Mawar Menghitam

oleh Muflikhah Ulya

Ia dipuji angin,
dicium cahaya,
hingga lupa,
duri pun bagian dari doa yang tumbuh dari tanah.

Ketika ia terlalu condong
mengejar kagum jumawa,
duri itu bangkit,
menusuk senyap ke ulu hatinya.

Barulah ia tahu,
keindahan tanpa penjagaan,
hanyalah ujian yang menyaru anugerah.
keindahan tanpa kerendahan,
hanyalah cantik tanpa wibawa.

Ia kembali menunduk,
menghitamkan takabur,
lalu mekar dalam sujud,
kepada Sang Pencipta Warna.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp