Oleh Binti Rohmatin Fahimatul Yusro
Perempuan Harus Selalu Benar?
Perempuan
harus selalu benar? Relate nggak sih? Ahaha. Anggapan seperti ini
tentunya sudah menjadi hal yang sangat familiar. Di berbagai aspek sosial yang
melibatkan bercampurnya laki-laki dan perempuan, seolah laki-laki harus selalu
mengalah, harus selalu mengikuti apa yang menjadi kehendak perempan. Dan ya, Dalam
kehidupan real, perempuan selalu benar, hehe. “Apakah perempuan memang
selalu benar?”
Dalam statement “perempuan
selalu benar”, walaupun seorang perempuan itu tidak memiliki kekuatan sihir
atau kekuatan supranatural yang tidak terbayangkan, perempuan memiliki
fakta-fakta unik. Di antaranya yaitu jika dibandingkan dengan laki-laki,
perempuan lebih unggul dalam menerjemahkan isyarat emosi ataupun kondisi
sekitar. They have ability to see the minds in the eyes guys, so
jika seorang perempuan melihat suatu hal, walaupun belum ada sumber rujukan
yang jelas, walaupun belum terkumpul fakta-fakta yang aktual tajam dan
terpercaya, mereka bisa banget mengambil ‘hipotesis’ yang kemungkinan
besar akan berakhir pada pernyataan ‘benar’.
Alasan saintis yang
menunjang bahwa perempuan selalu benar adalah bahwa “women have double X
chromosemes, high level of estrogen hormone and genetic variants on chromosomes”.
Intuisi seorang perempuan itu kuat, jago banget buat forum ghibah
dengan jargon “ghibah is fakta tertunda”. Walau bagaimanapun, firasat-firasat
yang dimiliki perempuan layaknya tidak diabaikan begitu saja. Setiap perempuan
memiliki jiwa-jiwa intel seperti Mbak Kinan. Apalagi perempuan tersebut
ialah ibu kita. Jikapun tetap ngeyel, seringkali akan berujung pada “harusnya
dengerin apa yang dibilang ibu deh”.
“Perempuan tidak selalu benar kok…”
Perempuan tidak selalu benar, hanya saja kepekaan tinggi
dan jiwa-jiwa ekspresif yang yang dimiliki perempuan selalu mendorong mereka
untuk merasa paling benar. Tentang ‘peka’, dalam sebuah podcast Raditya
Dika, dikatakan bahwa sebenarnya laki-laki itu sebenarnya bukan tidak peka sih,
hanya saja laki-laki sering mengabaikan hal-hal kecil. Dan ketika laki-laki
lupa akan hal kecil tersebut yang menurut perempuan cukup berharga, maka
terjadilah fight yang berkesimpulan “perempuan selalu benar”.
Stigma perempuan selalu benar, terkadang didukung oleh
keputusan laki-laki yang memilih untuk diam. Artinya, stigma ini
mengindikasikan bahwa komunikasi antara laki-laki dan perempuan belum
memunculkan jalan tengah terbaik. Mungkin ada baiknya sih ketika laki-laki
memilih untuk mengalah, yaitu agar tidak menimbulkan perdebatan lebih panjang. Well,
perempuan sebenarnya ingin dimengerti kok. Terlepas dari kepribadian
perempuan yang selalu logis ataupun sebaliknya, setangguh-tangguhnya ataupun
secengeng-cengengnya perempuan, mereka sama-sama selalu ingin dimuliakan,
diistimewakan. PR nih buat laki-laki untuk bisa mencari jurus jitu
menghadapi konsekuensi kebawelan perempuan.
See! Everyone makes mistakes.
Women always right = X
Men always wrong = X
Pondok Pesantren Darun Nun Malang