Dalam Nama yang Kuserahkan

Oleh : Ilman Mahbubillah

Pada sekian waktu di mana kucoba berhenti menggerutu; memohon agar semua tak kembali seperti semula, merela pada apa yang disebut kecewa. Karena ternyata, tenang bukan tentang mengulang, melainkan meresapi reruntuhan rasa dengan dada yang tak lagi terluka. Kucoba kembali renungi sunyi di antara api dan seduhan kopi; ternyata aku sudah sendiri, merawat bayangmu pada bait puisi. Namun, harusnya aku mengerti bahwa tidak semua hilang harus dicari dan tidak semua kenang harus digenapi.

Maka menjadi bagian dari indah senyummu kala itu, membuatku sering khawatir seiring waktu berlalu. Kau sematkan aku pada bagian penting yang tak pernah kau kira akan dibilas kata asing; senangku semu, bahagiamu pun ternyata bukan karenaku. Sebab beberapa rasa jika ternyata takdir tidak menyandingkan, maka tak perlu dipaksakan, ia harusnya cukup diserahkan; jika tak kembali untukmu, maka yakinlah ia sudah kembali pada Dzat pemilik rindu.

Kini malam kelam yang sering kuceritakan pada sajakku, tak sepahit kerelaanku pada matamu yang tak lagi sama kala memandangku. Kini getar jiwa yang selalu tersulut kala rindu, tak sebanding dengan doamu yang tak lagi inginkan aku. Kini harusnya kau mengerti bahwa perjuangan saat itu adalah sebuah perjalanan yang harusnya tak serta merta kau hentikan. Dan kini akhirnya aku mengerti bahwa duka hadir bukan untuk dilawan, tapi penanda bagi cinta yang harusnya tak tertawan.

Pada pelataran cerita kurajut semua impian yang pernah kulalaikan; menggelar perayaan luka sebagai upaya mengisi hati yang hampa. Kutinggalkan sorak ramai penyeru kebahagiaan, karena rasaku sudah dihabisi oleh pahitnya kehilangan dan terkudeta oleh segala penyesalan. Bukan aku tak ingin bahagia; tapi bukankah kedamaian tercipta dari rasa percaya bahwa semesta akan berjalan semestinya? Barangkali, inilah jalanku yang baru; menyebut nama tanpa menyisakan lara.

Dalam segenap kebisuanku; tak tahu malu, tak bosan-bosanku mengadu. Karena kutahu, betapa diam lebih tajam dari pengakuan atas apa pun dan betapa sembuh bukan hanya harapan yang ditempuh dengan bersimpuh; Ia adalah seni-bagaimana cara menyerahkan mimpi tanpa tendensi setelah segala usaha sudah dilalui. Maka dengan ini; kuserahkan namamu pada Rabb-ku, kulupakan binar-binar cinta berselimut nafsu dalam mantra yang harusnya tak lagi berlandaskan rindu,

Akhirnya kini bisa kupasrahkan, kurelakan, dan kuberikan ruang di dalam nurani dengan penuh ketenangan. Namun bukan supaya aku bisa kembali, tapi hanya untuk diziarahi; bahwa lukaku kini tak lagi menyakiti. Ia adalah simbol suci atas keikhlasan bahwa takdir ternyata tidak mengizinkanku untuk hadir.

Author

4 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp