Oleh Nazar Junio
Lebaran seringkali terjebak dalam kemewahan yang nampak semu, namun perjalanan aku kali ini adalah sebuah upaya untuk mencari jalan pulang menuju ketenangan yang asli. Aku melangkah pergi, meninggalkan desaku di Kecamatan Bantur yang belakangan ini penuh dengan keriuhan sound horeg getaran dentumannya yang memekakkan telinga seolah memaksa tiap sudut ruang untuk ikut bising. Bersama Ayah dan Ibu, aku memacu kendaraan membelah jalanan Malang Selatan menuju Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Destinasi kami adalah Desa Srigonco, sebuah wilayah di mana aspal mulai merendah di hadapan rimbunnya pepohonan dan waktu seolah melambat dalam pelukan alam yang masih murni.
Begitu mobil berhenti tepat di depan rumah Nenek, pintu yang terbuka langsung menyuguhkan kehangatan yang tulus. Aku disambut oleh senyum merekah dari Nenek dan keluarga Bibi yang sudah menunggu di ambang pintu, dengan penuh kerinduan dan kebahagian. Halaman depan rumah itu adalah bentangan tanah murni yang bersimbah rumput hijau, terasa lembut seolah sedang membelai kakiku saat pertama kali memijak di sana. Yang paling istimewa, rumah Nenek berdiri tepat di samping persawahan, tidak ada jarak, tidak ada pembatas. Sawah itu hadir pas di sebelah bangunan, menghamparkan pemandangan hijau yang langsung bisa disentuh mata.
Di sana, hamparan sawah membentang luas bak permadani zamrud yang tak berujung. Udara murni yang belum terjamah polusi langsung menyergap paru-paru, membawa aroma tanah basah dan sisa embun pagi yang menenangkan. Di sini, sunyi bukanlah ketiadaan suara, melainkan sebuah simfoni alam yang jujur. Bunyi angin yang berdesir di antara batang-batang padi terdengar seperti suara falseto yang membisik lembut di telinga, seolah sedang menyapa kedatanganku dengan penuh keakraban. Jauh dari hingar-bingar pengeras suara yang menggetarkan kaca rumah, keheningan di sini menjadi ruang bagi pikiran untuk beristirahat, memaksa aku untuk menanggalkan segala ego dan bisingnya ambisi kehidupan yang selama ini menghimpit dada.
Memasuki ruang tamu, pandanganku disambut oleh jajaran toples yang berisi narasi hasil bumi yang jujur. Tak ada cokelat impor dengan kemasan mengkilap atau kue-kue modern yang penuh warna. Yang tersaji adalah parade kudapan lokal yang autentik: keripik tela yang renyah, keripik pisang dengan rasa manis alami, serta berbagai jenis jajanan kering tradisional lainnya yang tertata melimpah. Di sinilah aku menemukan sebuah pelajaran berharga, bahwa kemuliaan sebuah hari raya tidak diukur dari tingginya harga sajian, melainkan pada ketulusan tangan yang mengolahnya. Kudapan-kudapan ini adalah hasil dari kesabaran merawat tanaman dan ketelatenan mengolah anugerah tanah. Di balik teksturnya yang sederhana, tersimpan kejujuran rasa yang tidak dimanipulasi.
Puncak dari jamuan siang itu adalah sepiring rujak ulek hasil racikan tangan Nenek yang luar biasa enak. Aroma terasi bakar, legitnya gula merah, dan pedasnya cabai rawit menyatu dalam sebuah cobek batu tua yang telah menjadi saksi bisu sejarah keluarga. Di sini, aku belajar bahwa kebahagiaan sering kali bersifat sederhana, ia bukan tentang seberapa banyak harta yang bisa dipamerkan, melainkan tentang kedamaian jiwa saat berkumpul dengan keluarga.
Perjalanan ini menjadi pengingat bagi diri sendiri bahwa di balik kemajuan zaman yang menuntut kecepatan, kita perlu sesekali pulang menuju kesederhanaan. Kembali ke alam adalah cara terbaik untuk menyembuhkan diri dari keletihan eksistensial, dan Lebaran di rumah Nenek adalah suatu perjalanan berharga untuk mempelajari kembali arti “cukup”







