Tidak Seburuk Firaun

Tidak Seburuk Firaun

Oleh: Yahdil Falakhi Alkhikam

Sejak pagi, kota kecil itu dipenuhi berita tentang seorang pejabat bernama Haris. Namanya muncul di hampir semua media. Bukan karena prestasi, melainkan karena berbagai tuduhan yang membuat masyarakat geram. Ia disebut sebagai orang yang angkuh, suka menggunakan kekuasaan, dan tidak peduli terhadap penderitaan rakyat.

Di sebuah warung kopi, orang-orang membicarakannya dengan penuh emosi.

“Kalau aku yang punya kekuasaan seperti dia, tidak mungkin aku melakukan hal sekejam itu,” kata seorang lelaki.

“Dia sudah lupa bahwa jabatan itu hanya sementara,” sahut yang lain.

Haris memang dikenal sebagai pejabat yang keras. Ia sering memarahi bawahannya, menutup telinga terhadap kritik, dan lebih senang dikelilingi orang-orang yang selalu mengatakan bahwa dirinya benar. Ketika ada rakyat yang mengeluh tentang harga kebutuhan yang semakin mahal, ia hanya berkata bahwa semua itu adalah bagian dari kehidupan.

Namun, tidak banyak orang yang mengetahui kehidupan Haris sebelum ia menjadi pejabat.

Dahulu, ia hanyalah anak seorang pedagang kecil. Ayahnya meninggal ketika Haris masih duduk di bangku sekolah. Ibunya bekerja keras mencuci pakaian milik tetangga untuk membiayai hidup mereka. Haris pernah berjanji kepada ibunya bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi orang besar agar keluarganya tidak lagi hidup dalam kesulitan.

Janji itu akhirnya terwujud.

Haris mendapatkan jabatan tinggi. Rumahnya besar, mobilnya mewah, dan orang-orang yang dahulu tidak mengenalnya kini berlomba-lomba mendekatinya. Tetapi semakin tinggi kedudukannya, semakin jauh ia dari dirinya yang dahulu.

Suatu hari, seorang pegawai tua bernama Pak Yusuf memberanikan diri menemuinya.

“Pak Haris, saya ingin menyampaikan sesuatu.”

“Apa?” jawab Haris singkat.

“Banyak masyarakat yang merasa keputusan Bapak terlalu berat. Mungkin ada baiknya kita mendengarkan mereka.”

Haris menatap Pak Yusuf dengan tajam.

“Kamu mau mengajari saya bagaimana menjalankan pemerintahan?”

“Bukan begitu, Pak. Saya hanya mengingatkan.”

“Tidak perlu mengingatkan saya. Saya tahu apa yang saya lakukan.”

Pak Yusuf terdiam. Ia kemudian meninggalkan ruangan dengan hati berat.

Malamnya, Haris pulang ke rumah. Ia mendapati ibunya yang sudah tua sedang duduk sendirian di ruang tamu. Ibunya menatap Haris cukup lama.

“Kenapa Ibu melihatku seperti itu?” tanya Haris.

“Ibu sedang mencoba mencari anak Ibu yang dulu.”

Haris terdiam.

“Dulu kamu pernah berkata ingin menjadi orang besar agar bisa membantu banyak orang. Sekarang kamu memang sudah menjadi orang besar, tetapi Ibu tidak melihat kebahagiaan di wajahmu.”

Haris mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ibu tidak mengerti urusan pemerintahan.”

“Benar. Ibu tidak mengerti pemerintahan. Tapi Ibu mengerti manusia.”

Kalimat itu membuat Haris tidak mampu menjawab.

Ibunya kemudian mengambil sebuah buku lama dari lemari. Buku itu sudah kusam dan penuh bekas lipatan.

“Ini buku yang dulu sering kamu baca ketika masih kecil.”

Haris membukanya. Di salah satu halaman terdapat catatan yang pernah ia tulis sendiri:

Jangan menjadi orang yang merasa paling berkuasa.

Ia terdiam lama.

Malam semakin larut. Haris duduk sendirian di ruang kerjanya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia membuka kembali berita tentang dirinya. Ia membaca komentar masyarakat satu per satu.

Ada yang mencacinya. Ada yang kecewa. Ada pula yang menceritakan bagaimana keputusan pemerintahannya membuat kehidupan mereka semakin sulit.

Haris merasa dadanya sesak.

Ia kemudian teringat kisah Firaun. Seorang penguasa yang begitu sombong hingga menganggap dirinya memiliki kekuasaan mutlak. Ia mengingat bagaimana kekuasaan pada akhirnya tidak menyelamatkan Firaun dari kehancuran.

“Setidaknya aku belum seperti Firaun,” gumamnya.

Namun setelah kalimat itu terucap, ia justru merasa malu.

“Apakah aku harus menunggu menjadi seburuk Firaun untuk menyadari bahwa aku telah salah?”

Pertanyaan itu menghantam pikirannya.

Keesokan harinya, Haris mengumpulkan para pegawainya.

“Saya ingin semua keputusan yang merugikan masyarakat ditinjau kembali,” katanya.

Para pegawai saling berpandangan.

“Pak, apakah Bapak yakin?”

Haris mengangguk.

“Saya terlalu lama mengira bahwa menjadi pemimpin berarti selalu benar. Padahal pemimpin juga manusia. Bisa salah, bisa lupa, dan bisa tersesat.”

Sejak hari itu, perubahan perlahan terjadi. Haris mulai turun langsung menemui masyarakat. Ia mendengarkan keluhan tanpa memotong pembicaraan. Ia mulai memahami bahwa angka-angka dalam laporan tidak selalu mampu menggambarkan penderitaan manusia.

Tidak semua orang langsung memaafkannya. Ada yang tetap membencinya. Ada yang menganggap perubahan itu hanya pencitraan. Haris menerima semuanya.

Ia sadar, meminta maaf jauh lebih mudah daripada mengembalikan kepercayaan.

Beberapa bulan kemudian, Haris kembali ke rumah ibunya. Ia duduk di samping perempuan tua itu seperti ketika masih kecil.

“Ibu,” katanya pelan, “aku ternyata tidak sebaik yang kukira.”

Ibunya tersenyum.

“Tidak apa-apa. Yang penting kamu masih mau menjadi lebih baik.”

Haris menundukkan kepala.

Saat itu ia mengerti bahwa manusia tidak harus menjadi sempurna untuk berubah. Bahkan seseorang yang pernah tersesat masih memiliki kesempatan untuk kembali.

Ia memang pernah menggunakan kekuasaan dengan buruk. Ia pernah menyakiti banyak orang dengan kesombongannya. Namun, ia belajar bahwa kesalahan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk terus berbuat salah.

“Benar,” pikirnya. “Aku mungkin tidak seburuk Firaun. Tetapi itu bukan alasan untuk merasa sudah cukup baik.”

Sebab ukuran kebaikan bukanlah seberapa buruk orang lain dibandingkan kita.

Ukuran kebaikan adalah seberapa sungguh-sungguh kita berusaha memperbaiki diri ketika menyadari bahwa kita telah salah.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru