Tangan-tangan Kotor

Oleh Yahdil Falakhi Alkhikam

Di sebuah kota kecil yang ramai oleh pasar dan suara klakson angkot, hiduplah seorang pemuda bernama Darma. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor pemerintahan. Setiap pagi, Darma menyapu halaman dan mengangkat sampah, sementara para pegawai berjalan masuk dengan pakaian rapi dan wangi. Banyak yang mengabaikannya, bahkan beberapa memandang rendah karena tangannya selalu kotor oleh debu dan tanah.

Namun, di balik tangan yang kotor itu, Darma menyimpan hati yang bersih. Ia tidak pernah mengambil lebih dari haknya, meskipun setiap hari menyaksikan amplop- amplop yang berpindah tangan secara diam-diam di ruangan atas. Ia tahu, uang itu bukan milik mereka. Tapi siapa dirinya untuk menegur? Hanya seorang penyapu jalan.

Suatu hari, kota itu diguncang oleh kabar besar. Dana pembangunan taman kota hilang tanpa jejak. Semua pegawai sibuk menuduh satu sama lain, mencari kambing hitam agar namanya tetap bersih di mata atasan. Darma hanya mengamati dari jauh, menyapu halaman yang mulai ditinggalkan orang-orang ketakutan.

Hingga suatu sore, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup. Di tempat sampah belakang gedung, tersembunyi amplop besar berisi uang lusuh. Darma menatapnya lama, lalu menutup kembali kantong plastik itu dan melapor pada pihak berwenang.

Keesokan harinya, media lokal memberitakan: “Petugas Kebersihan Temukan Bukti Kasus Korupsi.”

Nama Darma tiba-tiba menjadi buah bibir. Banyak yang memujinya, tapi ada pula yang membencinya. Salah satu pejabat tinggi akhirnya terbukti bersalah dan diberhentikan dari jabatannya.

Ketika wartawan datang mewawancarai, Darma hanya berkata pelan, “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya. Tangan saya memang kotor, tapi bukan untuk menutup keadilan.”

Kata-kata itu menggema di seluruh kantor. Sejak hari itu, tak ada lagi yang memandang rendah Darma. Ia tetap bekerja seperti biasa, tetap memegang sapu, tetap dengan seragam sederhana, tapi kini banyak yang menyalaminya setiap pagi.

Karena akhirnya, orang-orang sadar: tangan yang kotor bukan selalu tanda kejahatan. Kadang, justru dari tangan seperti itulah kebersihan sejati lahir.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp