Luapin Sebelum Lupain

Oleh Rizkha Nafanda Wulandari

Pernah nggak si kamu merasa kalau dirimu itu kayak browser laptop yang kebanyakan buka tab? Ada tugas kuliah yang numpuk, obrolan whatsApp yang isinya bikin ngerasa ketimpuk, sampai postingan random yang bikin mabuk. Semua itu campur aduk jadi satu, dan kadang secara ga sadar memicu reaksi kompleks mulai dari kesel, capek, bahkan marah. 

Lucunya, kita sering dihadapkan dengan “ya udah, sabar aja” untuk menghadapi itu semua dan seolah ketika kita menunjukkan emosi, kita dianggap ga dewasa. Akibatnya, muncul sabar yang disalah artikan menjadi tindakan memendam. Hal itu bisa terjadi karena kita menolak dihakimi atas emosi kita sendiri. Padahal, emosi itu manusiawi, yang dipendam nggak bakal hilang, didiamkan mengendap begitu saja. Ibaratnya cache, emosi itu bisa membantu kita meningkatkan kinerja, namun bila tidak dikelola dengan baik, menumpuk, dan tidak dibersihkan, cache bisa mengganggu kinerja sistem.

Dari situ, ada benarnya kalau kita perlu “luapin” apa yang kita rasakan. Tapi meluapkan di sini bukan berarti kita bebas ngamuk ke siapa aja. Aku melihatnya lebih ke proses buat jujur sama diri sendiri. Pertama, akui saja kalau lagi marah, kesel, kecewa, atau bahkan sekalipun senang. Validasi emosi itu penting banget buat self-mindfulness. Jadi kita akan lebih sadar terhadap apa yang kita rasakan, kita akan tenang ketika mengambil keputusan, dan bebas dari stress akibat overthinking yang tidak terkendalikan.

Setelah mengakui, urusan meluapkan itu sebenarnya setiap orang punya caranya sendiri. Ada tipe orang yang meluapkan emosi secara terang-terangan, seperti update story di second acc, repost postingan yang sekiranya relate, atau spill sana sini yang ujungnya nambah drama. Buat orang-orang yang ga mau nambah masalah dari comment orang lain, journaling, nulis diary, atau menjadikan sajadah sebagai safe space adalah solusi yang bisa dijadikan pilihan. Katarsis melalui sujud itu bagaikan menumpahkan semua beban. Secara medis juga, sujud menjadi posisi optimal untuk darah mengalir ke prefrontal cortex sehingga reaksi atas emosi akan lebih logis dan ga bersifat impulsif.

Setelah semua unek-unek itu keluar, biasanya bakal timbul pertanyaan: “Terus sekarang gimana?” Nah, di sinilah bagian “lupain” itu tampil. Melupakan di sini bukan maksa otak buat amnesia, melupakan semuanya begitu saja. Lebih ke arah letting go, lepaskan attachment atau keterikatan emosi negatif itu. Hapus hal-hal yang membuat kita menjauh dari ketenangan, supaya kita punya ruang kosong yang cukup untuk diisi sesuatu baru yang lebih bermakna. Hidup di tengah hiruk pikuk dunia saat ini memang banyak banget noise-nya, tapi dengan luapin sebelum lupain, setidaknya kita nggak perlu menggenggam dendam yang akan menjadi parasit buat kebahagiaan yang datang selanjutnya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp