Kurasi Puisi

Oleh : Ilman Mahbubillah

Bagi penulisnya, puisi adalah kepingan hati yang sepakat diletakkan selamanya. Pendengar paling tulus untuk berbagi cerita. Cinta yang terbalas sama besarnya, sentuhan untuk gejolak rasa yang kian merekah. Tubuh utuh dari kepingan-kepingan suara yang gagal diutarakan; terbungkus oleh ragam aksara, terdengar gemuruh namun terbias oleh majasnya.

Sedang si pembaca; adalah tokoh dari tiap bait yang tersusun indah. Suaka yang kemudian menghidupkan segala rasa; sumber dari cakrawala kata cinta. Serupa jiwa yang memerankan tiap frasa, menjadi dunia bagi tiap hembusan nafas penulisnya. Pembaca akan abadi dalam tiap tanda baca penulisnya; tumbuh, terluka, sembuh, lalu berduka, iringi tawa dan sungkawa.

Namun jika tak sampai pada pembaca, puisi akan berubah seperti suara yang tak diizinkan berbunyi. Jelmaan jujur pada kesedihan akibat ditinggal pergi; menyulam pahit dengan benang-benang perih, memberi ruang untuk menikmati elegi. Menjadi luka yang dibiarkan menemukan obatnya sendiri, dan mencederai tawa yg kini tak lagi punya arti.

Kini, kuserahkan semua padamu. Janjiku hanya tetap menulismu pada bait-bait senduku; sebagai protagonis kisah masa lalu atau penjahat yang kelak justru jadi bahagiaku. Tak akan lagi ada desakan atas nama rindu; kau bebas untuk tetap membisu atau membalas puisiku. Tak ada lagi malam yang mencumbu dan membelenggu kepalaku, sebab diam-mu menjadi pusara yang menghantui seluruh relung dadaku.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp