Langit yang Sama

Langit yang Sama

Oleh Madinatus Zahro’

 

Sudah beberapa bulan Nara tinggal jauh dari rumah. Awalnya, semuanya terasa menyenangkan. Ia senang bisa mengenal tempat baru, bertemu banyak orang, dan menjalani hari dengan kesibukannya sendiri. 

Setiap hari, Nara menjalani kegiatannya seperti biasa. Pagi hari ia bersiap untuk kuliah, lalu menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Setelah kuliah, terkadang ia mengerjakan tugas atau sekadar mengobrol sebelum kembali ke tempat tinggalnya. Hari-harinya cukup sibuk, sehingga ia tidak selalu punya waktu untuk memikirkan hal lain.

Namun, semakin lama, ada hal-hal kecil dari rumah yang mulai sering muncul di pikirannya.

Sore itu, sepulang dari kampus, Nara melewati sebuah warung. Aroma pisang goreng yang baru matang membuat langkahnya berhenti. Ia langsung teringat Ibu yang biasanya membuat camilan menjelang sore. Dulu, ia sering menemukan pisang goreng di meja makan dan mengambilnya sambil lalu ketika sedang merasa lapar.

Tanpa berpikir panjang, Nara membeli beberapa.

Sesampainya di tempat tinggalnya, ia duduk di teras sambil menikmati pisang goreng itu. Rasanya tidak persis seperti buatan Ibu, tetapi cukup untuk membuatnya tersenyum. Ia teringat bagaimana Ibu biasanya membuat pisang goreng dalam jumlah cukup banyak agar semua orang di rumah bisa ikut makan.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi.

“Sudah makan?” pesan Ibu.

Nara tersenyum melihat pertanyaan yang hampir selalu sama itu.

“Sudah, Bu. Tadi beli pisang goreng.”

“Kirain sudah lupa sama makanan rumah.”

Nara tertawa kecil.

“Enggak lah, Bu.”

Percakapan mereka berlanjut. Tidak ada cerita besar. Ibu bercerita tentang adiknya yang hari itu pulang terlambat dan tanaman di depan rumah yang mulai berbunga. Nara juga menceritakan sedikit tentang kegiatannya hari itu. Ia bercerita tentang kuliah dan tugas yang harus dikerjakan, sementara Ibu sesekali membalas dengan pertanyaan sederhana.

Obrolan itu tidak berlangsung terlalu lama karena Nara masih punya beberapa hal yang harus diselesaikan. Sebelum mengakhiri percakapan, Ibu kembali mengingatkannya untuk tidak tidur terlalu malam. Nara membalas pesan itu sambil tersenyum. Nasihat seperti itu sudah sering ia dengar sejak masih tinggal di rumah.

Setelah percakapan selesai, Nara meletakkan ponselnya dan memandang langit sore yang mulai berubah jingga.

Entah kenapa, pemandangan itu membuatnya teringat suasana sore di rumah. Teras, suara televisi dari ruang tengah, dan Ibu yang biasanya sibuk di dapur. Terkadang, adiknya juga duduk di dekatnya sambil bercerita tentang hal-hal yang terjadi hari itu. Dulu, Nara tidak terlalu memikirkan semua itu. Baginya, sore seperti itu adalah bagian biasa dari kesehariannya.

Sekarang, justru hal-hal sederhana seperti itulah yang sering ia ingat.

Nara tersenyum kecil. Ia baru menyadari bahwa ada banyak hal dari rumah yang ternyata ia rindukan, meskipun sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Bukan hanya makanan buatan Ibu, tetapi juga obrolan ringan, suara orang-orang di rumah, dan kebiasaan berkumpul tanpa harus membuat janji terlebih dahulu.

Mungkin ia memang tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa dirinya rindu. Ia hanya sesekali membeli makanan yang mengingatkannya pada rumah, membaca pesan dari Ibu sambil tersenyum, atau tiba-tiba teringat suasana sore di rumah.

Senja semakin turun. Nara masih duduk di teras, memandangi langit yang perlahan berubah warna. Angin sore terasa cukup sejuk. Ia kembali teringat percakapannya dengan Ibu tadi dan membayangkan keadaan rumah pada waktu yang sama.

Di tempat yang berbeda, keluarganya mungkin sedang menjalani kegiatan sore seperti biasanya. Ibu mungkin sedang membereskan dapur, sementara adiknya masih sibuk bercerita tentang kegiatannya hari itu. Nara tidak tahu pasti apa yang sedang mereka lakukan, tetapi membayangkannya saja sudah membuatnya tersenyum.

Nara kembali memandang langit yang mulai gelap. Ia dan keluarganya memang tidak sedang berada di tempat yang sama. Namun, di sore yang sama, mereka masih bisa melihat langit yang sama.

Langit yang sama, hanya tempatnya yang berbeda.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp