Sampah Kota Makin Sulit Dikendalikan, Mengapa Masalahnya Belum Selesai?

Sampah Kota Makin Sulit Dikendalikan,
Mengapa Masalahnya Belum Selesai?
Oleh Muhammad Habib An-Nizami Tanjung

 

Sampah semakin mudah ditemukan di sekitar kehidupan sehari-hari. Di pinggir
jalan, dekat pasar, sudut permukiman, saluran air, hingga ruang publik, tumpukan
sampah masih menjadi pemandangan yang sulit dihilangkan dari banyak kota.
Persoalannya bukan sekadar soal pemandangan yang kotor. Ketika sampah tidak
dikelola dengan baik, dampaknya bisa merembet ke lingkungan, kesehatan, bahkan
aktivitas masyarakat.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan
bahwa dari 278 kabupaten/kota yang menginput data pada 2025, timbulan sampah
yang tercatat mencapai sekitar 29,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sampah
yang tercatat terkelola baru sekitar 32,9 persen, sedangkan 67,1 persen masih masuk
kategori sampah tidak terkelola. Angka ini memang bukan gambaran seluruh Indonesia
karena bergantung pada wilayah yang menginput data, tetapi cukup untuk
memperlihatkan betapa besarnya pekerjaan rumah pengelolaan sampah.
Sampah Ada di Mana-Mana
Di perkotaan, sampah dapat muncul dalam berbagai bentuk. Sisa makanan dari
pasar bercampur dengan kantong plastik, botol minuman, kemasan makanan, kardus,
hingga barang rumah tangga yang sudah tidak digunakan. Sebagian masuk ke tempat
sampah dan diangkut petugas, tetapi sebagian lainnya berakhir di jalan, selokan,
sungai, atau lahan kosong.
Sungai menjadi salah satu tempat yang paling mudah memperlihatkan persoalan
ini. Pada 2025, misalnya, pemerintah menangani sampah plastik di sejumlah sungai di
Jawa dan Bali yang alirannya dapat membawa sampah hingga ke laut. Di Jakarta,
petugas juga beberapa kali harus mengangkut sampah dari aliran sungai untuk
mencegah penumpukan yang dapat mengganggu aliran air.
Masalah yang sama dapat terlihat di pasar dan ruang publik. Setelah aktivitas
masyarakat meningkat, volume sampah ikut bertambah. Ketika sistem pengumpulan
tidak mampu mengikuti jumlah sampah yang dihasilkan, tumpukan pun mudah muncul
kembali meski sebelumnya sudah dibersihkan.
Bukan Sekadar Soal Orang yang Membuang Sampah
Membuang sampah sembarangan memang menjadi salah satu bagian dari
masalah. Namun, persoalan sampah jauh lebih panjang daripada perilaku seseorang
setelah selesai menggunakan sebuah produk.
Kebiasaan konsumsi juga berpengaruh. Makanan dan minuman yang dibeli setiap
hari sering menghasilkan kemasan sekali pakai. Belanja daring dan layanan pesan-
antar juga membuat penggunaan kemasan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Plastik memang praktis dan murah, tetapi ketika digunakan dalam jumlah besar tanpa
sistem pengelolaan yang baik, sebagian akhirnya lepas ke lingkungan.

Persoalan lain muncul ketika sampah sudah berada di rumah. Banyak sampah
masih tercampur antara sisa makanan, plastik, kertas, kaca, dan bahan lainnya.
Akibatnya, sampah yang sebenarnya masih memiliki nilai untuk digunakan kembali
atau didaur ulang menjadi lebih sulit diproses.
Bank Dunia mencatat bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah
plastik setiap tahun dan sekitar 4,9 juta ton di antaranya tidak dikelola dengan baik.
Studi tersebut juga menemukan bahwa sampah yang tidak terkumpul menjadi salah
satu sumber utama kebocoran sampah plastik ke lingkungan.
Ketika Sampah Masuk ke Lingkungan
Dampak sampah tidak berhenti ketika kantong plastik meninggalkan tangan
seseorang. Sampah yang masuk ke sungai dapat terbawa menuju laut. Yang tertinggal
di tanah dapat mengganggu kualitas lingkungan, sementara sampah yang dibakar
sembarangan dapat menghasilkan polusi udara.
Masalahnya menjadi lebih rumit ketika sampah menumpuk di saluran air. Saat
hujan deras, tumpukan tersebut dapat menghambat aliran air dan memperburuk
genangan atau banjir. Pada April 2025, misalnya, petugas di Cianjur mengangkut
sekitar 40 ton sampah dari sejumlah lokasi terdampak banjir. Sampah yang ditemukan
didominasi plastik dan material lain yang terbawa atau dibuang ke sungai serta saluran
air.
Sampah plastik juga memiliki persoalan tersendiri karena membutuhkan waktu
sangat lama untuk terurai. Bank Dunia menemukan bahwa sungai menjadi jalur utama
kebocoran sampah plastik dari daratan menuju laut. Dalam kajiannya, sekitar 83
persen sampah plastik yang bocor dari sumber darat menuju laut diperkirakan dibawa
melalui sungai.
Lingkungan Kotor, Kesehatan Ikut Terancam
Tumpukan sampah yang dibiarkan dapat menciptakan lingkungan yang tidak
sehat. Sampah organik yang membusuk dapat menimbulkan bau dan menarik lalat,
tikus, serta organisme lain yang berpotensi membawa penyakit. Saluran air yang
tersumbat juga dapat menciptakan genangan yang memperburuk kondisi lingkungan.
Persoalan ini sering kali paling terasa bagi masyarakat yang tinggal dekat lokasi
penumpukan sampah atau kawasan dengan layanan pengelolaan sampah yang
terbatas. Bank Dunia mencatat bahwa sampah yang tidak terkumpul dapat
meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan menambah beban biaya kesehatan
serta kehilangan produktivitas, terutama bagi kelompok yang rentan.
Karena itu, membicarakan sampah sebenarnya juga berarti membicarakan
kualitas hidup. Lingkungan bersih bukan sekadar membuat kota terlihat lebih rapi. Ia
berkaitan dengan air yang lebih aman, udara yang lebih baik, ruang hidup yang
nyaman, dan risiko kesehatan yang lebih rendah.
Kebiasaan Kecil yang Terus Berulang

