Rintik Hujan Air Matamu
Oleh: Muh. Sabilar Rusydi
Aku menolak payung teduh dari rintik belai air matamu
Membiarkan tubuhku basah diguyur duka yang mengalir
Kuresap aliran duka yang menetes dari ujung pipimu
Seolah rintikan hujan ini adalah syair yang tiada akhir
Biarlah menderas hujan, melunturkan kesedihanmu
Tak jenuh kuberdiri dibawah deras tangis yang perlahan meluruh
Dalam tetesan bening tangis, kutemukan bayangmu yang rapuh
Sedang menari dibawah badai, pedih teriris tanpa jeda menentu
Di bawah awang-awang sendu, aku tetap berdiri tegar
Resapan duka merambat bagai akar, menyatu dalam nafasku yang lelah
Kupinta cakrawala kembali terangkai indah dalam seri tiada lagi pudar
Sinar cerah pun tercurah dari sudut matamu yang meluruhkan gundah
Pelangi turut terbit pada lengkungan indah kelopak matamu
Senyum warna warni terlukis anggun dalam barisan bibirmu
Rintikan hujan air matamu meredah, menjelma rupa bahagia
Di balik badai yang diterima, bersemayam keindahan di ujungnya