MALANG – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Pondok Pesantren Darun Nun Putri menggelar kajian Sirah Nabawiyah mendalam bertajuk “Meneladani Rasul, Menggapai Ridha Allah” pada Selasa (25/8). Berlangsung di Aula Blok K ba’da Shubuh, acara ini menghadirkan akademisi sekaligus pengasuh, Abi Halimi Zuhdy, sebagai pemateri utama. Suasana khusyuk dan antusiasme tinggi tampak menyelimuti seluruh santri serta jamaah yang hadir sejak pagi hari.

Kajian diawali dengan menegaskan posisi Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (suri teladan terbaik) bagi umat manusia. Namun, dalam penyampaian materinya, Abi Halimi tidak hanya mengulas aspek sejarah, tetapi juga membedah makna peringatan maulid secara linguistik dan etimologis.
Beliau memaparkan bahwa kata maulid, mauludan, maupun maulidan berakar dari tiga huruf Arab: wau, lam, dan dal (w−l−d). Karakteristis akar kata ini berhubungan erat dengan konsep kelahiran dan turunan bahasa seperti walid (ayah), walidah (ibu), walad (anak), wiladah (proses kelahiran), hingga maulid yang bermakna tempat atau waktu dilahirkan.
Abi Halimi menegaskan pentingnya pemahaman kebahasaan ini untuk menjaga batasan akidah dan ketauhidan umat Islam agar tidak terjerumus pada sikap mengutuskan nabi secara berlebihan.
“Segala yang lahir itu sifatnya baru dan tidak abadi. Kita mencintai Nabi Muhammad SAW, tetapi jangan pernah menuhankan beliau sebagaimana kaum terdahulu mengultuskan Nabi Isa AS atau menganggap Uzair sebagai anak Allah (Uzair ibnullah),” ujar Abi Halimi di hadapan para santri.
Lebih jauh, beliau menjelaskan fenomena penggunaan istilah dalam memperingati hari kelahiran. Penggunaan kata maulid dipilih secara khusus dan tidak menggunakan istilah milad atau dies natalis (yang berakar dari kata natal/kelahiran), lantaran istilah-istilah tersebut sudah sangat masyhur digunakan dalam tradisi peringatan kelahiran Nabi Isa AS.
Menjawab pertanyaan mendasar mengenai relevansi tradisi ini, Abi Halimi meluruskan anggapan umum mengenai kebutuhan peringatan maulid. Beliau menegaskan bahwa Rasulullah SAW sama sekali tidak membutuhkan majelis peringatan dari umatnya, melainkan sebaliknya.
“Nabi tidak membutuhkan peringatan maulid, kitalah yang sangat membutuhkan maulid. Pembacaan kitab-kitab maulid seperti Maulid Diba’ pada hakikatnya adalah sarana pembacaan sirah dan sejarah perjuangan beliau. Kepentingan itu ada pada diri kita untuk menimba ilmu,” jelasnya.
Beliau juga menambahkan bahwa salah satu bukti utama seseorang mencintai Allah SWT adalah dengan mencintai Al-Qur’an dan meneladani sosok yang kepadanya Al-Qur’an diturunkan. Peringatan ini diharapkan menjadi momentum transformasi diri bagi santri agar tidak sekadar membasahi lisan dengan selawat, tetapi juga mewujudkan nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam tindakan nyata sehari-hari.
Rangkaian acara memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ini ditutup dengan pembacaan doa bersama, memohon keberkahan majelis, bertambahnya rasa cinta kepada Rasulullah SAW, serta ketetapan iman bagi seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Darun Nun.






