Menangis Itu Nanti, Saat Aku Sudah Sendiri
Oleh Nayla Ummi Athiyyah

Dulu, aku memegang satu prinsip dengan sangat erat: jangan pernah memperlihatkan air mata di depan siapa pun. Entah itu di hadapan keluarga, teman dekat, atau orang yang paling kucintai. Bagi diriku yang dulu, menangis di depan orang lain adalah sebuah bentuk kekalahan. Jika seseorang menyakitiku dan aku meneteskan air mata, rasanya seolah-olah aku telah menyerahkan kemenangan penuh kepadanya.
Tiap kali suasana di sekitarku berubah haru, aku selalu menjadi orang yang paling canggung. Saat orang-orang di sekelilingku mulai terisak, aku justru sibuk melemparkan lelucon atau berpura-pura tertawa. Aku melarikan diri dari kesedihan orang lain karena aku takut takut jika kesedihan itu merobohkan benteng pertahanan yang sudah lama kubangun.
Setiap kali rasa sakit menghampiri hidupku, aku menolaknya mentah-mentah. Air mata yang sudah mendesak di ujung kelopak mata selalu kusembunyikan di balik rasa marah atau gerutu dalam hati. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja, padahal yang sebenarnya kulakukan hanyalah menyapu rasa sakit itu ke bawah karpet dan berpura-pura bahwa semuanya telah selesai.
Namun, berpura-pura kuat ternyata sangat melelahkan.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari sesuatu. Kesedihan yang kutahan tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya mengendap dan menumpuk di tempat yang gelap.
Setiap tawa yang kubuat untuk menutupi rasa sakit makin lama terasa makin hampa.
Bersembunyi di balik kata “tidak apa-apa” ternyata tak membuat lukaku sembuh.
Hingga akhirnya, dalam kesunyian kamarku sendiri, aku berhenti berlari. Aku duduk di tepi tempat tidur dan membiarkan rasa lelah itu menyapaku. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa menangis bukanlah tanda bahwa aku lemah atau kalah. Menangis hanyalah cara jiwaku untuk bernapas, melepaskan beban berat yang sudah terlalu lama kupikul sendirian.
Kini, aku mungkin masih belum terbiasa menangis di hadapan orang lain. Aku masih memilih untuk menyimpan air mataku sampai pintu kamar tertutup rapat dan suasana menjadi hening. Tapi bedanya, sekarang aku tidak lagi membenci rasa sedih itu.
Saat mengusap air mata di tengah keheningan malam, aku tersenyum tipis dan akhirnya memahami menangis bukan berarti aku menyerah, melainkan tanda bahwa aku sedang belajar memulihkan diri.