Di Sini, Bumi Berbisik
Oleh: Raudhatul Jannah
Aku berdiri di lantai rimba yang basah,
di mana waktu melambat dan kota-kota terlupakan.
Akar-akar raksasa memeluk tanah seperti jemari kuno,
menjaga rahasia abad yang lalu
yang tak pernah sempat kita dengar di sela bising klakson.
Lihatlah ke atas,
pada kanopi hijau yang menapis cahaya surya.
Matahari jatuh dalam berkas-berkas tipis,
menjadi panggung bagi debu dan spora yang menari,
seperti pecahan emas yang sengaja disebar malaikat.
Angin pegunungan turun membawa dingin,
menyapu kening yang lelah oleh ambisi manusia.
Ia membawa aroma tanah basah, pinus yang memar,
dan nyanyian sunyi dari puncak-puncak berbatu.
Di sini, alam tidak meminta kita menjadi apa-apa,
ia hanya meminta kita untuk ada.
Dengarlah gemercik jeram di kejauhan,
sungai mengalir tanpa pernah ragu ke mana ia pergi.
Batu-batu hitam yang halus menyerah pada arus,
mengajarkan kita tentang cara menerima,
tentang cara melepaskan apa yang harus berlalu.
Kita terlalu lama mengunci diri dalam kotak semen,
menatap layar datar dan melupakan horizon.
Padahal di luar sini, kehidupan merayakan dirinya sendiri
tanpa tepuk tangan, tanpa validasi,
hanya kemurnian yang terus tumbuh dalam diam.
Pulanglah sejenak ke pelukan ibu yang sejati,
biarkan kakimu telanjang menyentuh lumut.
Sebab di sini, di bawah langit yang tak berbatas,
jiwamu yang retak akan kembali utuh.







