MIMPI
Oleh: Yahdil Falakhi Alkhikam
Malam itu, Raka kembali duduk sendirian di teras rumah. Lampu kecil di atas kepalanya berkedip-kedip, sementara suara jangkrik terdengar dari halaman yang mulai basah oleh embun.
Di tangannya terdapat selembar kertas yang sudah beberapa kali ia lipat. Kertas itu bukan surat penting, bukan pula catatan kuliah. Di sana hanya tertulis satu kalimat dengan tinta hitam:
“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seseorang yang membanggakan.”
Raka tersenyum kecil membaca kalimat itu.
“Lucu juga,” gumamnya.
Kalimat tersebut ia tulis ketika masih duduk di bangku sekolah. Saat itu ia begitu yakin bahwa masa depan akan berjalan sesuai keinginannya. Ia membayangkan dirinya berdiri di sebuah ruangan besar, mengenakan pakaian rapi, menerima penghargaan, kemudian namanya disebut di depan banyak orang.
Namun, semakin dewasa, Raka mulai mengerti bahwa kehidupan tidak sesederhana bayangannya.
Banyak hal tidak berjalan sesuai rencana.
Ia pernah gagal dalam perlombaan yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan. Ia pernah mengirim tulisan ke berbagai tempat, tetapi tidak satu pun mendapat jawaban. Ia juga pernah melihat teman-temannya melangkah lebih jauh sementara dirinya masih sibuk bertanya apakah jalan yang dipilihnya benar.
Pada suatu malam, Raka berkata kepada ibunya,
“Bu, sebenarnya mimpi itu penting nggak?”
Ibunya yang sedang melipat pakaian berhenti sebentar.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena aku merasa mimpiku terlalu jauh.”
Ibunya tersenyum.
“Kalau mimpi terasa dekat, mungkin itu bukan mimpi. Tapi kalau terlalu jauh, bukan berarti tidak bisa dikejar.”
Raka terdiam.
“Tapi bagaimana kalau aku gagal?”
“Gagal itu bagian dari perjalanan.”
“Kalau berkali-kali gagal?”
Ibunya menatapnya lebih lama.
“Berarti kamu harus belajar lebih banyak.”
Jawaban itu sederhana. Tetapi malam itu Raka memikirkannya cukup lama.
Beberapa hari kemudian, Raka mendapatkan kabar bahwa tulisannya kembali ditolak. Ia membaca pesan itu berkali-kali. Ada rasa kecewa yang sulit dijelaskan. Ia merasa semua usahanya sia-sia.
Ia membuka laptop, lalu menatap folder berisi tulisan-tulisannya.
Ada puluhan file.
Cerita yang tidak pernah selesai.
Puisi yang tidak pernah dipublikasikan.
Esai yang hanya dibaca oleh dirinya sendiri.
Semua itu seperti kumpulan kegagalan yang tersimpan rapi.
Raka hampir saja menghapus semuanya.
Namun sebelum jarinya menekan tombol delete, ia teringat perkataan ibunya.
“Kalau mimpi terasa jauh, bukan berarti tidak bisa dikejar.”
Ia mengurungkan niatnya.
Malam itu ia kembali menulis.
Bukan karena yakin akan menang.
Bukan karena yakin akan dipuji.
Bukan pula karena yakin orang lain akan menyukai tulisannya.
Ia menulis karena masih ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin disampaikan.
Hari berganti hari.
Raka mulai memahami bahwa mimpi tidak selalu berbentuk piala, jabatan, uang, atau tepuk tangan. Kadang-kadang mimpi hanya berupa keinginan sederhana untuk menjadi lebih baik daripada dirinya yang kemarin.
Ia mulai berhenti membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Ketika temannya berhasil, ia belajar untuk ikut bahagia.
Ketika orang lain berjalan lebih cepat, ia belajar menerima bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Dan ketika ia gagal, ia tidak lagi menganggap kegagalan sebagai akhir.
Suatu pagi, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
“Selamat. Tulisan Anda terpilih sebagai salah satu karya terbaik.”
Raka membaca pesan itu dengan mata yang membesar.
Ia tidak langsung bersorak.
Ia hanya duduk diam.
Kemudian tersenyum.
Air matanya perlahan jatuh.
Bukan karena penghargaan itu begitu besar.
Melainkan karena ia teringat malam-malam ketika hampir menyerah.
Ia teringat semua tulisan yang pernah ditolak.
Ia teringat dirinya yang dulu duduk sendirian di teras rumah sambil bertanya apakah mimpi masih layak dipertahankan.
Raka mengambil kertas lama yang masih disimpan di dalam laci.
“Suatu hari nanti, aku akan menjadi seseorang yang membanggakan.”
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Kemudian mengambil pulpen dan menambahkan satu kalimat di bawahnya:
“Bukan karena aku berhasil menjadi yang terbaik, tetapi karena aku tidak berhenti berusaha menjadi lebih baik.”
Raka tersenyum.
Kini ia mengerti.
Mimpi bukan janji bahwa seseorang akan selalu berhasil.
Mimpi adalah alasan untuk tetap berjalan ketika jalan terasa panjang.
Mimpi tidak selalu membawa seseorang langsung menuju keberhasilan. Kadang-kadang mimpi justru membawa seseorang melewati kegagalan, kesepian, keraguan, bahkan air mata.
Namun selama seseorang masih mau melangkah, mimpi itu belum benar-benar mati.
Di luar rumah, matahari mulai muncul dari balik pepohonan.
Raka berdiri, melipat kertas itu, kemudian memasukkannya kembali ke dalam laci.
Ia tahu masih banyak hal yang harus diperjuangkan.
Masih banyak tulisan yang mungkin akan ditolak.
Masih banyak kegagalan yang mungkin akan datang.
Tetapi kali ini ia tidak takut.
Sebab ia akhirnya memahami satu hal:
Mimpi tidak harus selalu segera menjadi kenyataan. Kadang-kadang, mimpi hanya ingin memastikan bahwa kita tidak berhenti menjadi manusia yang mau berusaha.
Dan pagi itu, Raka kembali berjalan.
Bukan menuju sebuah kepastian.
Melainkan menuju mimpi yang masih ingin ia perjuangkan.







