalikkan badan cepat.
Joko pulang dan beristirahat. Saat ia asik menyantap makanan, notifikasi transfer masuk ke ponselnya sebesar sepuluh miliar rupiah dari orang tak dikenal. Mata Joko terbelalak, tak percaya. Ia segera menghubungi Abah Putih.
“Keliling sebanyak tujuh kali adalah gambaranmu harus menumbalkan sebanyak tujuh orang. Harus lengkap sampai akhir atau kamu yang akan jadi tumbalnya,” wejangan Abah Putih.
Joko shock dan bingung. Mengapa baru diberi tahu sekarang? Namun, transferan sudah masuk, dan tujuan awalnya—materi dan dendam—sudah bercampur menjadi satu. Ia memutuskan untuk melanjutkan.
Joko kembali ke tempat kerja dan disambut Burhan. “Kamu sekarang beda ya, tambah bersih dan putih,” sapa Burhan.
Merasa sudah punya harta melimpah, Joko mengajukan resign.
“Loh, kenapa kok kamu baru sampai sini sudah begitu?! Kamu nggak akan saya gaji!” marah Burhan.
“UDAH DUITKU BUAT KAMU AJA SEMUA, KAMU YANG AKAN KU GAJI KELAK!” bentak Joko, berteriak lebih keras sambil menunjuk wajah Burhan.
Keributan tak terhindarkan. Baku hantam terjadi, bahkan kekuatan Joko yang kini berbeda mampu menahan satpam yang berusaha melerai.
“Dia itu sudah jahat sama aku!” emosi Joko meledak.
Seorang karyawan bernama Tiara berusaha menenangkan Joko. “Sudah, kamu yang sabar ya. Aku juga sebenarnya ingin keluar dari sini, tapi aku tahan dulu dan mungkin sekarang saatnya.”
Joko pulang dan membangun usaha bisnisnya sendiri dengan uang hasil ritual. Ia merintis usaha jual beli dan merekrut Tiara.
“Di sini kamu akan ku gaji dua kali lipat dibanding Burhan,” ujar Joko.
Perusahaannya berkembang pesat, hingga ekspor ke luar negeri. Tiara yang cakap berbahasa Inggris mendapat gaji tambahan dari Joko karena kinerjanya yang sangat bagus.
Bersamaan dengan kesuksesannya, mimpi buruk mulai menghantui Joko. Ia dikelilingi makhluk-makhluk dari ritual. Mereka mendekat dan berbisik, ‘sekarang saatnya!’.
Joko mulai menaruh hati pada Tiara dan berniat melamarnya. Namun, Tiara menyatakan kegalauannya. “Maaf, Pak. Sebenarnya saya sudah dijodohkan dengan orang tua, tapi saya tidak tahu sama siapa,” ujar Tiara.
Merasa ditolak, Joko sakit hati. ‘Kurang apa aku? Masa sudah sekaya ini, digaji lebih pula, malah ditolak.’ Namun, ia mengurungkan niat menumbalkan Tiara, mengingat dendamnya adalah pada Burhan.
Joko memberikan foto Ayah Burhan kepada Abah Putih. Setelah ritual dilakukan, Innalillahi wa inna ilaihi rajiun… Ayah Burhan meninggal mengenaskan dalam kecelakaan. Tubuhnya penyet, lehernya hampir putus, darah mengalir deras—sama persis dengan penampakan yang dilihat Joko pada putaran kedua ritual. Ini adalah tumbal pertama. Kekayaan Joko makin melejit.
Beberapa bulan kemudian, mimpi yang sama datang lagi, menuntut tumbal kedua. Di dukung dendam yang kuat, Joko menumbalkan adik Burhan yang juga menjadi karyawannya. Adik Burhan tewas di ruang mesin dengan posisi dan luka yang sama mengerikan.
Karyawan yang curiga mengadu pada dukun. Karena terancam, Joko segera menumbalkan dukun dan karyawan pengadu itu. Total sudah empat tumbal.
Tak lama kemudian, Tiara resign dan mengabari Joko bahwa ia sudah menikah. Jobdesk Tiara digantikan oleh karyawan lain. Namun, penggantinya tidak seulet Tiara.
Karyawan pengganti ini pun menjadi tumbal berikutnya, tewas di dapur shift malam dengan luka yang sama. Untuk menutupi kejahatannya, Joko memberikan uang sangat besar kepada keluarga korban, beralasan kecelakaan kerja tak terduga.
Bisnis berjalan lancar, hingga suatu hari Burhan tiba-tiba datang ke kantor dan sujud di hadapan Joko.
