BERANGKAT DENGAN SEDIH, DI OBATI OLEH BAHTERA YANG MEWAH

Oleh: Ahmad Fakhri Fauzan

Tepat tanggal 10 Juli 2024 menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Hari itu adalah hari ketika saya harus meninggalkan kota tercinta dan memulai perjalanan panjang menuju Pulau Jawa. Bagi sebagian orang, bepergian mungkin merupakan sesuatu yang biasa. Namun, bagi saya, perjalanan ini terasa berbeda. Ada rasa bahagia karena akan mendapatkan pengalaman baru, tetapi di sisi lain ada rasa sedih karena harus meninggalkan orang-orang yang selama ini begitu berarti dalam hidup saya.

Sejak pagi, pikiran saya sudah dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Bagaimana kehidupan saya nanti di tempat yang jauh? Apakah saya mampu beradaptasi dengan lingkungan baru? Apakah saya bisa menjalani semuanya tanpa orang-orang yang selama ini selalu berada di dekat saya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus muncul dalam pikiran saya hingga waktu keberangkatan semakin dekat.

Sebelum benar-benar pergi, saya merasa harus berpamitan kepada orang-orang yang selama ini telah berjasa dalam kehidupan saya. Saya mendatangi guru-guru yang telah memberikan ilmu dan nasihat. Saya juga berpamitan kepada teman-teman seperjuangan yang telah menemani berbagai cerita dalam kehidupan saya. Tidak lupa pula saya berpamitan kepada orang-orang terdekat yang selama ini selalu memberikan dukungan. Saya merasa tidak akan pernah cukup hanya dengan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Sebab, tanpa kehadiran mereka, mungkin saya tidak akan menjadi diri saya yang sekarang. Banyak hal yang telah saya pelajari dari mereka, bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang kehidupan.

“Doakan saya semoga perjalanan ini membawa kebaikan,” ucap saya ketika berpamitan.

Saya berusaha tersenyum ketika mengucapkan kalimat itu. Namun, di balik senyum tersebut sebenarnya terdapat rasa berat yang sulit saya sembunyikan. Saya tahu bahwa setelah hari itu, saya akan berada jauh dari mereka.

Sore pun tiba. Mobil travel yang akan membawa saya menuju Makassar sudah siap. Barang-barang telah dimasukkan ke dalam mobil. Saya berdiri sejenak sambil memandang sekitar. Tempat-tempat yang selama ini terasa biasa tiba-tiba menjadi begitu berharga. Jalan yang sering saya lewati, rumah-rumah di sekitar, dan suasana kota yang selama ini saya kenal perlahan terasa berbeda.

Ketika mobil mulai bergerak, saya melihat dari balik kaca jendela. Saya memandang tempat asal saya untuk terakhir kalinya sebelum perjalanan panjang dimulai. Semakin jauh kendaraan berjalan, semakin kecil pula pemandangan yang saya kenal. Pada saat itulah saya benar-benar menyadari bahwa saya sedang pergi. Saya bukan hanya meninggalkan sebuah tempat, tetapi juga meninggalkan banyak kenangan di dalamnya. Ada guru, teman, keluarga, dan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Namun, saya mencoba menenangkan diri. “Saya bukan pergi untuk selamanya. Saya hanya sedang memulai perjalanan untuk mencari masa depan,” kata saya dalam hati. Kalimat sederhana itu sedikit membuat hati saya lebih tenang.

Sekitar empat jam kemudian, saya tiba di Kota Makassar. Kota yang dikenal sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu menjadi tempat persinggahan sebelum perjalanan saya dilanjutkan menuju Pulau Jawa. Malam telah tiba. Suasana kota masih cukup ramai, tetapi pikiran saya justru semakin dipenuhi rasa haru. Sekitar pukul 23.00, saya menuju pelabuhan. Perjalanan menuju pelabuhan terasa berbeda. Kali ini saya benar-benar sadar bahwa sebentar lagi saya akan meninggalkan tanah Sulawesi dan menyeberangi lautan menuju tempat yang jauh.

Sesampainya di pelabuhan, saya melihat banyak orang yang sedang melakukan perjalanan. Ada yang bersama keluarga, ada yang mengantar orang terdekat, ada pula yang seperti saya, yaitu seseorang yang sedang memulai perjalanan menuju tempat baru. Kemudian pandangan saya tertuju kepada sebuah kapal besar yang berada di hadapan saya.

Saya terdiam beberapa saat.

“Apakah itu kapal yang akan saya tumpangi?”

Ternyata benar. Kapal tersebut bernama KM Dharma Kencana 7. Dari kejauhan saja kapal itu sudah terlihat begitu besar dan menjulang tinggi. Bagi saya, ukurannya seperti sebuah gedung yang berdiri di atas lautan. Saya yang sebelumnya belum pernah melihat kapal sebesar itu tentu merasa kagum. Rasa sedih yang sejak sore memenuhi pikiran saya untuk beberapa saat berubah menjadi rasa penasaran. Saya mulai memperhatikan kapal tersebut dengan lebih dekat.

Setelah mendapatkan kesempatan untuk naik, saya semakin terkejut melihat bagian dalamnya. Saya tidak menyangka bahwa sebuah kapal laut bisa memiliki fasilitas yang begitu lengkap. Di dalam kapal terdapat eskalator, lift, kamar-kamar penumpang, dan berbagai fasilitas lainnya. Bahkan terdapat sebuah barber. Saya berjalan sambil melihat setiap sudut kapal. Dalam hati saya berkata, “Ini kapal atau hotel?”

