Oleh:
Kholidatun
Belakangan ini, situs web dan berbagai media
sosial marak dengan berita kemenangan kelompok Taliban di Afghanistan.
Sebenarnya siapa sih Kelompok Taliban ini? Taliban berasal dari Bahasa Arab
yang bermakna ‘Murid’ yang dicikal bakali berasal dari pondok pesantren yang
didanai oleh Arab Saudi. Mengutip dari web Wikipedia para anggotanya menyebut
kelompoknya sebagai Keamiran Islam Afghanistan.
Afghanistan yang sudah 20 tahun memiliki
keterlibatan dengan AS akhirnya bernafas lega usai kelompok Taliban berhasil
memerangi pasukan AS. Malamnya Taliban merayakan kemenangan itu dengan flare
yang dinyalakan dari udara menggunakan pesawat. Tapi, keberhasilan itu belum
bisa membuat masyarakat tidur nyenyak. Para petinggi Afghanistan dan Taliban
masih harus berjaga-jaga dalam keamanan negaranya. Terutama pada kawasan
bandara Kabul yang dipenuhi oleh penjagaan Taliban.
Banyak yang belum menyadari bahwa kemenangan
Taliban dalam menaklukan AS terdorong dari petuah tokoh islam di Indonesia.
Tepatnya pada tanggal 30 Juli 2019 delegasi Taliban yang diketuai oleh Mullah
Abdul Ghani Baradar mengadakan pertemuan dengan PBNU. Mereka menyampaikan
beberapa maksud kedatangannya yaitu ingin memiliki sebuah pemerintahan dengan
damai, menginginkan kelompoknya (Taliban) tidak dicap sebagai teroris, dan
Amerika harus segera keluar dari Afghanistan.
Dengan itu, karena adanya kesinambungan mazhab
dan thariqah antara Afghanistan dan Indonesia maka PBNU merespond bagaimana
cara menyatukan umat Islam di Afghanistan?. Alasan Taliban memilih Indonesia
untuk sharing idea adalah Indonesai sebagai negara dengan mayoritas umat
Islam yang bisa memerdekakan negaranya. Adapun petuah yang diberikan oleh Marsudi
Syuhud (ketua pengurus tanfidziyah) salah satunya yaitu “lakukanlah syuro (musyawarah)
pada setiap elemen untuk menggapai kalimatun sawa”.
Sebenarnya ikatan antara Indonesia dan
Afghanistan tidak hanya sebatas pada tahun 2019. Mengutip dari nu.or.id, NU
pernah mengadakan Consultation Forum for Peace in Afghanistan yang
diikuti 21 delegasi dari berbagai negara pada tahun 2011 tepat harlah NU ke-85,
NU pernah menerima 13 anggota ulama Afghanistan tahun 2013 untuk delegasi
perdamaian, kemudian pada 2016 NU mengundang perwakilan dari Afghanistan dalam International
Summit of the Moderrat Islamic Leaders (Isomil).
Dr. Suhail Shaheen (juru bicara Taliban)
mengatakan: “Indonesia merupakan negara dengan mayoritas umat muslim. Sangat
berperan dalam perdamaian rekonsiliasi Afghanistan”
Lantas mengapa tidak sedikit warga +62 pro
kontra usai keberhasilan Taliban? Melihat dengan perspektif dalam negeri bukan
secara global. Menurut Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden RI) yang pernah
berkesempatan datang ke Afghanistan pada Desember 2020 lalu mengtakan:
“Afghanistan itu negara yang penuh konflik dalam sejarahnya. Banyak pergantian
dalam kenegaraannya dimulai kerajaan, sekuler, komunis, mujahidin, dan pro
Amerika. Masalah Taliban itu lebih ke internal, lebih banyak membicarakan
kekuasaan negerinya. Berbeda dengan ISIS dan Al-Qaeda yang menginginkan
kekuasan dunia”.
Banyak kekhawatiran masyarakat dengan sikap
Taliban. Ini yang dinamakan islamofobia yaitu sebuah kontroversial yang
menunjukkan pada prasangka atau ketakutan terhadap Islam dan muslim. Maka dari
pernyataan diatas kita bisa mengetahui bahwa Taliban tidak mempunyai agenda
untuk melawan negara lain. Mereka hanya fokus pada kepentingan nasional untuk
rekonstruksi Afghanistan. Taliban hanya menginginkan memperluas persaudaraan
dengan negara-negara lain. Wallahu ‘alam.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
