Mengapa Kau Sibuk Mencari Ketenangan Diluar Diri?
Sedang Sumber Kegelisahan adalah Hatimu Sendiri
Karya : Nurul Karamatus Saadah
Ya…ini adalah kisah rumit si gadis kecil! Berawal dari cerita lamanya yang selalu gelisah sampai akhirnya ia memutuskan untuk berkelana mencari ketenangan.
Dia adalah gadis kecil yang tumbuh dengan bahagia dari kesederhanaan. Berkembang dan berproses dengan didampingi banyak senyuman. Berasal dari kehidupan pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Dia harus meninggalkan semua itu demi merajut langkah menuju cita-cita.
“Tuhan…Mungkin kehidupanku akan lebih baik setelah ini" ujar gadis kecil itu
Akhirnya, dia pun pergi untuk merantau di sebuah kota kecil yang cukup terkenal
Selang beberapa waktu, dia memulai kehidupan baru dengan banyak pemikiran baru. Tinggal ditempat yang dikata sebagai penjara suci. Mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru demi melanjutkan kehidupannya.
“Kehidupan ini tak terlalu buruk untuk ku, banyak orang baru yang ku temui begitu menarik" celotehnya di minggu pertama. Ya benar dia disana masih didampingi oleh kuat nya iman yang ia bawa dari kehidupan lamanya.
Beberapa bulan telah usai, waktunya gadis kecil itu pun berkelana dengan kehidupan yang sesungguhnya. Penjara suci tak lebih dari sebuah kehidupan uji coba yang masih dalam pengarahan
“Tuhan…hatiku tak bisa tersenyum lebar lagi. aku harap perpisahan ini jadi awal baik untuk ku
selanjutnya “Secuil harapan yang sengaja ia lontarkan dari mulutnya.
Dipertemukan lagi dengan orang baru. Ia pun mencoba berpikir positif kembali.
“Syukurku masih bersama dengan mereka “ujar gadis kecil itu.
“Kehidupan ini terlalu baik untukku". lanjutnya.
Dia tak berpikir panjang atas apa yang dilakukannya. Sampai akhirnya ia berada dititik banyak ditikam masalah hidup. Terlalu sibuk dengan urusan duniawi tanpa melibatkan keimanan. Terlalu berekspektasi tinggi terhadap balasan orang lain tanpa melogikakan hal yang terjadi. Terlalu star syndrome dihadapan orang lain. Dan banyak terlalu lainnya.
“Aku tak sanggup lagi Tuhan. Aku bukan mereka….aku tak kuat. Tak kuat dengan yang mereka lakukan
padaku. Aku terjatuh dengan hantaman dari mereka yang kuanggap rumah “tangisnya dalam untaian sholat.
Aku tahu tak ada kata terlambat. Namun gadis kecil itu tak mengaca kembali pada kehidupan lamanya, bagaimana hubungan dengan Tuhan-Nya, bagaimana dia menata kehidupan tanpa melibatkan Tuhan-Nya.
“Tuhan…apakah ini karma untukku?". Tanyanya dalam hati.
Tangisnya tak pernah habis tiap harinya. Penyesalan menghantuinya. Dunia nya hancur seketika. Aku melihatnya tersungkur lemah dalam diam. Dia di perlakukan tak selayaknya oleh mereka yang benci terhadapnya. Rasa iri dengki orang lain menyelimuti kesehariannya. Di adu domba oleh mereka yang menyimpan banyak muka. Menjadikan dia kambing hitam agar nama mereka tetap bersinar. Namun, salutku ia tetap bertahan di tengah situasi yang berantakan. Sedih rasanya melihat hidupnya tak terarah.
“Apa yang ku miliki hingga mereka tak ingin melihatku tersenyum. Aku tak punyai hak istimewa seperti mereka. Aku hanya jadi pilihan kedua saja. Tak lebih. Aku hanya mengikuti alur saja. Aku hanya ingin hidup dengan tenang. Aku muak dengan drama kehidupan ini." Jerit gadis kecil dalam hatinya. Banyak alternatif solusi yang diberikan oleh orang disekitarnya. Namun, ia hanya menggunakan alternatif solusi yang bersifat duniawi saja. Sudah ku duga, dia tak akan sadar bahwa itu termasuk campur tangan Tuhannya. Bukti rasa rindu Tuhan untuknya.
