Oleh: Chusbi Aura
Ada yang aneh dari sebuah kebencian,
ia tumbuh tanpa pernah kutanam,
berbunga di dada seseorang
yang bahkan tak pernah kusentuh dengan tangan.
Aku tak tahu sejak kapan namaku
menjadi begitu akrab di telingamu.
Barangkali angin membawanya ke jendelamu,
lalu kau simpan diam-diam
di antara percakapan dan prasangkamu.
Kau memungut serpihan tentangku,
menyusunnya menjadi kisah yang tak pernah utuh.
Sedikit kenyataan kau campur dengan dugaan,
lalu kau hidangkan kepada dunia
seolah kau saksi dari seluruh kehidupanku.
Sementara itu,
aku masih berjalan di bawah langit yang sama,
menyapa pagi tanpa tahu
berapa banyak percakapan yang menjadikan namaku tokohnya.
Betapa ganjilnya manusia,
kadang ia membenci bayangan
yang bahkan tak pernah mengejarnya.
Ia sibuk mencari cela pada cahaya,
seolah terang orang lain
adalah gelap yang mengancam dirinya.
Jika memang aku hanyalah seseorang
yang tak pantas kau pandang,
mengapa matamu masih mencari jejakku?
Mengapa kabar tentang langkahku
selalu menemukan jalan menuju telingamu?
Ah, barangkali aku keliru.
Mungkin bukan aku yang begitu menarik perhatianmu,
melainkan ada sesuatu dalam dirimu
yang belum selesai kau temukan,
hingga kau sibuk menelusuri hidup orang lain.
Maka biarlah namaku berlalu
di antara bibir-bibir yang tak mampu kujaga.
Aku tak hendak merebut kata dari mulutmu,
tak pula memaksa dunia melihatku
dengan cara yang sama seperti matamu.
Sebab aku mulai mengerti,
tidak semua bunga harus menjelaskan
mengapa ia tumbuh di taman orang lain.
Tidak semua langit perlu membela diri
hanya karena seseorang
lebih suka menghitung mendung daripada menikmati cahaya.
Dan jika suatu hari
kau lelah mengumpulkan cerita tentangku,
semoga kau pulang kepada dirimu sendiri,
menemukan betapa luas hidup yang kau miliki,
dan betapa lama kau telah meninggalkannya
demi tinggal di dalam hidupku.
Sebab, pada akhirnya,
aku hanya ingin menjadi aku
tanpa perlu tinggal di kepalamu,
tanpa perlu menang dalam ceritamu,
dan tanpa perlu membenci
mereka yang diam-diam menjadikanku
bagian paling ramai dalam sunyinya