Dari Pesantren Lahir Ratusan Buku dan Ribuan Karya, Santri Darun Nun Menghidupkan Literasi
Malang — Di tengah derasnya arus digital yang sering membuat generasi muda lebih banyak menjadi penikmat konten daripada pencipta, Pondok Pesantren Darun Nun Malang justru memilih jalan yang berbeda. Dengan tagline “Berkarya dan Berbahasa”, pesantren ini meneguhkan diri sebagai pesantren literasi yang mendorong setiap santri bukan hanya menjadi pembaca kitab, tetapi juga penulis masa depan.
Tradisi mengaji tetap menjadi ruh pendidikan di Darun Nun. Namun, di sela-sela kajian kitab, diskusi, dan pembelajaran bahasa, para santri juga ditempa untuk menuangkan gagasan melalui artikel, puisi, cerpen, opini, esai, hingga buku.
Hasilnya tidak sedikit. Hingga hari ini telah lahir ribuan artikel, puisi, cerpen, dan tulisan opini karya santri Darun Nun yang dipublikasikan di berbagai media, baik cetak maupun digital. Lebih dari itu, puluhan judul buku telah berhasil diterbitkan sebagai buah dari budaya literasi yang terus dipupuk di lingkungan pesantren.
Beberapa karya tersebut antara lain Relung Sendu, Setumpuk Hikmah di Telaga Ilmu, Buaian Sebelum Tidur, Menapaki Jalan Menuju Ahli Ilmu, Putri Kecil dalam Pelukan Ayah, Jalan Cinta, Ketika Belum Menjadi Apa-Apa, 99 Cinta, Ensiklopedia Pondok Pesantren se-Malang Raya, hingga berbagai buku antologi puisi, cerpen, dan karya ilmiah lainnya.

Bagi Darun Nun, menulis bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan bagian dari dakwah dan ikhtiar mengabadikan ilmu. Sebagaimana ungkapan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Kalimat inilah yang menjadi salah satu semangat untuk terus membangun budaya literasi di lingkungan pesantren.
Pengasuh Pondok Pesantren Darun Nun menegaskan bahwa santri masa kini tidak cukup hanya mampu membaca kitab dan memahami ilmu agama. Mereka juga harus mampu menyampaikan gagasan kepada masyarakat melalui tulisan yang berkualitas.
“Santri tidak hanya mengaji dan mengkaji, tetapi juga berkarya. Ilmu yang dipahami harus mampu melahirkan karya yang memberi manfaat bagi umat.”
Budaya ini dibangun secara sistematis. Santri dibiasakan membaca setiap hari, berdiskusi, mengikuti kelas kepenulisan, bedah buku, hingga mendapat pendampingan dalam proses menerbitkan karya. Dengan demikian, literasi tidak berhenti pada membaca, tetapi berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan menghasilkan karya yang bernilai.
Langkah tersebut sejalan dengan penguatan budaya literasi di pesantren yang kini semakin mendapat perhatian sebagai bagian dari tradisi intelektual Islam. Pesantren sejak lama dikenal sebagai ruang tumbuhnya tradisi baca-tulis, dan saat ini semakin banyak mendorong lahirnya karya sastra, artikel, maupun buku dari kalangan santri.
Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), banjir informasi, dan persaingan global, kemampuan literasi menjadi salah satu kompetensi utama. Generasi yang hanya mampu mengonsumsi informasi akan tertinggal dibanding mereka yang mampu menciptakan pengetahuan, menawarkan solusi, dan menyebarkan inspirasi melalui tulisan.

Karena itu, Darun Nun memandang bahwa santri masa kini harus menjadi generasi yang melek literasi, melek bahasa, melek teknologi, sekaligus kokoh dalam nilai-nilai keislaman. Mereka harus mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai penjaga akhlak dan peradaban.
Dengan semangat “Berkarya dan Berbahasa”, Pondok Pesantren Darun Nun berharap akan terus melahirkan generasi santri yang tidak hanya alim dalam ilmu, tetapi juga produktif dalam berkarya. Sebab, sejarah membuktikan bahwa peradaban besar selalu dibangun oleh orang-orang yang membaca, berpikir, dan menulis. Dan dari bilik-bilik pesantren, karya-karya itu terus lahir untuk menerangi masa depan.






