Catatan Ig Membawaku Sejauh Ini

Catatan Ig Membawaku Sejauh Ini

Oleh: Bahrul Ilmi

 

Namanya Saril. Seorang mahasiswa yang tidak pernah merasa dirinya istimewa.

Ia bukan anak orang kaya, bukan pula seseorang yang pandai merangkai kata-kata indah. Hidupnya sederhana. Ia punya satu keyakinan: selama masih diberi kesempatan untuk belajar, ia akan terus mencoba.

Suatu hari, ketika libur semester tiba, ia pergi ke Kampung Inggris, Pare untuk mengikuti sebuah kursus. Ia datang dengan tujuan sederhana, yaitu belajar, lalu pulang membawa perubahan yang digunakan untuk meraih masa depan.

Di tempat yang sama, ada seorang perempuan bernama Nurul.

Nurul berbeda.

Ia cantik, rajin, dan pintar. Bahkan ia terpilih sebagai murid teladan dan meraih penghargaan dari tempat kursus tersebut.

Saril mengenalnya, tetapi sebatas sebagai teman satu kursusan. Saat itu, bahkan ia belum benar-benar tahu namanya.

Sampai suatu hari, mereka berada dalam satu kelompok pada sebuah acara yang mereka namai “Sabtu Bersamamu”, karena kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu.

Bagi Saril, itu hanyalah kegiatan biasa. Ia datang untuk bersenang-senang sekaligus menyelesaikan tugas bersama teman-temannya. Ia mengerjakan tugas, membantu anggota kelompok, berbicara dengan beberapa teman, lalu kembali menjalani hari seperti biasa.

Namun, bagi Nurul, hari itu sedikit berbeda.

Ada sesuatu dari Saril yang membuatnya kagum.

Bukan karena Saril tampan, dan bukan pula karena ia berusaha menjadi pusat perhatian.

Melainkan karena cara Saril mengerjakan sesuatu, cara ia membantu teman-temannya, serta caranya memperlakukan orang lain.

Tanpa sadar Nurul mulai berpikir,

“Ternyata dia menarik juga”.

Sejak saat itu, Nurul mulai memperhatikan Saril.

Tidak secara terang-terangan.

Tidak dengan cara yang membuat Saril menyadarinya.

Hanya melalui tatapan-tatapan kecil. Memperhatikannya di antara banyak orang. Dengan rasa penasaran yang perlahan mulai tumbuh.

Namun, Saril?

Ia tidak menyadari apapun. Sama sekali.

Baginya, Nurul hanyalah salah satu teman di tempat kursus.

Hari-hari di Pare terus berjalan hingga masa belajar mereka pun selesai.

Orang-orang kembali ke tempat masing-masing.

Saril pun pulang.

Ia mengira setelah liburan semua akan kembali seperti semula. Tidak ada yang terlalu istimewa.

Sampai suatu sore, Saril membuka instagram.

Ia membuat sebuah catatan kecil. Tidak ada maksud untuk seseorang. Tidak ada kode. Tidak ada harapan akan mendapat balasan.

Namun, beberapa waktu kemudian, muncul sebuah catatan dari Nurul.

Enah kebetulan atau bukan, isinya seperti sedang menunggu seseorang untuk menyapa.

Saril membacanya, kemudian menutup instagram. Beberapa menit kemudian, ia membukanya lagi dan membaca catatan itu sekali lagi.

“Apa ini kade?” pikirnya.

Namun, Saril masih ragu. Ia tidak ingin terlalu percaya diri. Mungkin saja Nurul memang sedang menulis sesuatu tanpa maksud apa-apa.

Tetapi, semakin lama, catatan mereka seperti menjadi sebuah percakapan tanpa saura.

Saril membuat catatan.

Nurul muncul dengan catatannya.

Nurul membuat catatan.

Saril mulai memperhatikannya.

Sampai akhirnya, ia memberanikan diri mengirim pesan.

“Haloo kak Nurul. Salam kenal ya” disertai emot tersenyum.

Sebuah pesan sederhana.

Namun, dari pesan itulah cerita mereka benar-benar dimulai.

