Antara Lencana dan Sajadah

Oleh Nabila Ika Hikmatul Farocha

Cahaya lampu ruang interogasi memancar aura pucat, memantul pada lencana perak di atas meja. Di baliknya, Detektif nafeesha duduk dengan punggung tegak, kaku, dan sedingin batu es. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, ia telah menjadi bintang di satuannya. Baginya, setiap kasus adalah teka-teki logika, manusia hanyalah bidak yang bergerak berdasarkan motif dan dosa. Tidak ada ruang untuk emosi dan rasa, karena keduanya adalah residu yang mengaburkan fakta-fakta yang ada.

​”Kasus selesai, nafeesha. Pelakunya sudah mengaku setelah kau tunjukkan rekaman CCTV itu,” ujar Baskara, rekannya, sembari melonggarkan dasi saat mereka berjalan menuju mushola kantor untuk menunaikan solat Asar. “Kau luar biasa tajam. Tapi, kadang aku takut melihat sorot matamu. Rasanya kosong, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.” lanjut baskara sambil tertawa pelan.

Nafeesha membelokkan langkahnya saat musholla putri terlihat di samping kirinya. “Bahkan, kadang aku merasa kau adalah robot yang diberi nyawa”, teriak baskara di lorong musholla.

Nafeesha tidak peduli, ia hanya bergeming dan membasuh wajahnya dengan air wudhu. Bahkan, dingin air pun tak mampu menyentuh hatinya yang seperti padang pasir gersang. Sholat baginya pun kini terasa seperti rutinitas, gerakan ruku’ dan sujud yang kehilangan rohnya. Ia memang sukses, namun jiwanya terasa hampa, seolah olah ia sedang menggali lubang hitam dalam yang tak berdasar.

Malam itu, nafeesha kembali ke rumah masa kecilnya untuk membantu Ibunya berkemas. Di bawah tumpukan sajadah lama di gudang, ia menemukan sebuah kotak kado kecil. Di atasnya tertulis kaligrafi pegon hasil tangannya dulu, “Amanah untuk Nafeesha Masa Depan, Buka Saat Kau Merasa Dunia Menelanmu!”

Dengan tangan bergetar, Nafeesha pun membuka kotak itu. Aroma usang dari barang lama menyeruak, membawa kembali memori masa remaja yang penuh cahaya. Di dalamnya, terdapat tumpukan surat yang ditulis dengan tinta warna-warni. ​Ia mengambil satu surat yang ditulisnya tiga belas tahun lalu, tepat setelah ia khatam Al-Qur’an untuk pertama kalinya.

​”Assalamualaikum, Nafeesha besar!! Aku harap saat kau membaca surat ini, kau sedang tersenyum lebar. Apakah kau sudah jadi detektif keren nafeesha? detektif hebat yang membela kebenaran karena Allah? Jangan sampai lencanamu membuatmu sombong, yaa cintaa. Ingat kata Ustadzah, dunia isinya hanya sekedar candaan dan permainan. Jangan karena terlalu sibuk mengurusi dosa orang lain, Kau lupa bagaimana cara sederhana untuk tertawa.”

Nafeesha tertegun. Ia menatap pantulan dirinya di jendela gudang yang buram karena debu. Sosok yang terlihat di sana tampak kaku, dengan hijab yang dililit rapi namun wajah lusuh yang kehilangan binar dari sinarnya. ​”Dunia ini menelanku ica kecil, aku kalah”, bisiknya pilu. “Aku melihat kegelapan setiap hari, hingga aku lupa bahwa matahari masih terbit  setiap pagi karena izin-Nya.”

​Ia membuka surat kedua, yang berisi kutipan ayat yang dulu menjadi favoritnya.

​“اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ؟(QS. Ar-Ra’d: 28). Icha, kalau nanti kau merasa lelah saat mengejar penjahat, pulanglah ke sajadahmu. Jangan jadi orang yang menang di mata manusia tapi kalah di hadapan Tuhan, karena jika begitu, hatimu akan mengeras menjadi batu.”

