Di Rumah yang Bukan Milikku

Oleh: Mahrotul Fithonah

Hari itu, rumah yang kudatangi terasa asing tapi hangat. Dindingnya berwarna lembut, dengan hiasan bunga yang menebar wangi samar di udara. Suara tamu-tamu bergema pelan di antara lantunan doa dan senyum yang penuh restu. Di tengah keramaian itu, aku melihat kakakku berdiri tegak, dengan senyum yang begitu tenang. Lelaki yang dulu kerap menggandeng tanganku ke sekolah kini menggenggam cincin siap melangkah menuju hidup yang baru.

Aku berdiri agak jauh, memandanginya dari sudut ruangan. Rasanya aneh melihatnya di tempat ini, di rumah yang bukan rumah kami bersama orang-orang yang belum lama kukenali, tapi kini mereka menjadi bagian dari kisahnya. Semua mata tertuju padanya dan di antara wajah-wajah bahagia itu, aku menyembunyikan mataku yang perlahan mulai basah.

Di sekelilingku suasana penuh tawa. Suara ibu-ibu saling berbisik lembut, aroma teh hangat bercampur dengan kue yang baru disajikan. Tapi di dalam diriku, ada ruang sunyi yang tumbuh perlahan. Aku tahu, ini adalah hari bahagia untuk kakakku. Hari yang dulu selalu ia impikan. Namun bagi diriku, ini juga hari di mana aku belajar menerima kenyataan bahwa seseorang yang selama ini menjadi pelindungku, kini akan menjadi pelindung bagi perempuan lain.

Setiap gerak-geriknya terasa berbeda. Ada kedewasaan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia menunduk dengan hormat, berbicara dengan tenang dan di matanya ada cahaya lembut yang tak bisa kudeskripsikan, cahaya yang hanya muncul ketika seseorang benar-benar mencintai. Aku menunduk, menahan air mata yang nyaris jatuh. Tapi tetes demi tetes akhirnya lolos menelusuri pipiku perlahan. Air mata itu tidak membawa kesedihan. Ia membawa rasa syukur, bangga dan juga kehilangan dalam waktu yang bersamaan.

Di rumah yang bukan rumahku, aku menyadari betapa cepat waktu berjalan. Lelaki yang dulu mengajarkanku naik sepeda kini siap menjadi imam bagi seseorang. Aku yang dulu selalu menunggu kepulangannya kini harus belajar menunggu tanpa kepastian kapan ia sempat pulang. Selepas acara, orang-orang sekelilingku tampak bahagia. Senyum mereka tulus dan doa mereka hangat. Sementara aku berjalan keluar melewati ruangan yang dipenuhi bunga, langkahku terasa ringan tapi hatiku berat.

Langit sore memantulkan warna jingga yang lembut seperti perasaan di dadaku yang perih tapi indah. Di halaman, angin berembus pelan membawa sisa aroma bunga itu. Sinar matahari terakhir menimpa wajahku, seolah menghapus sisa air mata yang belum sempat kering. Aku menatap langit itu lama. Di antara hiruk-pikuk perayaan, aku menemukan ketenangan kecil di dalam hatiku. Hari itu, aku meneteskan air mata bukan karena kehilangan, tapi karena cinta yang tak bisa diucapkan. Cinta seorang adik yang diam-diam belajar melepaskan dan memahami bahwa kasih tak selalu berarti menggenggam erat, melainkan mengikhlaskannya menjemput kebahagiaan orang yang disayangi.

Aku tahu bahwa hidup selalu berubah dan setiap perpisahan kecil adalah pintu menuju awal yang baru. Di balik senyum bahagia kakakku, tersimpan harapan yang juga kusembunyikan. Harapan agar dia menemukan kebahagiaan sejatinya dan aku pun belajar menerima kehadiran perubahan itu dengan hati terbuka. Aku menatap sekali lagi rumah itu dari kejauhan. Dirumah yang bukan milikku, tempat dimana aku belajar arti melepaskan dengan tenang dan mengerti bahwa setiap langkah yang menjauh tidak selalu berarti perpisahan. Kadang, itu hanyalah cara Tuhan mengajarkan kita arti cinta yang sesungguhnya, cinta yang tumbuh dalam diam lalu abadi dalam doa.

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp