
Oleh : Ilman Mahbubillah
Jerit ibu menggema di antara reruntuhan, derit cucuran abu menyeruak ketika target utama diledakkan, dilema di bawah endapan debu; mencium nasib anak yang terpaksa ditinggalkan ibu. Luka yang diderita terasa lebih lantang dari suara takbir, tubuh-tubuh tak berdaya seakan hanya menunggu kelamnya takdir, lagi dan lagi tanah Khartoum kembali dibombardir!
Aliran Nil pengalir kehidupan; penulis sejarah dan peradaban, kini antarkan warna kematian sebagai akibat bengis tragis dari kebencian. Anak-anak yang dulu berlari dan bermain berkeliaran, kini hanya jadi impian bagi jiwa-jiwa tertindas; mengiba meminta belas kasihan. Bukan karena langit belum mengindahkan setiap doa yang diucapkan, barangkali cinta didatangkan setelah asa bertemu kehilangan.
Namun, dunia hanya menatap dari jauh; ia hanya menghitung banyaknya luka, bukan gugurnya manusia. Mereka seakan tak mau peduli jika tak dijanjikan orientasi, tak bisa empati jika imbalan tak ada jaminan pasti. Lantas bagaimana bisa kita mengharap pada hukum konstitusi jika di dalamnya masih penuh sesak dengan ambisi? Lantas dari mana lagi kita cari cahaya peraduan sebagai pelerai bagi kesedihan Sudan?
Pada akhirnya aku hanya bisa bersuara lewat sajakku, meski tak tahu di mana letak muara tujuanku. Atas nama-nama yang gugur tanpa cerita, atas jerit tangis yang disembunyikan oleh berita, atas segala cinta yang sirna dalam negara yang bersengketa; Aku berjanji akan terus berdoa memohonkan pada ilahi; agar segala perpecahan yang sudah terjadi, menjadi jalan baru bagi tunas damai yang tumbuh dan mekar kembali.