ABU DAN KUASA-MU
Oleh Aliviatul ‘Azizah
Di tengah laut Selat Sunda,
Anak Krakatau kembali menyapa,
bukan dengan suara yang biasa,
melainkan abu yang naik ke angkasa.
Langit perlahan berubah rupa,
manusia mulai bertanya-tanya,
ke mana abu akan dibawa,
ke mana angin akan membawanya.
Lalu angin datang tanpa suara,
membawa abu menjauh dari daratan,
menuju laut yang terbentang luas,
menjauh dari rumah dan pemukiman dalam ketenangan.
Angin tidak punya KTP,
tetapi angin punya Tuhan.
Ia tak terlihat oleh mata,
namun bergerak dalam kehendak-Nya.
Tak terlihat siapa yang mengarahkannya,
tak terdengar siapa yang memerintahkannya,
namun abu memilih jalan menuju lautan,
dan hatiku menemukan tanda kebesaran Tuhan.
Anak Krakatau seakan mengingatkan,
alam bukan hanya tentang keindahan,
di balik setiap kejadian,
ada pelajaran untuk direnungkan.
Dari abu aku belajar tentang rapuhnya kehidupan,
dari angin aku belajar tentang ketetapan,
dari laut aku belajar tentang keluasan,
dan dari semuanya, aku belajar mengenal Tuhan.
Manusia hanya mampu melihat,
menghitung, dan memperkirakan,
sementara Tuhan mengatur setiap keadaan,
dengan kuasa yang tak terbatas.
Ketika abu akhirnya menghilang,
dan angin kembali meninggalkan lautan,
semoga yang tersisa bukan sekadar ketenangan,
tetapi hati yang semakin dekat kepada Tuhan.