Awalnya hanya percakapan ringan. Tentang liburan, kegiatan, kursusan, dan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Namun  semakin sering mereka berbicara, semakin Saril menyadari sesuatu.

Nurul ternyata bukan hanya cantik. Ia juga pintar. Cara berpikirnya menarik, cara bicaranya membuat Saril nyaman, dan dibalik kesibukannya ada sisi lembut yang perlahan mulai Saril kenal.

Hari demi hari, percakan mereka semakin panjang.

Yang awalnya hanya “Salam kenal” berubah menjadi cerita tentang kehidupan.

Yang awalnya hanya beberapa menit berubah menjadi percakapan yang membuat mereka lupa waktu.

Saril mulai menunggu pesan dari Nurul.

Mulai tersenyum ketika namanya muncul di layar.

Mulai merasa ada sesuatu yang berbeda ketika Nurul tidak menghubunginya.

Dan tanpa pernah merencanakannya, Saril mulai jatuh cinta.

Pelan-pelan.

Diam-diam.

Bahkan mungkin sebelum ia menyadarinya.

Ia mulai menyukai cara Nurul bercerita. Menyukai ketika Nurul mengirim pesan panjang. Menyukai ketika Nurul menceritakan kesibukannya.

Namun, semakin Saril mengenalnya, semakin ia sadar bahwa mencintai Nurul bukan berarti ia akan selalu mendapatkan waktunya.

Ada kuliah, ada tugas, ada organisasi, ada teman,  dan ada impian yang sedang dikejar.

Kadang pesan Saril tidak langsung dibalas, kadang percakapan mereka terhenti karena Nurul harus kembali pada kesibukannya. Awalnya Saril sempat bertanya-tanya.

“Apa aku mengganggunya?”

Namun kemuadian ia mengerti.

Nurul bukan menjauh. Ia hanya menjalani hidupnya.

Dan Saril tidak ingin menjadi seseorang yang membuat Nurul harus meninggalkan apa yang sedang ia perjuangkan.

Ia hanya ingin menjadi seseorang yang bisa mendukungnya dari jauh.

Seseorang yang bisa berkata,

“kalau hari ini kamu sibuk, nggak apa-apa. Selesaikan dulu semuanya. Aku di sini.”

Lucunya, Nurul tidak tidak pernah tahu bahwa Saril sebenarnya sudah jatuh cinta sejauh itu.

Sementara Saril tidak pernah tahu bahwa semua ini berawal dari Nurul.

Dari rasa kagum yang tumbuh ketika mereka pernah berada dalam satu kelompok.

Dari seseorang perempuan yang diam-diam memperhatikannya.

Dari sebuah catatan instagram yang dibuat setelah Saril membuat catatan.

Dari sebuah kode kecil yang akhirnya membuat seorang laki-laki bisa berani mengirim pesan.

Dan dari sebuah pesan sederhana yang perlahan mengubah hubungan mereka.

Mungkin, jika hari itu mereka tidak pernah berada dalam stu kelompok, semuanya tidak akan pernah terjadi.

Mungkin, jika Saril ridak membuat catatan instagram sore itu, Nurul tidak akan memberikan kode. Mungkin, jika Saril tidak memberanikan diri mengirim pesan, mereka akan tetap menjadi dua orang yang pernah bertemu di Pare, lalu saling melupakan setelah pulang.

Namun, hidup kadang memiliki cara yang aneh untuk mempertemukan dua manusia.

Tidak dengan pertemuan pertemuan besar.

Tidak melalui kata-kata yang romantis.

Hanya menlalui kebetualan-kebetulan kecil yang awalnya terlihat tidak berarti.

Dan sekarang, setiap kali Saril mengingat awal kisah mereka, ia selalu tersenyum.

Ia pernah berpikir bahwa dirinya hanyalah laki-laki biasa yang tidak mungkin membuat perempuan seperti Nurul tertarik.

Ternyata, ia salah.

Karena jauh sebelum Saril jatuh cinta, ada seseorang yang lebih dulu kagum kepadanya.

Dan dari kekaguman kecil itulah, kisah cintamulai tertulis.

 

Mau tau lanjutan kisah cinta mereka???

Lanjut part 2.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp