Hari Kedua “Holiday Pesantren” Ponpes Darun Nun: Dari Keseruan Bahasa Arab hingga Seni Literasi

MALANG – Memasuki hari kedua pelaksanaan “Holiday Pesantren” pada Selasa (23/6), atmosfer positif kian terasa di Pondok Pesantren (Ponpes) Darun Nun Malang. Para santri tampak mulai beradaptasi dengan baik dan menikmati ritme kehidupan di dalam pondok. Agenda hari kedua ini didominasi oleh pembelajaran bahasa asing yang interaktif serta penguatan literasi kreatif.

Antusiasme Belajar Bahasa Arab Lewat Metode Visual

Kegiatan pada Selasa pagi diawali dengan kelas Bahasa Arab yang dikemas secara unik dan edukatif oleh Dr. Alfiatus Syarofah, M.Pd. Dalam pemaparannya, akademisi yang akrab disapa Ustadzah Alfi ini menekankan bahwa Bahasa Arab merupakan bahasa yang indah sekaligus bahasa pemersatu umat melalui Al-Qur’an.

Guna mempermudah pemahaman, pembelajaran dilakukan lewat metode bernyanyi bersama. Puncak keseruan terjadi saat para santri ditantang untuk menyusun puzzle kosakata Bahasa Arab secara berkelompok dan menempelkannya di dinding Aula. Metode ini berhasil memicu kerja sama tim dan konsentrasi para santri.

Usai memeras otak di kelas bahasa, para santri diberikan waktu jeda istirahat yang relaks. Pihak panitia memfasilitasi waktu senggang ini dengan memutar tayangan animasi Upin & Ipin edisi Idul Adha, yang disambut dengan gelak tawa dan antusiasme tinggi oleh seluruh peserta.

Menanamkan Prinsip “MBG” dalam Menulis

Memasuki sesi siang, panggung literasi diambil alih oleh Ustadz Ahmad Rofiqi Hasan. Ustadz Hasan membekali para santri dengan dasar-dasar kepenulisan kreatif. Beliau memperkenalkan sebuah jargon motivasi untuk memantik rasa percaya diri para santri, yaitu MBG (Menulis, Berkarya, Gembira).

“Menulis itu pada dasarnya adalah hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja, asalkan kita memulainya dengan rasa gembira,” tutur Ustadz Hasan memotivasi.

Sebagai implementasi teori, para santri langsung ditugaskan melakukan praktik deskriptif. Mereka diminta mengidentifikasi serta menuliskan kombinasi kata benda dan kata sifat berdasarkan visual alam—seperti sawah, gunung, dan sungai—yang ditampilkan melalui layar proyektor.

Rangkaian kegiatan siang kemudian dijeda untuk pelaksanaan Shalat Dzuhur berjemaah, yang dilanjutkan dengan program bimbingan tahsin (perbaikan bacaan) serta tahfidz (hafalan) Al-Qur’an, sebelum akhirnya ditutup dengan makan siang bersama.

Melatih Kekompakan Melalui Fun Games dan Seni Banjari

Sore hari menjadi momen yang paling dinantikan melalui agenda fun games. Berbagai perlombaan kelompok digelar, mulai dari jalan estafet hingga uji daya ingat gambar. Selain menyegarkan pikiran, aktivitas fisik ini bertujuan untuk membangun kemandirian, sportivitas, dan solidaritas antar-santri.

Memasuki malam hari, para santri disuguhkan dengan kegiatan emosional dan seni melalui pelatihan musik banjari (hadrah) serta pembacaan Sirah Nabawiyah (sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW). Kebiasaan baik juga mulai ditanamkan menjelang istirahat malam, di mana para santri diwajibkan menulis catatan harian (diary) mengenai refleksi seluruh aktivitas yang telah mereka lalui sepanjang hari.

Hari kedua ditutup dengan istirahat total guna mempersiapkan fisik para santri menyambut agenda hari ketiga, yang diproyeksikan akan jauh lebih menantang melalui kegiatan outbound luar ruangan.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp