Arus yang Tak Kembali
Oleh Raudhatul Jannah
Detik demi detik berbisik lirih di sudut sunyi kamar ini, berputar konstan tanpa pernah peduli
pada rasa lelah yang menggelayuti hari.Waktu adalah sungai tak kasat mata yang mengalir
sangat deras, menghanyutkan setiap kenangan, tawa, dan air mata ke lautan masa lalu yang
abadi.
Kita sering kali menjadi pencuri yang payah, mencoba merampas beberapa momen indah untuk
disimpan selamanya di dalam rongga dada, namun waktu selalu lebih cerdik, meraba jemari
kita lalu merebutnya kembali tanpa ada sepatah suara.
Kemarin kini telah menjelma menjadi bayang-bayang yang samar dan menjauh. Hari ini adalah
selembar kertas putih bersih yang sedang kita pegang erat, sedangkan esok hari tetap menjadi
kabut misteri yang belum mampu teraba oleh jemari tangan manusia.
Jangan biarkan dirimu terjebak dalam penyesalan yang membatu tentang hari-hari yang telah
lewat, sebab mengasihani masa lalu yang kelam sama saja seperti menanam benih di atas
semen yang keras. Waktu tidak menyediakan tombol untuk memutar balik arah jarum jam yang
telah berdentang hebat.
Setiap helai rambut yang memutih dan setiap kerutan yang ada di wajah adalah guratan angka
nyata yang ditulis oleh sang waktu. Ia mengingatkan kita semua bahwa keberadaan manusia di
bumi ini hanyalah sebuah persinggahan singkat yang fana.
Kita adalah musafir di bawah langit yang terus bergerak maju, berlomba dengan sang surya
yang selalu terbit dan tenggelam. Maka dekaplah detik ini dengan penuh kesadaran dan rasa
syukur yang mendalam.
Selagi napas masih diizinkan berembus dan jantung masih setia mengetuk dada, buatlah setiap
satuan waktu menjadi melodi indah yang berarti, sebelum lonceng terakhir benar-benar
berbunyi dan kita harus melangkah pergi.