Ikhlas Bukan Berarti Melupakan
Oleh Nayla Ummi ‘Athiyyah
Sering kali kita mendengar, “kalau sudah Ikhlas, ya jangan diingat-ingat lagi.” Seolah- olah Ikhlas berarti harus melupakan semua yang sudah terjadi. Padahal, semakin kita berusaha pura-pura lupa, justru semakin berat Langkah kita. Luka yang ditutup rapat tidak benar-benar hilang. Ia hanya bersembunyi, menunggu waktu untuk kembali terasa.
Beberapa tahun yang lalu, aku menginap di rumah seorang saudara. Waktu itu, rumah tersebut terasa berbeda dari rumah-rumah yang pernah kukunjungi sebelumnya. Bukan karena bentuknya, bukan pula karena suasananya, tetapi karena ada orang yang paling dicintai sudah tidak ada di dunia ini.
Ia baru saja ditinggalkan oleh ayahnya.
Sejak saat itu, banyak orang datang membawa kalimat yang mungkin menurut mereka adalah bentuk penghiburan.
“Yang sabar, ya.”
“Harus ikhlas.”
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan.”
Kalimat-kalimat itu terus terdengar, berulang kali. Mungkin mereka bermaksud baik. Mungkin mereka ingin membuat luka itu terasa lebih ringan. Tetapi aku mulai menyadari satu hal: terkadang, kata ikhlas terdengar begitu sederhana bagi orang yang hanya mengucapkannya.
“Harus ikhlas.”
Dua kata yang mudah diucapkan, tetapi entah mengapa terasa begitu berat bagi orang yang sedang berusaha menerimanya.
Aku melihatnya menjalani hari-hari seperti biasa. Ia masih bisa tersenyum, masih bisa berbicara dengan orang lain, masih bisa melakukan berbagai hal seperti sebelumnya. Namun, ada sesuatu di balik semua itu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata- kata.
Mungkin begitulah kehilangan bekerja.
Ia tidak selalu datang dalam bentuk tangisan. Kadang ia bersembunyi di balik diam yang panjang, tatapan kosong, atau kebiasaan kecil yang tiba-tiba mengingatkan seseorang pada orang yang telah pergi.
Saat itu aku berpikir, mungkin mengikhlaskan bukan berarti berhenti merasa kehilangan.
Mungkin ikhlas bukan tentang memaksa hati untuk segera menerima bahwa seseorang telah pergi. Bukan pula tentang melupakan segala kenangan yang pernah ada.
Barangkali, ikhlas adalah perjalanan panjang untuk belajar menerima sesuatu yang tidak bisa kita ubah.
Sebab bagaimana mungkin seseorang diminta untuk langsung baik-baik saja setelah kehilangan orang yang begitu berarti dalam hidupnya?
Ada luka yang memang membutuhkan waktu.
Ada rindu yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan nasihat.
Dan ada kehilangan yang mungkin akan selalu meninggalkan bekas, meskipun suatu hari nanti rasa sakitnya tidak lagi sama.
Malam itu, ketika aku menginap di rumahnya, aku mulai memahami bahwa tidak semua orang membutuhkan nasihat untuk segera mengikhlaskan. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau tinggal, mendengarkan, dan tidak memaksa mereka untuk terlihat baik-baik saja.
Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berdamai dengan kehilangan.Dan mungkin, tidak apa-apa jika hari ini belum bisa ikhlas sepenuhnya. Sebab menerima kehilangan bukan perlombaan.
Ia adalah perjalanan hati pelan, diam-diam, dan dengan caranya masing-masing.