“Aku lelah jika untuk beradaptasi lagi. Tapi mungkin ini akan baik untukku. Pindah dilingkungan baru danmeninggalkan kenangan lalu” Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Kisah barunya dimulai kembali, dia mencoba merangkak bangun dari kesedihan lalu. Namun, sinar dalam dirinya tak bisa seterang dulu kala. Sinar yang ia punya pun kian hari meredup bahkan sering kali padam. Dia tak punyai keyakinan pada diri sendiri. Dia hanya bisa mengikuti apa kata orang. Ya…itudilakukannya karena dia belum menemukan tempat yang tepat untuk berpulang.
“Cukup nak. Ini sudah terlalu jauh. Kamu harus mencoba kembali pada dirimu sendiri seperti awal. Kautak perlu hiraukan bisikan orang-orang yang ingin merobohkanmu. Kamu akan jadi bintang di hidupmu sendiri. Ingatlah pada Tuhan yang memberkatimu." Pesan hangat dari seorang ibu. Aku tak paham dengan bagaimana kerumitan hidupnya saat itu. Tapi dia benar-benar terlihat hampa dengan tatapan kosong. Selayaknya orang gila tanpa tujuan hidup. Gadis kecil itu pun seperti mengubur banyak mimpinya.
“Akan kusudahi drama ini dengan menjauhi banyak orang. Menjadikan kehidupanku tipuan. Sepertinya kan jadi ide yang bagu “Ujarnya menyemangati diri sendiri.
Akhirnya dia mulai melangkah dalam kesendirian dengan menyembunyikan banyak cerita kelam sebelumnya.
“Tak seharusnya kamu bersikap demikian. Itu tidak benar. Cobalah berbaikan dengan keadaan. Itu tak terlalu buruk untukmu “Ujar seorang yang menjadi bagian cerita dari hidupnya.
Namun, semua usaha demi meyakinkan dirinya tak ada hasil. Dia tetap melakukan apa yang menurutnya
benar. Dia tak mencoba memahami bagaimana maksud Tuhan padanya.
“Ahh….lelah banget sama hidup. Aku tak sanggup lagi jika tiap kali harus merasakan sepi. Aku benci kesepian. Tak habis pikir aku dengan mereka. Karena mereka aku merasakan kehidupanku hancur. Senyumku sudah terenggut". Keluh kesalnya saat itu.
Di kehidupan barunya ia mulai terbiasa terhadap ungkapan "people come and go”. Dia sudah mulai tak bertumpu pada orang lain meski demi menopang diri saja dirasa cukup sulit. Sampai pada akhirnya dia benar-benar harus kehilangan teman lamanya yang saat itu cukup berpengaruh di hidupnya. Hal itu
menjadikan ia teringat oleh trauma masalalu yang sudah banyak mengorbankan pencapaiannya.
“Kalo kamu pergi. Aku sama siapa nanti?". Ketakutannya datang lagi.
“Aku tak masalah dengan hal seperti ini. Aku sudah sering melaluinya". Ujarnya menyemangati diri.
Ya benar saja, dikehidupan selanjutnya gadis kecil itu dipertemukan kembali oleh seorang yang membawanya untuk berada di kehidupan baru lagi. Namun, hal itu menjadi pertimbangan besar baginya. Karena konsekuensinya yang harus mengorbankan semua yang telah ia lalui di kehidupan lama. Banyak hal yang ia temui. Kebiasaan baru yang baik. Membawa kehidupannya menjadi lebih positif.
Beberapa bulan berlalu, gadis itu mulai belajar sedikit demi sedikit tentang keikhlasan dan pemaknaan hidup yang sesungguhnya. Sampai akhirnya, dia jadi lebih paham bagaimana maksud Tuhan memberinya banyak cobaan.
“Aku bersyukur aku menemukan kehidupan ini sekarang. Akan ku coba ikhlas melepaskan pencapaianku dan rasa sakitku dimasa lalu. Mungkin ini cara Tuhan ingin aku kembali ke jalan-Nya “ujarnya dengan rasa syukur pada Tuhan.







