Tanpa kata
Oleh: Zahriyatun Nafiah
Tidak semua hati luluh pada kata,
ada yang memilih diam saat itu tiba.
Bukan tak mampu merasa,
hanya sudah terlalu biasa
melihat indah yang tak benar-benar ada.
Hari-hari dilalui tanpa banyak suara,
kuat seolah tak pernah terluka.
Menyimpan lelah tanpa banyak tanya,
menahan runtuh tanpa siapa-siapa,
hingga semua terasa biasa saja.
Hadir ucapan yang terdengar sempurna,
hangat seolah mengerti segalanya.
Namun anehnya, justru terasa hampa,
seperti singgah tanpa arah yang nyata,
datang sebentar lalu menghilang begitu saja.
Padahal yang dicari bukan rangkaian kata,
bukan pula rayuan yang terus diulang nada.
Cukup hadir dengan cara sederhana,
tetap tinggal tanpa banyak drama,
meski keadaan tak selalu baik-baik saja.
Bukan ingin yang paling pandai berbicara,
hanya ingin yang tak pergi saat lelah melanda.
Tempat pulang tanpa banyak tanya,
tempat runtuh tanpa merasa salah,
dan tetap diterima apa adanya.
Karena terlalu lama kuat sendiri
mengajarkan untuk tidak berharap lagi.
Hingga lupa rasanya dimengerti,
lupa bagaimana berbagi,
dan terbiasa menanggung sendiri.
Jika ingin tetap tinggal di sini,
jangan hanya datang lalu pergi.
Hadirlah dengan hati yang pasti,
bukan sekadar kata yang rapi,
tapi benar-benar memilih untuk menetap di sini.





