“Inkompetsensi: Ketika Kebodohan Jadi Budaya yang Kita Pelihara”
Oleh: Ilham Fajar Ramadani
Akhir-akhir ini para akademesi mulai nampak dipermukaan, menandakan transisi budaya masyarakat yang awalnya enggan untuk berpikir kritis kini sudah mulai tersadarkan. Ada yang menarik untuk dibahas yakni ucapan seorang akademisi bernama Bagus Muljadi, beliau merupakan lulusan dari S3 luar negeri tepatnya di Inggris. Dalam sebuah podcast beliau berstatemen “Inkomepetensi merupakan budaya kebdohan yang dilestarikan yang disebabkan karena cacatnya pemikiran.” Setelah mendengar perkataan ini saya mulai berpikir apakah iya hal itu benar adanya? Yuk mari kita bahas
Sejak kecil kita selalu didik dan hanya diajarkan sesuatu yang bersifat fakta, tanpa diminta untuk memikirkannya. Contohnya seperti dalam belajar, matematika yang hanya diajarkan penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian. Kita tidak pernah di pantik untuk mengetahui sebenarnya tujuannya untuk apa?. Filosofinya seperti apa? Dan hal-hal lain sebagainya. Mungkin dari semenjak itu kita terbiasa menerima fakta bukan memikirkannya. Kita baru diajarkan cara berpikir yang benar itu kala duduk dibangku perkuliahan. Belajar tentang filsafat; Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi. Padahal hal ini sangat penting, kenapa kok diajarkannya waktu sudah duduk dibangku kuliah? Saya pun menyadari hal ini ketika saya memasuki dunia perkuliahan. Yang ternyata berpikir kritis, analitis dan terstruktur itu sangatlah penting.
Ya.. sebab itulah statmen yang dilontarkan Prof Bagus menggelitik otak saya. Jika dipikir-pikir kayak nya emang iya. Mayoritas masyarakat kita itu males untuk berpikir, yang pada akhirnya berdampak terhadap kemampuan nalar mereka. Oke mungkin pembaca bingung ya terus apa kaitannya dengan inkomptensi?. Berpikir kritis itu membentuk otak kita untuk terlatih bernalar yang benar. Nah ketika berpikir kritis ini di implementasikan pada kehidupan sehari-hari, Saya jamin semua hal pasti bisa dilaksanakan dengan benar dan semua tujuan bisa dicapai. Ya… karena orang yang nalarnya baguss itu pasti dia berkompetensi dalam semua hal. Balik lagi tapi, nalar bagus itu harus dilatih dengan berpikir kritis.
Tapi pasti banyak kayaknya yang tidak setuju dengan opini yang aku tulis ini, soalnya memang sudut pandang orang itu berbeda-beda, dan saya juga sadar kompetensi orang itu bukan hanya dilihat dari cara berpikirnya. Yaa intinya saya berpesan kepada siapapun yang membaca tulisan ini, Ayo kita lestarikan budaya berpikir kritis. Terkahir sebagai penutup saya mengutip kata-kata dari ilmuan dari pemikir terkenal dan nama beliau mashur di seluruh dunia yaitu Albert enstein yang mengatakan:
“Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.”
“Pendidikan bukanlah mempelajari fakta, tetapi melatih pikiran untuk berpikir.”
AYOO BERPIKIR KRITISSS







