![]() |
| Source: New Age |
Oleh
Hilyatus Saadah
Zaman
yang semakin berkembang memaksa kita hidup di era serba digital. Jika kita
tidak memperluas pengetahuan, membuka pikiran, dan menggali informasi sebanyak-banyaknya
tentu kita akan tertinggal dan sukar untuk menilai mana yang baik dan buruk.
Cepatnya kenaikan tingkat digitalisasi melahirkan platform-platform yang
digunakan sebagai sarana atau wadah bagi seseorang untuk kepentingannya sendiri
(oknum tertentu). Lebih khususnya tentang bagaimana dampak ‘wadah’ tersebut
terhadap psikologi seseorang. Mari kita melihat masalah ini dari beberapa
contoh, misalnya media sosial.
Media
sosial menjadi ajang mencari ketenaran yang menimbulkan seseorang cenderung
tidak peduli tentang etika maupun kualitas informasi yang disampaikan. Wadah
ini juga memungkinkan seseorang untuk terbiasa berbohong atau mengesampingkan
fakta karena mengikuti hal-hal yang sedang ramai diperbincangkan tanpa menggali
informasi yang sebernar-benarnya. Mental seseorang juga sangat berkaitan dengan
hal demikian, di mana seseorang bisa menerima fakta namun yang sesuai dengan
ideologi mereka. Bahkan tak sedikit orang membuat komunitas seidiologi itu
sendiri dalam mendukung pemikiran yang mereka kira benar.
Dapat
disimpulkan bahwa masalah penggunaan media sosial dalam masyarakat ini
seseorang cenderung memedulikan emosi atau ideologinya mereka sendiri
dibandingkan fakta objektif dan rasionalitas. Inilah yang disebut dengan
post-truth yakni kebohongan menyamar sebagai suatu fakta. Selain itu, media
sosial juga dapat menimbulkan seseorang lemah kewaspadaan. Jika kita lemah
intuisi akibatnya, seperti pada kasus kenal melalui media sosial jumpa darat
ditipu, diperkosa, dan semacamnya. Memang tidak semua namun hal yang perlu kita
ketahui adalah untuk tetap waspada dan bijak dalam penggunaan platform-platform
yang beredar di masyarakat ini.
Selanjutnya
akan dikupas lebih lanjut teknik-teknik post-truth (fakta menjadi nomor dua,
lebih mengutamakan ideologi atau emosi) yang agresif atau hiperrealitas.
Sederhananya hiperealitas adalah tanda yang dianggap real itu sendiri.
Sebagai perumpamaan ada anak yang memaksa meminta membeli salah satu merk pembalut
kepada ibunya, karena di iklan yang ia lihat di televisi adalah bahwa jika
membeli itu ia bisa berenang dan berkuda. Tanda yang ditunjukkan oleh iklan
malah dianggap hal real itu sendiri oleh anak tersebut.
Adapun
beberapa teknik-teknik post-truth adalah; (1) Deepfakes yakni manipulasi
informasi seakan-akan seperti faktanya video/audio sebagai tujuan untuk
menghancurkan orang, (2) Dunia virtual dibuat nyata, (3) Komunikasi phatique,
yakni yang terpenting adalah menarik perhatian. Sebagai contoh adalah terdapat
iklan dengan gambar penderita aids stadium, (4) Disandingkan dengan biarawati,
sepeti contoh dituntut oleh penderita
aids. Mereka kalah dalam persidangan dan dikenai denda. Motifnya adalah
marketing. Mereka berasumsi bahwa membayar ke stasiun televisi untuk memasarkan
produknya lebih mahal daripada membayar denda di pengadilan. Ini adalah
komunikasi patic, (5) Troll yakni mengedarkan pesan jahil ke forum atau
kelompok untuk memprovokasi penerimanya (6) Skematisasi, yakni penyederhanaan
argument untuk memprovokasi. Sebagai contoh adalah iklan pasta gigi. Iklan di
dalam televisi mengiklankan bahwa pasta gigi ini mengandung fluoride.
Namun, penonton tidak mengerti apa itu fluoride. Dan kita bisa melihat
bahwa sales-sales pasti tidak bilang begitu. Melainkan bilang jika beli pasta
gigi ini maka gigi kamu akan putih seketika. Maka ini yang disebut komunikasi
skematisasi, (7) Weaponization of information, yakni audience
dibuat skeptis, sebagai contohnya adalah penemuan hubungan rokok dengan kanker
paru-paru. Pihak rokok menyewa ahli untuk membuat penelitian lapangan agar
rokok tetap laku. Menyatakan memang benar adanya hubungan kanker paru-paru
dengan rokok tapi ada satu yang masih belum pasti penelitiannya. Jadi pengguna
rokok masih berfikir bahwa penelitian itu belum ada finalnya.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