“Saya di mimpikan bahwa bos akan membunuh saya, tolong maafkan saya bos, saya sudah benar-benar hancur, anak istri saya bagaimana?” Burhan merengek.
Joko menendang kepala Burhan, “Kamu pergi dari kantor sekarang!”
Namun Burhan tetap bertahan, memohon untuk dipekerjakan.
“Saya mau kerja sama kamu sekarang,” pasrah Burhan.
Perkataan Joko dahulu menjadi kenyataan: Burhan, mantan bosnya, kini berbalik menjadi karyawannya. Joko membalaskan dendamnya dengan memperlakukan Burhan seperti ia dulu diperlakukan.
Joko menyuruh Burhan menyetir, lalu mengklepak kepalanya. “Kamu salah beloknya! Itu yang saya rasakan dulu! Sakitnya seperti ini!”
Bahkan saat meeting dengan klien ekspor, Joko mengusir Burhan dan merendahkannya di depan umum. “Bukan, itu kacung saya sekarang,” jawab Joko sombong saat ditanya apakah Burhan adalah mantan bosnya.
Suatu hari, seorang karyawan bernama Sohib bertanya tentang kamar yang selalu terkunci dan berbau anyir darah di kantor. Rasa curiga Sohib membuat Joko gelisah. Takut kebusukannya terbongkar, Joko berniat menumbalkan Sohib.
Namun, Abah Putih menolak. “Loh, saya nggak bisa ini, bahaya orang ini bisa balik ke saya kekuatannya,” tolak Abah Putih panik.
Ternyata Sohib adalah keturunan keraton Jawa yang suci dan kebal. Dua dukun lain yang di datangi Joko juga menolak.
Joko mengambil keputusan gila: membunuh Sohib dengan tangannya sendiri. Ia menusukkan pisau, obeng, bahkan melempar sound mic ke kepala Sohib. Namun, semua benda itu terpental atau pecah. Sohib sama sekali tidak terluka.
“Mau apa? Mau cari masalah? Saya tahu kamu pakai pesugihan!” tantang Sohib, membongkar rahasia Joko.
Mental Joko menciut. Saat Burhan datang, Sohib membongkar fakta yang mengejutkan. “Kamu tahu nggak ini semua ulah siapa? Ini ulah dia! Kamu yang mau ambil istri dia kan? Tahu nggak siapa istrinya? Tiara itu istrinya,” ungkap Sohib.
Joko shock. Tiara, yang ia cintai, adalah istri Burhan. “Kamu benar menikah sama Tiara?” tanya Joko lembut, kini merendah.
Burhan mengangguk pelan.
“Kamu selesaikan sekarang atau saya laporkan polisi!” ancam Sohib.
Joko kembali menghadap Abah Putih. Ia menyetorkan foto Burhan.
“Ini siapa?!” tanya Abah Putih kaget. “Orang ini dulu keluarganya juga melakukan pesugihan di sini.”
Ternyata, keluarga Burhan dahulu juga bersekutu dengan Abah Putih. Burhan tidak bisa ditumbalkan. Karena frustrasi, Joko terpaksa menumbalkan Tiara sebagai tumbal keenam.
Pagi harinya, Burhan mendobrak pintu ruangan Joko.
“KAMU KAN YANG BUNUH ISTRIKU? SAYA TAHU! SAYA LAPORKAN KE POLISI KAMU!” amarah Burhan memuncak.
Pertikaian sengit terjadi.
Sohib melerai keduanya. “Sudah tenang, sini.”
Ia mengunci Burhan di luar dan berhadapan dengan Joko.
“Kamu selesaikan semuanya di sini atau saya laporkan ke polisi! Semua bukti sudah jelas, tumbal sudah lengkap tujuh,” ancam Sohib.
Tumbal ketujuh adalah janin Tiara. Tiara yang sedang hamil tujuh bulan tewas ditabrak motor, ususnya berlumuran darah, dan janinnya hancur. Joko benar-benar tidak tahu Tiara sedang mengandung. Penyesalan teramat dalam menghantamnya. Harta tak menjamin kebahagiaan.
Joko mengambil langkah tobat. Sesuai arahan Sohib, semua harta hasil pesugihan dimusnahkan. Sohib berhasil memisahkan Joko dan Burhan. Hingga bertahun-tahun, Joko tidak mengetahui keberadaan Burhan.
Kini, Sohib menjadi sahabat yang membimbing Joko menuju jalan yang lurus. Joko benar-benar berterima kasih atas keadaan yang sekarang.







