HIDUP AGAMIS BUTUH OPTIMIS

 

Oleh: Nafisah Rahbini

Agama adalah tentang keyakinan, dan optimis adalah tentang harapan, optimisme dan
keagamaan adalah 2 hal yang sangat berbeda. Yang satu berfokus apa harapan manusia dan
yang satu lagi berfokus pada kepasrahan takdir sang ilahi. Kehidupan agamis tidak selalu
tentang keseriusan, fanatik, dan diskriminasi. Seolah olah terlalu bahagia dan semangat adalah
sebuah dosa. Padahal, semakin kita yakin pada ketentuan tuhan yang maha baik dengan
kaidah dan akidah yang benar seharusnya membuat kita jadi orang yang paling berhak untuk
optimis.

Kenapa? Karena optimis adalah salah satu cara untuk menanggapi janji dan ketentuan tuhan.
Seakan kita meneriakan bahwa kita percaya dan yakin bahwa tuhan adalah yang maha
pemberi rezeki dan yang selalu menjadi perencana terbaik hidup kita, lantas mengapa harus
takut dan khawatair pada sesuatu yang tak pasti sedangkan kita bersama sang maha kuasa.
Optimis juga sebagian dari cabang iman lohh, seperti rumah besar yang indah maka optimis
menjadi cat warna warni yang membuat rumah terasa leebih menyenangkan dan menarik. Jika
sifat optimis sudah tertanam dalam diri kita maka masalah masalah kehidupan juga gabakal
membuat kita mudah menyerah dan lebih memilih untuk tetap usaha dan meyakini bahwa
“tuhan yakin saya kuat dan dan tuhan gabakal ninggalin saya apapun keadaannya”.

Maka pasti dengan ini kita telah menyelamatkan banyak hal terutama maindset dan mental health kita.
Optimis juga buat pikiran kita lebih terbuka untuk berpikir kearah yang lebih luas lagi dan itu
pasti buat kita jadi lebih ikhlas untuk nererima sesuatu, kita lebih mudah move on dari kenangan
buruk yang menyakitkan dan gak dihantui oleh kekhawatiran yang berlebihan. Dan bisa menjadi
ibadah karna optimis didasari oleh sebuah harapan dan agama mengajarkan kita agar sesalu
menyeimbangkan antara harapan dan ketakutan, dengan optimis kita tetap memiliki banyak
harapan tapi juga bisa meminimalisir rasa takut berlebih dalam diri kita. Optimis juga bisa
menjadi tanda sayang sama diri sendiri, karna dengan kita optimis dalam menjalani ibadah
adalah bukti kita sungguh sungguh yakin pada ajaran agama kita, jadi apapun keadaan mood
mu sedih dan keputus asaan tak aakan meraampas energi ibadah mu.

Dan dalam optimis beragama tersebut tidak lah berdiri sendiri, melainkan didukung oleh tiga
pilar utama yaitu Sabar, Syukur, dan Tawakkal.
Sabar bukan hanya kekuatan yang datang ketika ujian datang, tapi sabar juga termasuk tetap
menjaga kemampuan untuk tetap bergerak, berjuang, tidak mengeluh, dan tetap berusaha. Dan
kamu berhasil untuk tetap yakin dan optimis pada dirimu sendiri bahwa usaha tak akan
mengkhianati hasil, dan itu pasti akan datang diwaktu yang tepat. Secara tidak langsung kita
mengggabungkan optimis dan sabar menjadi Kesabaran Produktif.
Syukur yang sering dianggap sebatas ucapan alhamdulillah saat mendapat rizki. Padahal
syukur adalah sesuatu yang setiap saat bisa mendampingi seorang optimis sejati, menjadi
resep anti insecure dan selalu merasa cukup serta ,emjadi energi positif tak terbatas.
Tawakkal yang dimulai dengan ikhtiar dan pasrah pada allah ditambah dengan ke optimisan
sama dengan usaha maksimal dan khawatir minimal. Selalu siap menghadapi kekalahan dan

selalu berusaha untuk kemenangan, selalu menyerahkannya pada allah dan ketika gagal akan
kita kembalikan sepenuhnya pada allah, yakin allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih untuk
kita sehingga kita tak berlarut dalam kesedihan.
“Hidup Agamis Butuh Optimis” bukan sekedar motivasi. Itu adalah sebuah perintah (perintah)
dalam beragama, yang diwujudkan melalui Sabar saat proses sulit, Syukur atas segala yang
sudah ada, dan Tawakal setelah usahanya maksimal.

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp