Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah
Ku pandang dirimu kali pertama
Wajah datar tak biasa
Gengsi adalah utama
Tak berkutik sepatah kata
Ku ketuk pintu kulkas
Tiada balasan dari dalam
diam merenung sebagai tamu
Menunggu es membuka pintu
Lama tak di gubris
Bertindak ku berdiri
Membuka paksa pintu di depanku
Membara api panasku
Semakin berkobar nyala api
Memaksa diri memasuki kulkas
Mencairkan bekunya es
Semua tenaga dikerahkan
Naas, bukan es yang mencair
Justru diriku ikut membeku
Api padam, gelap gulita
Basah kuyup menghujaniku
Tenaga dan waktu habis
Terbuang sia-sia
Aku menyerah!
Sulit sekali menembus hatinya
Dasar kulkas!
Aku lelah mengejarmu
Aku tak kuasa menahan rasa ini
Aku tak bisa bertindak lebih
Memang bukan aku pilihanmu
Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun
Meski nihil memilikimu
Malang, 18 Desember 2025