Saya tersenyum sendiri. Rasa kagum terhadap kapal tersebut sedikit mengalihkan pikiran saya dari kesedihan. Saya mulai menikmati perjalanan yang sedang saya jalani. Untuk beberapa saat, saya lupa bahwa sebelumnya saya merasa sangat berat meninggalkan orang-orang yang saya sayangi.

Setelah menaruh barang-barang, saya mencoba melihat suasana dari bagian luar kapal. Angin malam menyentuh wajah saya. Di hadapan saya terbentang lautan yang sangat luas. Gelapnya malam membuat laut terlihat seperti hamparan hitam yang tidak memiliki ujung. Hanya suara mesin kapal dan hembusan angin yang menemani saya.

Kapal perlahan meninggalkan pelabuhan. Saya kemudian memandang ke belakang. Daratan semakin jauh. Pada saat itu, rasa sedih yang sempat terlupakan kembali muncul. Saya teringat orang-orang yang tadi saya tinggalkan. Saya teringat guru-guru yang telah memberikan ilmu. Saya teringat teman-teman yang selama ini menemani. Saya juga teringat suasana kota tercinta yang kini perlahan semakin jauh dari pandangan.

Saya duduk dan mulai merenung. “Bagaimana kehidupan saya nanti di Pulau Jawa?” “Apakah saya mampu menghadapi semuanya?” “Apakah saya bisa bertahan jika suatu saat merasa sendirian?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dalam pikiran saya. Namun, semakin lama saya merenung, saya mulai menyadari bahwa sejak awal saya terlalu menganggap perjalanan ini sebagai sebuah perpisahan.

Padahal, mungkin perjalanan ini bukan tentang perpisahan. Perjalanan ini adalah tentang memulai sesuatu yang baru.

Saya tidak benar-benar kehilangan orang-orang yang saya tinggalkan. Guru-guru saya tetap bersama saya melalui ilmu dan nasihat yang telah mereka berikan. Teman-teman saya tetap bersama saya melalui kenangan yang telah kami lalui. Orang-orang terdekat saya juga tetap bersama saya melalui doa dan dukungan yang mereka berikan. Saya mulai memahami bahwa jarak tidak selalu berarti kehilangan. Terkadang, jarak justru membuat seseorang semakin menghargai arti kehadiran.

Saya kembali memandang laut. Ombak terus bergerak dan kapal terus melaju menuju tujuannya. Saya kemudian berpikir bahwa kehidupan manusia juga seperti perjalanan sebuah kapal. Kita tidak mungkin terus berada di satu pelabuhan. Ada waktunya kita harus berangkat, meninggalkan tempat yang nyaman, dan menuju tempat yang belum kita kenal.

Saya pun mulai merasa lebih tenang. Saya sadar bahwa saya pergi bukan hanya untuk berpindah tempat. Saya pergi untuk belajar, mencari pengalaman, menambah ilmu, dan mempersiapkan masa depan. Saya pergi karena ada sesuatu yang ingin saya capai. Kesedihan yang saya rasakan akhirnya perlahan berubah menjadi semangat.

Saya bersyukur pernah merasakan beratnya perpisahan, karena dari sana saya belajar menghargai orang-orang yang saya cintai. Saya juga bersyukur pernah merasa takut, karena dari rasa takut itulah saya belajar untuk menjadi lebih berani. Dan saya bersyukur berada di atas KM Dharma Kencana 7 malam itu. Bukan hanya karena kapal tersebut memiliki fasilitas yang mewah dan canggih, tetapi karena di atas kapal itulah saya menemukan sebuah pemikiran baru tentang perjalanan hidup saya.

Saya akhirnya memahami bahwa perjalanan bukan sekadar tentang seberapa jauh kita meninggalkan tempat asal. Perjalanan adalah tentang keberanian untuk melangkah menuju sesuatu yang belum kita ketahui.

Kapal terus membelah lautan. Di belakang saya, daratan Sulawesi Selatan semakin tidak terlihat. Di depan saya, Pulau Jawa masih jauh. Namun, kali ini saya tidak lagi merasa takut. Saya tersenyum sambil memandang laut. Saya tahu perjalanan ini masih panjang. Akan ada banyak hal yang harus saya hadapi. Akan ada rasa rindu, kesulitan, dan mungkin kegagalan. Tetapi saya tidak ingin menjadikan semua itu sebagai alasan untuk berhenti.

Malam itu saya akhirnya mengerti satu hal: untuk mencapai daratan di seberang, sebuah kapal harus berani meninggalkan pelabuhan. Begitu pula dengan kehidupan saya. Untuk mencapai masa depan, saya harus berani meninggalkan kenyamanan dan memulai perjalanan.

Saya memang berangkat dengan sedih. Namun, di atas bahtera yang mewah itu, saya menemukan keberanian untuk melanjutkan perjalanan. Saya tidak pergi untuk melupakan tempat asal saya. Saya pergi dengan membawa semua doa, kenangan, ilmu, dan kasih sayang dari orang-orang yang saya tinggalkan.

Dan malam itu, perjalanan menuju Pulau Jawa bukan lagi terasa seperti sebuah perpisahan. Ia telah menjadi awal dari sebuah perjalanan baru dalam hidup saya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp