Pertanda Zaman Edan
Oleh: Yahdil Falakhi Alkhikam
Di sebuah kota yang tak pernah benar-benar tidur, suara bising kendaraan bercampur dengan riuhnya percakapan manusia yang seolah tak pernah habis. Lampu-lampu jalan menyala terang, namun anehnya, semakin terang kota itu, semakin gelap pula hati sebagian penghuninya.
Orang-orang menyebutnya kemajuan. Gedung-gedung tinggi menjulang, teknologi semakin canggih, dan informasi bisa didapat hanya dalam hitungan detik. Tapi bagi seorang lelaki tua bernama Karto, semua itu hanyalah pertanda: pertanda bahwa zaman sedang tidak baik-baik saja.
Karto bukan siapa-siapa. Ia hanya penjaga warung kecil di pinggir jalan. Setiap hari ia duduk di bangku kayu, menyeduh kopi, dan mengamati dunia yang berjalan di depannya. Dari situlah ia belajar banyak hal bukan dari buku, tapi dari tingkah manusia.
Suatu pagi, ia melihat seorang pemuda berteriak marah hanya karena pesanan makanannya datang terlambat. Di sore hari, ia melihat seorang ibu memarahi anaknya di depan umum karena nilai sekolah yang tidak sempurna. Malam harinya, ia menyaksikan sekelompok orang tertawa sambil menyebarkan kabar bohong di ponsel mereka.
Karto menghela napas panjang.
“Zaman edan,” gumamnya pelan.
Suatu hari, seorang mahasiswa bernama Rian datang ke warungnya. Wajahnya kusut, matanya lelah. Ia memesan kopi lalu duduk di depan Karto.
“Pak, kenapa ya rasanya hidup sekarang semakin sulit?” tanyanya tiba-tiba.
Karto tersenyum tipis. “Sulit itu dari luar, atau dari dalam?”
Rian terdiam. Ia tidak segera menjawab.
Karto melanjutkan, “Dulu orang sulit makan, tapi hatinya tenang. Sekarang orang mudah makan, tapi pikirannya penuh beban.”
Rian mengangguk pelan. Ia merasa kata-kata itu menohok.
Hari demi hari, Rian mulai sering datang ke warung itu. Ia tidak hanya minum kopi, tapi juga mendengar cerita-cerita Karto. Tentang kejujuran yang mulai langka, tentang kesabaran yang dianggap kelemahan, dan tentang manusia yang lebih sibuk terlihat baik daripada benar-benar menjadi baik.
“Pak, apakah ini yang disebut zaman edan?” tanya Rian suatu malam.
Karto menatap langit yang dipenuhi lampu kota. “Zaman edan itu bukan karena dunia berubah, tapi karena manusia lupa pada nilai-nilai yang dulu mereka pegang.”
Rian termenung. Ia teringat bagaimana ia sendiri sering ikut arus menyebarkan berita tanpa memastikan kebenarannya, menilai orang dari tampilan luar, dan mengejar pengakuan di media sosial.
Beberapa minggu kemudian, sebuah kejadian besar terjadi. Seorang pejabat kota tertangkap karena korupsi. Berita itu menyebar cepat. Orang-orang marah, mencaci, bahkan menghujat tanpa henti. Tapi anehnya, sebagian dari mereka melakukan hal yang sama dalam skala kecil: menipu, berbohong, dan mengambil yang bukan haknya.
Rian kembali ke warung Karto dengan wajah penuh pikir.
“Pak, kenapa orang marah pada kejahatan, tapi tetap melakukannya?”
Karto tersenyum pahit. “Karena lebih mudah melihat dosa orang lain daripada memperbaiki diri sendiri.”
Kata-kata itu membuat Rian terdiam lama.
Sejak hari itu, ia mulai berubah. Ia berhenti ikut menyebarkan kabar yang belum jelas, mulai belajar jujur pada dirinya sendiri, dan mencoba menjadi baik tanpa perlu dilihat orang lain.
Suatu malam, ia berkata kepada Karto, “Pak, mungkin saya tidak bisa mengubah dunia, tapi saya bisa mulai dari diri saya sendiri.”
Karto tersenyum bangga. “Nah, itu tanda bahwa kau tidak ikut menjadi bagian dari zaman edan.”
Angin malam berhembus pelan. Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah berhenti, masih ada secercah harapan bahwa meski zaman terasa semakin gila, selalu ada orang-orang yang memilih untuk tetap waras.
Sumber Ilustrasi; Shutterstock







