Paron

Paron

Oleh Alvian Izzul Fikri

 

Menjadi salah satu kebiasaan yang dilakukan para santri ketika makan adalah makan bersama dalam satu nampan. Kebiasaan yang biasa kita sebut mayoran ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi salah satu bentuk ikhtiar kita dalam mengikuti sunah Rasulullah SAW, sekaligus belajar tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Namun, ada satu hal kecil yang terkadang menjadi masalah ketika kita makan bersama, yaitu kurangnya kesadaran untuk memperhatikan hak teman yang makan bersama kita.

Misalnya, ketika satu telur dadar dimakan oleh empat orang. Ada satu orang yang mengambil bagian cukup besar, bahkan menghabiskan hampir setengahnya. Sementara itu, ia juga makan lebih cepat daripada teman-temannya. Akhirnya, teman yang lain hanya bisa melihat jatah yang tersisa, meskipun sebenarnya mereka juga ingin mendapatkan bagian yang sama.

Persoalan seperti ini mungkin terlihat sepele. Akan tetapi, kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin ia menimbulkan rasa tidak nyaman, membuat hati mengganjal, bahkan menjadi bahan pembicaraan di belakang. Padahal, awal persoalannya hanya karena seseorang kurang memperhatikan hak orang lain ketika makan bersama.

Kalau kita berani menegur, terkadang persoalannya justru bisa menjadi panjang. Namun, kalau terus dibiarkan, rasa kesal bisa tersimpan di dalam hati. Lantas, bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal semacam ini?

Barangkali, salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa hidup bersama membutuhkan ilmu. Sebab, kebiasaan yang baik tidak cukup hanya dilakukan berulang kali, tetapi juga harus disertai pemahaman tentang bagaimana seharusnya kita bersikap. Jangan sampai kita sudah terbiasa makan bersama, tetapi belum terbiasa menjaga hak orang yang makan bersama kita.

Hal ini mengingatkan saya pada penjelasan Syekh Izzuddin bin Abdissalam dalam kitab Syajaratul Ma’arif wal Ahwal, pada fasal Fī al-Inṣāf fī al-Akli (tentang bersikap adil ketika makan) tepatnya di halaman 146.

Beliau menjelaskan tentang anjuran Nabi agar seseorang tidak mengambil makanan melebihi bagian yang semestinya ketika makan bersama. Dalam hadis yang beliau kutip, Nabi            memberikan contoh pembagian makanan secara adil, bahkan ketika makanan tersebut hanya berupa kurma.

Dari penjelasan ini, kita bisa belajar bahwa keadilan tidak selalu berkaitan dengan persoalan besar. Dalam urusan makan pun, kita diajarkan untuk memperhatikan hak orang lain. Jangan hanya memikirkan keinginan diri sendiri, sementara orang yang makan bersama kita juga memiliki hak dan kebutuhan yang perlu diperhatikan.

Maka, ketika kita makan bersama, cobalah belajar mengendalikan diri. Kalau makanan itu untuk empat orang, jangan mengambil bagian seolah-olah hanya kita yang berhak menikmatinya. Kalau kita sudah mendapatkan bagian yang cukup, berilah kesempatan kepada teman yang lain untuk menikmati bagiannya. Sebab, kenyang sendiri bukanlah tujuan dari kebersamaan.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru, sebelum menuntut orang lain agar lebih adil, mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah selama ini kita sudah memperhatikan hak orang-orang yang makan bersama kita?

Barangkali, kita tidak selalu bisa mengubah kebiasaan orang lain melalui teguran. Namun, kita selalu bisa memulai dari diri sendiri. Semoga dari satu nampan yang kita makan bersama, tumbuh kesadaran bahwa kebersamaan bukan hanya tentang duduk dan menikmati makanan yang sama, tetapi juga tentang belajar memberikan hak orang lain sebagaimana kita ingin hak kita dihargai. Wallahu alam bisshawab

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru