Lalita Penghias Pupil

Lalita Penghias Pupil

Oleh: Muh. Sabilar Rusydi

Di balik sandyakala pagi, siang, sore, dan malam,
Kulihat selaksa rupa kembar Lalita di setiap kelam,
Tak pernah berkamuflase pada wajah yang berpijar terang,
Menyelimuti ruang pupilku, tak terbatas, tiada meredam.

Dalam pagi, rupa kembar itu bertamu di sudut tatap,
Masuk melalui pupil, memompa semangat juang berlipat,
Menghiasi anagata yang menanti datangnya fajar,
Siap mengangkat harapan dari ujung mimpi samar.

Dalam siang, rupa kembar itu mengayari dahaga,
Menyeranyu segarnya pawana, merangkul asa,
Membawa serta hawa yang melarung dalam tirta airmata,
Menghapus duka, seiring langkah yang tertata.

Dalam sore, rupa kembar itu menghapus lelah tubuh,
Memijat saraf, menyegarkan pikiran yang keruh,
Suguhkan teh sari wangi di ujung bibir yang rindu,
Menjadi sahabat penat, pelepas pilu.

Dalam malam, rupa kembar itu melantunkan dongeng,
Membawa terlelap dalam dekap damai yang menggenggam,
Membangunkanku dari tidur tuk meraih ruang rindu,
Mengeja mimpi yang setia menunggu.

Hai, rupa kembar, kau yang memenuhi segala ruang,
Tak menciptakan sesak, malah melegakan meriang,
Menjerembah harsa, menepis segala nestapa,
Atma dan daksa tulus, tak meminta balas asa.

Maaf, belum kusebut namamu sejak mula kata,
Sebab ikhlasmu terpancar di setiap lirih tanpa cela,
Asmamu, oh asmamu, sungguh euonia teramat anggun,
Syahdu didengar, candu diucap, manunggal dalam sukma tak berkesudahan.

Sang anak dara, Puan Shalihah, ayat dikara terpatri,
Berjuta frasa terselip, indah bersemi,
Iyassa, namamu tersembunyi dalam mimpi,
Menabur keberkahan di setiap langkah hati.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp