Pendeta yang Bijaksana

Oleh Yahdil Falakhi Alkhikam

Di sebuah desa kecil di kaki gunung, berdiri sebuah gereja tua yang dikelilingi pepohonan pinus. Di dalamnya, tinggal seorang pendeta sepuh bernama Pastor Lukas, yang dikenal bukan hanya karena khotbahnya yang lembut, tapi juga karena kebijaksanaannya dalam menenangkan hati banyak orang.

Meski rambutnya telah memutih dan langkahnya mulai pelan, tutur katanya selalu meneduhkan. Setiap orang yang datang kepadanya tidak pernah pulang dengan tangan kosong mereka selalu membawa pulang ketenangan, meski hanya dalam bentuk kata-kata sederhana.

Suatu hari, seorang pemuda bernama Damar datang dengan wajah muram. Ia baru kehilangan ayahnya, dan di saat yang sama, merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Hatinya penuh amarah. “Aku tidak tahu, Romo, mengapa Tuhan mengambil ayahku dan membiarkan sahabatku menusukku dari belakang. Rasanya tidak adil,” katanya dengan suara bergetar.

Pastor Lukas tersenyum tipis, lalu menuangkan teh hangat ke dalam dua cangkir. “Duduklah dulu, anakku. Kita tidak bisa menenangkan hati yang panas dengan kata- kata yang terburu-buru.”

Damar menunduk. Suara hujan di luar gereja membuat suasana makin hening. Setelah beberapa saat, sang pendeta berkata pelan, “Kau tahu, Damar, daun yang jatuh dari pohon pun tidak pernah salah arah. Semua terjadi dalam waktu yang tepat. Kadang kita kehilangan seseorang bukan karena Tuhan kejam, tapi karena Ia ingin kita belajar berdiri sendiri.”

Damar diam. Matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi bagaimana dengan sahabatku, Romo? Aku ingin membalas dendam.”

Pastor Lukas mengangkat pandangannya, lalu berkata, “Kalau api dibalas dengan api, dunia hanya akan menjadi abu. Tapi kalau api kau balas dengan air, akan tumbuh kehidupan. Dendam itu seperti meminum racun sambil berharap orang lain yang mati.”

Kata-kata itu menampar hati Damar. Ia terdiam lama, menatap jari-jarinya sendiri yang menggigil di atas meja kayu tua.

Beberapa minggu kemudian, Damar mulai sering datang ke gereja. Bukan lagi untuk mengeluh, tapi untuk membantu membersihkan halaman dan menyalakan lilin setiap pagi. Ia belajar dari Pastor Lukas bahwa kebijaksanaan bukanlah milik orang suci saja, melainkan buah dari kesabaran dan pengampunan.

Suatu sore, Pastor Lukas jatuh sakit. Desa itu menjadi murung. Orang-orang dari berbagai keyakinan datang menjenguk bukan karena ia seorang pendeta, tapi karena ia seorang manusia yang pernah menyentuh hati mereka dengan kasih.

Ketika ajalnya mendekat, Pastor Lukas hanya berpesan singkat kepada Damar, “Jangan biarkan kebencian menumbuhkan tembok antara sesama manusia. Tugasmu bukan membenarkan semuanya, tapi menjaga cinta agar tetap hidup di dunia yang keras ini.”

Beberapa hari setelah pemakamannya, gereja tua itu penuh bunga. Damar berdiri di depan altar, menatap salib di atas dinding batu. Ia teringat semua nasihat sang pendeta, lalu berbisik pelan, “Terima kasih, Romo. Kini aku mengerti, kebijaksanaan bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mampu memaafkan.”

Dan di tengah senja yang perlahan meredup, lonceng gereja berbunyi lembut, seakan menyampaikan pesan terakhir dari pendeta yang bijaksana itu bahwa kasih tidak pernah mati, hanya berpindah tempat, dari satu hati ke hati yang lain.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp