PERPINDAHAN KAMAR
oleh Zid-ly Auliana
Sekarang kami sudah kelas dua belas, setiap kenaikan kelas ada jadwal perpindahan kamar, kamar diacak oleh guru yang berada di asrama yang biasa disebut dengan ustazah. Data perpindahan kamar ditempel di majalah dinding asrama, aku segera menuju majalah dinding tersebut untuk melihat aku dipindah di kamar mana. Kulihat data perpindahan kamar, aku berada di kamar 177 di lantai tiga bersama Dina, Via, Senja, Cici, Zahra, Anisa, dan Caca. Aku membawa barang-barangku mulai dari seragam, baju bebas, buku, hingga alat mandi menuju kamar 177, begitu pula yang lainnya.
Kami sebelumnya sudah saling kenal namun tidak dekat, sehingga masih saling sungkan. Kami dahulu terpisah antara kamar 103 dan 104, seperti membuat circle sendiri walaupun sebenarnya tidak bermaksud membuat circle. Lambat laun kami juga akan terbiasa dengan suasana.
Hari ini adalah hari Minggu pertama setelah perpindahan kamar, hari biasanya aku mandi sebelum subuh, karena hari ini hari libur jadi aku mandinya agak nanti saja sekitar jam delapan atau sembilan. Namun, teman-teman di kamarku sudah pada mengantre pagi-pagi dan aku mendapat antrean terakhir. Pukul sembilan telah tiba namun kamar mandi kosong, tetapi aku tidak berani masuk, siapa tahu ada antreannya. Kebiasaan teman-teman di kamar mereka antre tetapi jika sudah waktunya masuk mereka malas masuk dan mendahulukan antrean setelahnya. Aku menunggu sambil bermain laptop hingga zuhur tiba, namun sama saja tetap tidak ada yang masuk. Aku berniat masuk setelah salat zuhur nanti karena merasa memang sudah tidak ada antrean, tidak ada yang masuk dari tadi.
Selepas salat zuhur aku segera melipat mukena dan masuk ke kamar mandi. Aku mandi sekalian mencuci baju. Aku keluar kamar mandi, memakai kerudung, dan bergegas menuju lantai dasar ke ruang makan untuk makan siang.
Di bawah aku berpapasan dengan Cici dan Senja. Aku menyapa mereka sambil melambaikan tangan, “Haiii”.
“Habis dari mana?”, tanya Cici padaku.
“Habis mandi di kamar mandi”, jawabku.
“Aku bilangin sesuatu sini”, ucap Cici.
“Sebentar, aku mau mengambil makan dulu”, aku mengambil makanan dengan terburu. Aku kembali dengan rasa penasaran, “Gimana gimana?”.
“Kamu mendahului antrean kamar mandi?”, tanya Senja.
“Mendahului gimana dari tadi aja nggak ada yang masuk”, jawabku.
“Itu tadikan kamu masuk kamar mandi, di luar ada aku sama Senja. Zahra datang tiba-tiba aja nanya ‘Lia itu kalo di kamar 104 dulu memang suka mendahului antrean ta?’ aku sama Senja saling tatap, terus aku jawab ‘enggak, biasanya juga bilang’ terus Zahra diam aja, kayanya membatin sih”, jelas Cici panjang lebar.
Sudah jelas-jelas dari tadi tidak ada yang masuk kamar mandi bisa-bisanya dibilang mendahului antrean, padahal baru saja beberapa hari pindahan kamar sudah dijulidin Zahra.