Air mata yang selama bertahun-tahun ia bendung demi sebuah gelar profesionalisme semata, kini luruh. Sekarang ia merasa sedang diinterogasi oleh dirinya sendiri. Sebuah investigasi paling jujur yang pernah ia alami. Ia menyadari telah menjadi sosok yang dulu ia takuti, manusia yang selalu mengandalkan logika sehingga lupa dengan keajaiban doa. 

Surat terakhir di dasar kotak disegel dengan stiker bintang dan tulisan, “TUGAS DARI ALLAH UNTUKMU.”

​”Ica, jika suatu saat hatimu terasa mati, aku perintahkan kau melakukan satu hal konyol demi menghancurkan kesombonganmu. Besok sore, pergilah ke taman kota. Belilah es krim pelangi kesukaan ku, kau masih ingat kan es nya? oiya, pakailah sepatu yang berbeda warna, kanan putih, kiri abu. Biarkan saja kalau orang melihatmu seperti orang aneh. Belajarlah bahwa penilaian manusia itu tidak ada apa apanya dibanding dengan ketenangan jiwamu. Setelah itu, sedekahkan seluruh uang di dompetmu kepada pengemis pertama yang kau lihat. Tersenyumlah padanya, karena senyum adalah sedekah.”

Keesokan harinya, di Taman Bungkul yang ramai, pemandangan aneh tercipta. Seorang wanita dengan tatapan yang biasanya menghujam tajam, kini berdiri di depan penjual es krim dengan sepatu kets putih di kaki kanan dan abu di kaki kiri. Nafeesha merasa sangat malu. Ego detektifnya memberontak. Namun, saat ia mulai menjilat es krim pelangi itu, dan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, ia teringat satu hal, dunia ini memang sementara, semua hanyalah fana. Seorang anak kecil lewat dan tertawa ketika melihat sepatunya. Nah anehnya, nafeesha tidak membalas hal itu dengan tatapan dingin khasnya. Sebaliknya, ia menarik napas dalam, dan mengucapkan Alhamdulillah dalam hati, kemudian ia pun ikut tertawa. Tawa yang tulus, yang tanpa ia sadari telah memecahkan kerak es di dasar hatinya.

Ia kemudian berjalan menuju gerbang taman dan menemukan seorang kakek pemulung. Nafeesha merogoh dompetnya, membungkukkan badannya dan kemudian memberikan seluruh isinya, dan yang paling penting, ia memberikan sebuah senyuman. ​”Terima kasih, Nak. Semoga Gusti Allah membalas kebaikanmu dengan ketenangan,” ujar kakek itu tulus dengan binar merekah di matanya. ​Kalimat itu sederhana, namun bagi nafeesha, hal itu merupakan sebuah kesimpulan dari kasus paling sulit dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa kedamaian tidak ditemukan pada lencana atau pangkat, melainkan pada kemampuan untuk merendahkan hati di hadapan-Nya dan berbagi kasih pada sesama.

Sore itu, nafeesha kembali ke kantor. Ia tetap lah seorang detektif yang tajam, namun kini ia selalu menyempatkan diri datang lebih awal ke musholla. Di saku seragamnya, ia menyimpan satu jepit rambut bintang milik masa kecilnya yang ia temukan di sela sela surat kemarin. Bukan untuk dipakai, tapi sebagai pengingat bahwa di balik tugas negara yang berat, ada jiwa yang harus tetap dijaga kesuciannya. ​”Bas,”, panggil nafeesha saat melihat rekannya. ​”Ya, Naf?”, jawab baskara. ​”Yuk kita sholat jamaah. Habis itu, aku ingin menceritakan sebuah rahasia tentang bagaimana cara memecahkan kasus hati yang beku.”, lanjut nafeesha.

​Nafeesha tersenyum, dan kali ini, senyum itu sampai ke matanya, senyum seorang hamba yang telah pulang ke rumahnya sendiri. Sebab pada akhirnya, investigasi tersulit bukanlah mencari siapa yang bersalah di luar sana, melainkan menemukan siapa yang hilang di dalam sini. Di antara lencana perak dan kakunya dunia, Nafeesha menemukan sebuah kebenaran mutlak, bahwa kedamaian tidak membutuhkan rentetan bukti yang rumit, ia hanya butuh hati yang cukup rendah untuk bersujud dan jiwa yang cukup luas untuk kembali tertawa.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp