
Oleh : Ilman Mahbubillah
Dalam waktu pengembaraan di antara gelap dan sebelum cahaya, begitu banyak mimpi yang dilontarkan pada sudut-sudut semesta. Namun kali ini, sebelum matahari kembali menampakkan diri; langitku tak lagi sunyi dengan jeritan tanpa bunyi, ia justru menjadi kesempatan bagi hati untuk merangkai bait puisi. Pada setumpuk aksara, kupilih dan kutata; seandainya tenang bisa ditempuh hanya dengan kenang yang lusuh mungkin terang pun tak perlu menunggu sembuh. Hanya butuh waktu sampai pagi kembali menjamu setelah nestapa sudah berdamai denganmu.
Dalam waktu yang kini tak lagi kukenali suaranya, ada ruang yang masih sangat kupahami diamnya. Pelataran untuk berlutut mengarung doa; menyebut satu nama tanpa sedikit pun curiga, menyambung sukma dengan lembaran ayat-ayat cinta. Sepi yang dulu kunikmati sembari menunggu pagi, luka yang sengaja kubiarkan tetap terbuka, dan rindu yang gejolaknya meminta bertemu. Semua tak lain hanya jadi pelajaran bahwa harapan kadang dicipta bukan untuk terkabulkan.
Dalam waktu sederhana bertajuk semu antara kelam dan bahagia, dua mantra saling bertaut pada pemilik segala rasa. Aku tak tergesa memanggil senja supaya segera memberi malam, pagi pun bisa diatasi meski belum digenapi. Aku hanya menikmati segala yang disajikan semesta dengan lapang; bahwa aroma selepas hujan turun justru menjadi peran yang tak bisa diganti oleh siapa pun. Retak yang tergenang seiring waktu menjadi tempat bagi tumbuhnya berbagai rasa baru.
Dalam waktu yang menjemput usia, baiknya tak ada lagi kecewa yang terbelenggu oleh rahasia dan mengusahakan bahagia bukanlah hal yang sia-sia. Sebab pagi; sebelum benar-benar datang, ia selalu memberi ruang bagi hati yang sudah usang untuk merangkai tenang dengan jiwa yang lapang. Kini harusnya kita paham bagaimana cerita, jika tak diberi jeda berbentuk duka, mungkin manusia akan lupa bahwa bahagia tak lagi punya makna ketika hanya kita yang merasa.
Dalam waktu yang tak lagi dipaksa untuk berbaik hati; kini malam bukan kegelisahan yang harus disudahi. Karena jika semua sesuai dengan yang kita kehendaki, latas bagaimana caranya tuhan mengajari? Harapan yang dulu diperjuangkan bukanlah dihentikan, ia hanya berganti cara untuk terus dilanjutkan, kemudian bertemu dengan harapan baru yang sementara dijadikan sebagai tujuanmu. Jika kamu bertanya apakah bahagia adalah sebuah tenang? Maka carilah jawabnya sebelum pagi benar-benar datang.