Oleh Alvian Izzul Fikri
Pernahkah ketika kita curhat/cerita ke temen, tapi dia justru sibuk dengan hpnya? Rasanya tentu kurang nyaman. Sebaliknya, pernahkah kita merasa begitu dihargai hanya karena seseorang mau berhenti sejenak, mendengarkan ceritamu, lalu berkata, “owala, ngunu ta.. aku paham saiki,,”?
Pada dasarnya, kita semua ingin diperlakukan dengan baik. Kita ingin dihargai, didengarkan, dan diperlakukan dengan adil. Menariknya, jauh sebelum istilah empathy dikenal dalam psikologi modern, ex: Golden rule, Islam telah lebih dahulu mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada sesama.
Berbicara tentang cara menjaga relationship, kita sering kali membayangkan nasehat-nasehat yang panjang dan rumit. Padahal, ada satu prinsip yang sangat sederhana, tetapi cukup dalam untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip tersebut dibahas oleh Syekh Izzuddin bin Abdissalam dalam kitab Syajaratul Ma’arif, pada bab Al-Ihsanu bil Akhlaqi wal A’mali. Dalam fasal Fi Muamalati an-naasi Bima Tuhibbu an Yuamiluka Bihi hal 179, beliau menuliskan:
انظر إلى كل ما تحب أن تعامل به من الأقوال والأخلاق والأعمال فعاملهم بمثله
“Perhatikan segala ucapan, akhlak, dan perbuatan yang kamu sukai untuk diperlakukan kepadamu, lalu lakukanlah hal yang sama kepada mereka.”
Kaedah tersebut tidak berdiri tanpa dasar. Syekh Izzuddin memulainya dengan dua landasan. Pertama, firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 9. Ayat ini mengingatkan manusia agar memiliki rasa takut jika meninggalkan generasi yang lemah dan tidak berdaya. Karena itu, Allah memerintahkan untuk bertakwa serta berkata dengan perkataan yang benar. Pesannya tidak hanya berkaitan dengan keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga menunjukkan pentingnya menjaga hak dan keadaan orang-orang yang berada di sekitar kita.
Landasan kedua adalah sabda Nabi ﷺ tentang keinginan seseorang untuk mendapatkan keselamatan dari api neraka dan memperoleh surga. Di antara sifat yang disebutkan adalah memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan. Pesan ini menunjukkan bahwa kebaikan kepada sesama bukan sekadar perkara etika dalam pergaulan. Ia juga memiliki kaitan erat dengan kehidupan seorang Muslim di hadapan Allah.
Kaidah ini sebenarnya sudah barang tentu dekat sekali dengan kehidupan kita. Kita tentu tahu bagaimana rasanya ketika dihargai, didengarkan, atau diperlakukan dengan lembut. Begitu pula sebaliknya, kita tahu betapa tidak menyenangkannya ketika diremehkan, dibentak, atau diperlakukan tanpa mempertimbangkan perasaan. Maka, apa yang kita harapkan dari orang lain semestinya juga menjadi sesuatu yang kita usahakan untuk diberikan kepada mereka.
Jika kita senang dihargai, belajarlah menghargai.
Jika kita ingin didengarkan, berikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan apa yang ada dalam benaknya.
Jika kita berharap kesalahan kita dimaklumi, jangan terlalu cepat menghakimi kesalahan orang lain.
sebelum melihat bagaimana orang lain memperlakukan kita, cobalah terlebih dahulu melihat bagaimana kita memperlakukan mereka.
Membangun hubungan yang baik tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Ia bisa tumubuh dari kebiasaan kecil yang sering kita anggap sepele: memilih kata-kata yang tidak menyakiti, menahan diri ketika sedang marah, menghargai orang lain meskipun berbeda pandangan, atau memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki kesalahannya Sebab, apa yang kita inginkan dari orang lain, pada dasarnya bisa kita mulai dengan memberikannya terlebih dahulu kepada mereka. wallahu a’lamu bisshawab