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki persoalan perilaku yang tidak bisa
diabaikan. Masih ada orang yang membuang bungkus makanan dari kendaraan,
meninggalkan sampah setelah menggunakan ruang publik, atau memilih membuang
sampah ke sungai karena dianggap lebih mudah.
Pemilahan dari rumah juga belum menjadi kebiasaan bagi banyak orang.
Padahal, memisahkan sampah organik, plastik, kertas, dan jenis lainnya sejak awal
dapat membuat proses pengelolaan berikutnya lebih mudah.
Perubahan perilaku memang tidak cukup dilakukan dengan imbauan. Masyarakat
perlu tahu apa yang harus dilakukan setelah sampah dipilah. Jika sudah dipisahkan
tetapi kemudian semua kembali dicampur saat pengangkutan, orang bisa kehilangan
alasan untuk mempertahankan kebiasaan tersebut.
Artinya, perilaku masyarakat dan sistem pengelolaan harus berjalan bersama.
Tidak adil jika seluruh masalah dibebankan kepada warga, tetapi tidak tepat pula jika
masyarakat menganggap pengelolaan sampah sepenuhnya merupakan urusan
pemerintah.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Tanggung jawab pengelolaan sampah berada di banyak pihak. Individu perlu
mengurangi sampah yang dihasilkan dan membuangnya pada tempat yang benar.
Masyarakat dapat membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah bersama.
Pemerintah perlu memastikan layanan pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan
fasilitas pembuangan berjalan dengan baik.
Produsen juga memiliki peran penting karena banyak sampah berasal dari produk
dan kemasan yang mereka hasilkan. Upaya mengurangi penggunaan bahan sekali
pakai, membuat kemasan yang lebih mudah didaur ulang, dan ikut bertanggung jawab
terhadap sampah pascakonsumsi dapat membantu mengurangi beban di hilir.
Pada 2026, pemerintah kembali menempatkan pengelolaan sampah sebagai
salah satu prioritas. Presiden Prabowo Subianto menyatakan pengelolaan sampah di
berbagai daerah akan dikembangkan dan ditargetkan lebih terkendali dalam dua
hingga tiga tahun.
Membersihkan Saja Tidak Cukup
Membersihkan sungai, jalan, pasar, dan ruang publik tetap diperlukan. Namun,
jika sumber sampah terus bertambah dengan pola yang sama, pekerjaan tersebut akan
seperti menguras air tanpa menutup keran.
Langkah yang lebih mendasar adalah mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Membawa wadah dan tas belanja yang dapat digunakan berulang kali, mengurangi
produk sekali pakai, memilih barang dengan kemasan yang lebih sedikit, serta
menghabiskan makanan agar tidak menjadi sampah adalah beberapa langkah
sederhana yang bisa dilakukan.
Sampah yang sudah dihasilkan juga perlu dipilah. Sampah organik dapat diolah

menjadi kompos, sementara sebagian sampah anorganik dapat masuk ke bank
sampah atau sistem daur ulang. Di sejumlah daerah, model seperti ini sudah berjalan
dan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat menjadi
bagian dari solusi.
Yang dibutuhkan bukan satu pihak yang bekerja sendirian. Pemerintah perlu
membangun sistem yang masuk akal, produsen perlu ikut bertanggung jawab, dan
masyarakat perlu mengubah kebiasaan konsumsi serta pembuangan sampah.
Masalah sampah tidak akan selesai hanya karena satu hari bersih-bersih
membuat jalan terlihat rapi. Kota yang benar-benar bersih dimulai jauh sebelum
sampah berada di jalan: dari barang yang kita pilih untuk dibeli, cara kita
menggunakannya, sampai keputusan tentang ke mana sampah itu pergi setelah tidak
lagi dibutuhkan.

Sumber:
Bank Dunia — Plastic Waste Discharges from Rivers and Coastlines in Indonesia
https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/plastic-waste-
discharges-from-rivers-and-coastlines-in-indonesia
ANTARA — Menteri LH: Pemerintah tangani sampah plastik di enam sungai Jawa-
Bali
https://www.antaranews.com/berita/4593542/menteri-lh-pemerintah-tangani-
sampah-plastik-di-enam-sungai-jawa-bali
ANTARA — DLH Cianjur turunkan lima truk angkut 40 ton sampah dari lokasi banjir
https://megapolitan.antaranews.com/berita/391389/dlh-cianjur-turunkan-lima-truk-
angkut-40-ton-sampah-dari-lokasi-banjir
detik.com — Prabowo Tegaskan Pengelolaan Sampah Jadi Prioritas, Target Tuntas
dalam 3 Tahun
https://news.detik.com/berita/d-8465731/prabowo-tegaskan-pengelolaan-sampah-
jadi-prioritas-target-tuntas-dalam-3-tahun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp