By Muflikhah Ulya
Di suatu pagi yang damai, seorang mahasiswa mengeluh: “Bu, boleh gak tugasnya diketik aja? Soalnya saya udah lama gak nulis tangan.” Kalimat itu sepele, tapi seperti tamparan pelan buat kita semua generasi yang makin lincah mengetik, tapi makin loyo kalau disuruh menulis.
Dulu, tangan kanan kita adalah pejuang. Nulis catatan tiga halaman tanpa jeda, nulis rumus matematika di ujung kertas lalu dilipet serapi mungkin buat ujian, sampai menandatangani absen dengan gaya tanda tangan yang berubah tiap semester. Sekarang? Dia jadi pengangguran. Pensiun dini. Paling banter disuruh ngisi formulir bank, itu pun sambil ngeluh, “Duh, tulisan gue jelek banget ya sekarang.”
Sementara itu, jempol-jempol kita naik pangkat. Mereka rajin mengetik pesan, balas story, bikin caption estetik, bahkan debat di kolom komentar. Pokoknya, jempol adalah man of the match era digital ini. Sedangkan pulpen? Ditaruh di pojok meja, berdampingan dengan karet penghapus yang sudah gak ingat rasanya bekerja.
Gak percaya? Coba eksperimen kecil: ambil buku kosong dan tulis satu paragraf panjang, tanpa berhenti. Tangan pegal? Huruf miring ke mana-mana? Bingung nulis “yang” huruf kecil atau kapital? Selamat, kamu tidak sendiri. Kita memang hidup di zaman darurat menulis tangan.
Tulisan tangan perlahan jadi barang antik. Dia sudah gak relevan di dunia serba cepat ini. Zaman dulu, tulisan tangan itu personal, penuh karakter. Kamu bisa tahu mood orang dari tulisan tangannya. Sekarang? Semua pakai font yang sama.
Tentu, teknologi bukan penjahatnya. Mengetik memang praktis. Cepat. Bisa diedit. Bisa disalin. Gak perlu tipex. Gak perlu bolak-balik cari huruf sambil mikir. Tapi justru karena semua terlalu mudah, kita kehilangan rasa. Menulis tangan itu lambat, dan dalam kelambatan itu ada kesadaran. Saat menulis, kita dipaksa berhenti sejenak. Memilih kata dengan hati-hati. Melihat tiap huruf tumbuh dari ujung pulpen. Itu pengalaman yang gak bisa disubtitusi sama keyboard.
Anak-anak sekarang makin jarang nulis. Motorik halus gak berkembang optimal. Konsentrasi jadi pendek. Tugas sekolah pun berpindah ke Google Form, dokumen online, atau paling mentok: voice note yang isinya “Bu, ini saya jawabannya ya.” Tulisan tangan yang dulu jadi penanda kepribadian, sekarang cuma bikin malu. “Tulisan gue kayak cakar ayam.” Padahal dulu, cakar ayam pun punya pesona.
Lebih dari itu, menulis tangan adalah bentuk latihan berpikir. Goresan tinta menuntut urutan, struktur, kesabaran. Mengetik? Bisa dihapus kapan aja. Bisa disalin dari ChatGPT (eh).
Kita gak butuh revolusi. Cukup sepuluh menit sehari untuk nulis tangan. Tulislah puisi pendek, daftar belanja, atau surat yang gak dikirim. Pakai pulpen yang masih punya tinta, pakai buku yang belum sempat diisi. Biar tangan kananmu ingat rasanya kerja. Biar jempol tahu, dia gak harus kerja sendirian.
Ajarkan juga ke adikmu, anakmu, muridmu. Bahwa ada kenikmatan dalam menulis lambat. Dalam membiarkan tinta mengering. Dalam melihat kertas yang makin penuh.
Dalam dunia yang kebanyakan swipe dan ketik, menulis tangan adalah tindakan melawan arus. Tindakan kecil, tapi penting. Bukan karena nostalgia, tapi karena kadang, yang kita butuhkan bukan kecepatan, tapi kehadiran. Kalau kamu masih bisa nulis satu paragraf tanpa jeda, tanpa minta tolong auto-correct, selamat tanganmu belum sepenuhnya pensiun. Rawat baik-baik, sebelum dia cuma jadi pajangan waktu isi biodata nikah.