
Karya : Dwi Putra Arta Sanjaya
Di pojok ruang kuliah,
aku menatapmu lewat bayang di layar presentasi,
seolah jarak kita hanya beberapa bangku
padahal dunia kita beda frekuensi.
Kau seperti senja yang anggun di cakrawala,
sedang aku cuma awan kelabu
yang datang tanpa diminta,
dan cepat dilupa.
Kau bercahaya,
ramah pada semua,
pintar menjawab soal dan tertawa,
sementara aku sibuk menyembunyikan
debar yang tumbuh tiap kali kau lewat di lorong fakultas.
Ingin sekali aku bilang:
“Aku menyukaimu.”
Tapi kutelan kata itu
bersama kopi dingin dan tugas yang belum jadi.
Karena dalam cermin
aku tak pernah merasa cukup.
Nama belakangmu terdengar lebih hebat,
jalan hidupmu lebih lurus,
sedang aku…
masih tersesat antara ragu dan takut ditolak.
Jadi biarlah aku menyukaimu
dari balik layar laptop,
menyisipkan doa-doa kecil
di sela deadline dan ujian akhir.
Tak harus kau tahu.
Tak harus kau balas.
Cukup aku simpan rasa ini
seperti catatan kaki
ada, tapi tak perlu dibaca.
Pondok Pesantren Darun Nun.
satu Respon
“seperti catatan kaki
ada, tapi tak perlu dibaca.” (emot api)